Tak Ada Yang Suruh

Selepas Rushfa (6yr) memasak, Hanna pun minta memasak, ya Hanna (5yr) masak Telur Dadar (didampingi Head Chef Abah tentunya), Omar (2yr) gak mau kalah, digeser-gesernya kakaknya untuk ikutan goreng bawang.

Pagi ini kami pun tersenyum, Hanna sukarela mencuci piring.

Saya teringat bagaimana dulu mak saya mengajarkan cuci pinggan di usia dini ini, karena kaki tidak sampai ke tempat cuci pinggan, jongkoklah saya diatas tempat cuci pinggan itu, dan abang saya bagian letakkan pinggan bersih. Dan memori itu masih tersimpan, mungkin ada bumbu rotan yang saya tidak teringat 😛

Apapun itu, nampaknya sukarela itu ada karena semua mencoba mengambil peranan. Mungkin ini solusi atas pandangan saya tidak terlalu nyaman dengan PRT, lebih baik rumah sedikit berantakan tetapi tidak ada privacy atau pihak yang teraniaya dan dipersalahkan, semua yang dirumah pun juga paham dan menjadi evaluasi, mungkin waktu dirumah kurang, atau aktifitas dirumah yang terlalu serius sampai lupa untuk beres-beres.

Saya banyak belajar dari budaya kawan-kawan lokal disini, kawan saya si White British berkata “kamu Indonesian/Malaysian harus belajar hidup dengan tangan sendiri, karena kami sudah hidup seperti ini sejak lama (tanpa PRT, Keluarga Kecil).

Mudah-mudahan masih banyak lagi yang bisa dipelajari dan di share.

___
Jika tidak “berjalan” bersama-sama, masing-masing tidak membutuhkan satu sama lain, satu dengan yang lain tidak memerlukan apa yang dimiliki yang lainnya. Sehingga “berjalan” bersama berarti mengelola keunggulan dirinya, dan perbedaan menjadikan mereka bersama. (narasi dari film: Omar Al-Khattab)



Leave a Reply

Waqaf Foundation: for Education & Society Development