Syekh Zainuddin Hamidy

(1905-1985)

Haji Zainuddin Hamidy lahir di Koto Nan IV Payakumbuh pada tanggal 8 Februari 1907. Anak dari Abdul Hamid dan Halimah. Putra kedua dari dua orang bersaudara, Kakaknya bemama Nahrawi, istri dad Imam Mukhtasar, seorang ulama terpandang didaerahnya. Masa kecil dihabiskan Zainuddin Hamidy di kampung halamannya. la tumbuh dari keluarga yang tidak begitu religius. Bahkan ayahnya dianggap seorang Pareman. Tapi faktor lingkungan clan keuletannya dalam menuntut ilmu, membuat Zainuddin Hamidy kelak dikenal sebagai seorang ulama yang cukup berpengaruh. Disamping melewati pendidikan non-formal tradisional yakni surau, Zainuddin Hamidy juga menempuh pendidikan formal. Selama lima tahun, ia sekolah di sekolah Governement di Payakumbuh.

Setelah tamat dari sekolah ini, Zainuddin Hamidy memasuki sekolah Darul Funun el-Abbasiy di Padang Japang. Madrasah Darul Funun ini menapakan sebuah lembaga pendidikan yang telah mengalami perubahan baik dalam sistem pendidikan maupun dalam fasilitas yang digunakan. Sekolah ini telah memakai sistem klasikal dan para muridnya telah beiajar dengan mempergunakan fasilitas bangku, meja dan berpakaian rapi seperti memakai kemeja, dasi dan jas. Di Madrasah darul Funun ini, Zainuddin Hamidy belajar ilmu tafsir, hadits, Bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Zainuddin Hamidy dikenal sebagai murid yang cerdas. Hal ini terbukti, ketika ia duduk di bangku terakhir (kelas akhir. ed.), ia dipercaya untuk mengajar di kelas lima. Karena kepintarannya ini, pimpinan Madrasah Darul Funun Padang Japang, Syekh Abdullah Abbas menyuruh dan merekomendasikan Zainuddin Hamidy untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah. Sebelum berangkat ke Mekkah, Zainuddin Hamidy terlebih dahulu menikah dengan Rahmah. Kelak, dari Rahmah Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak. Anak Syekh Haji Zainuddin Hamidy dengan Rahmah ini diantaranya adalah Prof. DR. Abdurrahman, MA (Dosen Pasca Sarjana FISIP Universitas Indonesia) dan Ramzi Zainuddin (pimpinan Yayasan Ma’had Islamy Koto Nan IV Payakumbuh sekarang).

Dengan meninggalkan istrinya tercinta, Rahmah, Zainuddin Hamidy berangkat ke Mekkah. Di kota ini ia melaksanakan rukun Islam ke-lima. Setelah itu, ia menuntut ilmu agama di salah satu perguruan terkenal masa itu, Ma’had Islamy. Zainuddin Hamidy merupakan orang Indonesia pertama yang sekolah di perguruan ini. Di perguruan ini ia belajar beberapa tahun. Setelah merasa cukup waktu dalam menuntut ilmu agama, Zainuddin Hamidy pulang ke kampung hafamannya dalam usia yang relatif muda. Setelah sampai di Payakumbuh, beliau kemudian menikahi Desima Jasin. Dengan Desima Jasin ini, Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak yang sekarang pada umumnya berdomisiii di pulau Jawa. Di kampung halamannya, Minangkabau, Zainuddin Hamidy kemudian mencurahkan pemikirannya dalam dunia pendidikan clan keagamaan.

Pembaharuan di Indonesia, khususnya di Minangkabau banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Syekh Ahmad Khatib al¬Minangkabawi, Pembaharuan pemikiran ini tidak dibawa secara iangsung oleh Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang berdomisili secara permanen di Mekkah, tapi pemikirannya tersebut ditransformasikan lewat murid-muridnya yang belajar di Mekkah. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dalam sejarah intelektual clan pembaharuan Islam Indonesia, khususnya Minangkabau, dianggap sebagal ulama yang mempunyai kontribusi signifikan dafam menghembuskan “angin” pembaharuan ke Minangkabau. Diantara murid-muridnya yang pulang dari Mekkah dan kemudian dikenal sebagai ulama-ulama avant garde Minangkabau diantaranya Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Muhammad Thaib Umar, Syekh Abdullah Ahmad dan Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) yang kemudian nama-nama diatas tersebut dikenal dengan julukan Empat Serangkai. Selain empat serangkai ini, juga dikenal Syekh Sulaiman ar-Rasuli, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Abdul Latief, Syekh Abbas dan Syekh Mustofa, Syekh Ibrahim Musa, Syekh Sutan Darab dari Pariaman, Syekh Khatib AIi dan lain-lain. Di Minangkabau, mereka ini mempelopori pergerakan pembaharuan Islam. Mereka mendirikan perkumpulan-perkumpulan, baik yang bergerak dalam lapangan pendidikan maupun yang bergerak dalam bentuk organisasi-organisasi sosial. Diantara lembaga-lembaga pendidikan yang berdiri pada masa ini diantaranya Sekolah Adabiyah, Surau Jembatan Besi yang kemudian berubah menjadi Sumatera Thawalib, dan Madrasah Thawalib di Padang Japang.

