Bung Karno dan Sejarah Tren Kopiah Hitam Indonesia

“Ciri khas saya…simbol nasionalisme kami.” begitulah ucap Sukarno dalam buku biografinya yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang ditulis Cindy Adams.

Saat berusia 20 tahun, Bung Karno kecil sedang duduk di belakang tukang sate. Bung Karno tegang. Perutnya mulas. Sambil menahan sakit, Sukarno mengamati banyak kawan-kawannya. Dalam pengamatannya, Bung Karno menilai bahwa kawannya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat.

Hasil itu ia temukan usai perdebatan sengit terjadi di dalam nuraninya. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” tanyanya dalam batin. “Aku seorang pemimpin.” timpalnya lagi. “Kalau begitu, buktikanlah,” balasnya. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”.

Tingkah ‘Putra Sang Fajar’ ini membuar orang-orang ternganga melihatnya. Mereka, kaum intelegensia yang membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Kemudian Bung Karno memecah sunyi.

“Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia. Merdeka,” katanya.

Namun, Bung Karno bukanlah intelektual pertama kali yang menggunakan peci. Salah satu guru Bung Karno, dr Tjipto sudah lebih dulu mengenakkan topi serupa. Pada 1913, dalam rapat Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP), di Den Haag, Belanda, Tjipto sudah mengenakkan kopiah dari beludru hitam.

Pengaruh Bung Karno ternyata begitu luas. Pada pertengahan 1932, dalam Partindo Sukarno melancarkan kampanye memakai barang-barang bikinan Indonesia, termasuk peci lurik. Hingga akhirnya peci atau kopiah hitam kemudian begitu populer.

Kecintaannya kepada peci juga bisa dilihat usai mengunjungi Pondok Pesantren Darul Funun El Abbasiyah (DFA). Sebelum kemerdekaan Inonesia, ia mengunjungi Syekh Abbas Abdullah, pemimpin ponpes tersebut. Kedatangannya untuk bertanya soal Indonesia ke depannya.

Sepulangnya dari sana Bung Karno terlihat sumringah. Ternyata ia mendapat buah tangan favorit dari Syekh Abbas. Sukarno terlihat memakai peci baru yang agak lebih tinggi. (*)



Leave a Reply

Waqaf Foundation: for Education & Society Development