H. Bermawi, ‘Parewa’ yang Tundukkan OPR dan ‘Alumni’ Nusakambangan

KEBERANIAN Haji Bermawi, putra Padangjapang, Kabupaten Limapuluh Kota, terbilang luar biasa. Sosoknya seperti tidak takut menghadang maut. Entah ilmu apa yang dimilikinya. Senjata pun tidak mampu memuntahkan pelurunya saat H. Bermawi berhadapan dengan pasukan berbaju hijau.

Dalam kesehariannya, H. Bermawi adalah warga kampung yang dituakan di lingkungannya, daerah Padangjapang dan sekitarnya. Sebab, ilmu ke-Islamannya sangat disenangi banyak orang.

Selain kemenakan kesayangan Imam Jihad semasa perjuangan melawan penjajah, Syech Abbas Abdullah, H. Bermawi juga gigih belajar pada pendidikan formal yang kini sudah menjadi lembaga pendidikan, DR.H. Abdullah Ahmad, PGAI Sumatra Barat. Dengan bekal itulah, H. Bermawi jadi guru selama bertahun-tahun di lembaga pendidikan Darul Funun di Padangjapang, yang penggeraknya adalah Syech Abbas Abdullah.

Selain itu, H. Bermawi juga salah seorang tokoh tarjih Muhammadiyah Sumatra Barat, seangkatan dengan Tazar Kuran, Mansur Malik, Radhin Rahman, dan tokoh lainnya.

Beragam pemikiran dan dukungan bersumber dari tarjih yang dimotori Alquran dan hadis Rasulullah dikemukakan H. Bermawi bersama kawan segenerasinya demi lebih eksisnya Muhammadiyah dan umat Islam.

Di samping sebagai guru agama dan pentarjih Muhammadiyah Sumatra Barat, H. Bermawi juga seorang petani dan peternak. Ternak sapinya sebanyak 25 ekor dipelihara warga dhuafa binaannya. Dia juga bertani padi, kacang, cabai, dan ternak ikan.

Khusus berkebun cabai, H. Bermawi sangat tekun. Bahkan, sebatang cabai bisa panen satu kilogram. Bayangkan, dua ribu batang cabai dalam sekali masa panen bisa memproduksi sebanyak dua ton. Luar biasa hasilnya. Apalagi, harga cabai terbilang mahal dari dulu sampai sekarang.

Ulama, pentarjih, guru yang disegani, petani, hingga peternak, nyatanya belum cukup dalam keseharian H. Bermawi yang terkenal dengan rezekinya yang murah. Beliau juga pemberani atau istilah populernya, ‘parewa’. Mantan napi yang baru pulang dari penjara Nusakambangan, bernama Saidun Catuak, dilawannya berkelahi. Saidun yang suka melukai orang dengan parang itu ternyata kalah nyali berhadapan dengan H. Bermawi saat akan ‘bakuhampeh’ di jalan depan pesantren Nahdatunnisaiyah Padangjapang.

Masih ada lagi cerita tentang keberanian H. Bermawi. Di saat Sumbar dilanda ‘prahara PRRI’, beragam peristiwa berdarah dihadang H. Bermawi. Beliau pernah menguburkan kepala manusia tanpa jasadnya. Kepala tersebut digantungkan dalam ‘kambuik’ di pekayuan kedai penduduk, di depan gerbang Masjid Raya Padangjapang.

Masih di masa pergolakan PRRI, H. Bermawi juga pernah menurunkan mayat lelaki bernama Main yang digantung tentara OPR di sudut bangunan sebuah sekolah di Pasar Senen Padangjapang. Kuburan Main yang malang tersebut masih bisa dijumpai hingga sekarang di belakang bangunan sekolah itu.

Namun, cerita yang menjadi legenda di tengah-tengah masyarakat padangjapang hingga kini adalah peristiwa hilangnya sebanyak 30 ekor itik H. Bermawi dari dalam kandangnya. Peristiwa itu terjadi juga di masa pergolakan PRRI sekitar tahun 1958-1959. H. Bermawi sudah mencari itik-itiknya itu ke berbagai lokasi yang dicurigai, namun tidak kunjung ditemukan.

Karena firasat H. Bermawi yang begitu tajam, Beliau terus mencari itiknya yang hilang itu. Pencariannya tidak sia-sia. Ternyata, 30 ekor itik itu ditemukan di rumah seorang perempuan bernama Nubai Sikumbang, yang anaknya adalah Komandan OPR di Kecamatan Guguk, Limapuluh Kota.

Meski di sekitar rumah itu banyak tentara OPR bersenjata, namun H. Bermawi tidak ditembak. Padahal, situasi saat itu sangat memungkinkan ‘menyudahi’ H. Bermawi. Apalagi, negeri dalam keadaan darurat perang. Tentara OPR terkenal dengan keganasannya. Namun, senjatanya bungkam kala berhadapan dengan H. Bermawi. H. Bermawi berhasil membawa pulang ke-30 ekor itiknya itu tanpa sebutir peluru pun ditembakkan dan tanpa luka segores-pun.

Ada lagi kisah lainnya. Pada hari Jumat, Jorong Padangjapang berhasil dikuasai APRI dan rakyat diberi pilihan, mengungsi ke rimba atau masuk ke daerah yang sudah dibebaskan. Pada saat itu, H. Bermawi dijemput mertuanya yang bernama Usman Engku nan Bulek.

Akhirnya, Padangjapang dikosongkan. Rakyat memilih lokasi pengamanan masing-masing, kebanyakan pindah ke jorong tetangga: Ampanggadang dan Talago. Di saat itulah terjadi peristiwa ‘luar biasa’ yang belum pernah terjadi selama ini, yakni tidak ada pelaksanaan ibadah Salat Jumat.

Begitu terkenalnya sosok H. Bermawi yang bermukim di Padangjapang berjarak sekitar 140 kilometer dari Padang. Suatu ketika, pernah penulis bercengkrama dengan seorang perwira polisi di ibuprovinsi dan perwira itu menanyakan kepada penulis, “tahukah saudara dengan H. Bermawi? Dia adalah guru saya,” kata polisi itu.

“H. Bermawi itu hebat. Ilmunya luar biasa. Pemberani, tawaddhu’, hidupnya sejahtera lahir dan bathin,” kata polisi itu yang mengenal H. Bermawi saat dia bertugas sebagai Kapolsek Guguk, Limapuluh Kota.

Kini H. Bermawi sudah tiada. Berpulang ke Rahmatullah tujuh tahun lalu dalam usia 82 tahun di RSUP M. Djamil Padang dan dimakamkan di Padangjapang. Beliau meninggalkan dua anak, lima cucu, dan delapan piut. *

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/adibermasa/h-bermawi-parewa-yang-tundukkan-opr-dan-alumni-nusakambangan_58909a42a3afbd5f09c9419c



Leave a Reply

Waqaf Foundation: for Education & Society Development