Dinamika pemikiran pembaharuan di Minangkabau juga “berputar” daiam arena politik. Sumatera Thawalib yang pada awalnya bergerak dalam dunia pendidikan, kemudian melebarkan pengaruhnya dalam dunia politik dengan turut serta sebagai kontributor berdirinya Permi. Syekh Abbas Abdullah sebagai pimpinan Madrasah Thawalib Padang Japang tidak berniat masuk dafam kancah politik tersebut. Untuk itu beliau menukar nama lembaga pendidikan yang dipimpinnya ini menjadi Madrasah Darul Funun el-Abbasiy. Setelah kembalinya Syekh Haji Zainuddin Hamidy dad Mekkah, ia kemudian mendedikasikan ilmunya pada Madrasah tempat pertama ia menuntut ilmu yang Madrasah tersebut telah berganti nama dengan Darul Funun yang kemudian mendirikan lembaga pendidikan Islam Ma’had Islamy di Koto Nan IV Payakumbuh. Ma’had islamy merupakan lembaga pendidikan Islam yang awainya bernama Diniyyah School. Pengambilan nama Ma’had Islamy ini dilatarbelakangi oleh romantisisme Syekh Haji Zainuddin Hamidy ketika ia menuntut ilmu di perguruan Ma’had Islamy Mekkah.

Di Ma’had Islamy ini, sejak tahun 1933, Syekh Haji Zainuddin Hamidy banyak melakukan inovasi-inovasi. Inovasi tersebut dilakukannya secara bertahap. Inovasi yang dilakukan selain merubah sistem pendidikan dan pengajaran dad halaqah menjadi klassikal, juga dilakukan pembangunan gedung Ma’had Islamy. Syekh Haji Zainuddin Hamidy juga giat dalam mengembangkan jumlah sekolah. Pada tahun 1933 ini juga, ia mendirikan sekolah tingkat Tsanawiyah sebagai lanjutan dari tingkat ibtidaiyah. Dengan bermunculannya sekolah-sekolah pemerintah yang didirikan oieh pemerintah kolonial Belanda, Syekh Haji Zainuddin Hamidy memasukkan pelajaran-pelajaran umum ke sekolah Ma’had Islamy. Pelajaran yang diberikan disamping pefajaran agama juga dipelajari pelajaran umum dengan bahasa pengantamya Bahasa Arab. Pelajaran tersebut diantaranya adalah geografi, ilmu pendidikan dan sejarah Islam.

Berkat kepemimpinan Syekh Haji Zainuddin Hamidy, Ma’had Islamy berkembang pesat. Secara kuantitatif hal ini terlihat ketika tahun 1936, pelajar-pefajar yang menuntut ilmu di Ma’had Islamy semakin bertambah. Banyaknya pelajar-pelajar tersebut hingga perlu dilakukan penambahan gedung yang memadai, Penambahan gedung yang memakan biaya yang cukup banyak ini bisa diatasi karena banyaknya sumbangan dar’t masyarakat Minangkabau, khususnya masyarakat Payakumbuh. Hal ini merefleksikan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat Minangkabau, khususnya Payakumbuh terhadap Syekh Haji Zainuddin Hamidy sangat tinggi.

Pada tahun 1940, gedung baru yang didanai secara sukarela dan patungan oleh masyarakat ini, selesai dibangun. Gedung baru ini berjumlah 10 lokal. Mayoritas permanen, Setelah gedung baru ini tuntas dibangun dan diresmikan pemakaiannya, pada tanggal 13 Februad 1941 terjadi angin puting beliung yang merobohkan gedung yang baru dibangun tersebut. Kesedihan kemudian menghinggapi hati masyarakat dan para pengurus Ma’had Islamy, dan tak terkecuali Syekh Haji Zainuddin Hamidy. Untuk menenangkan hati masyarakat clan pengurus, Syekh Haji Zainuddin Hamidy berusaha untuk tampil tabah clan selalu mengatakan : “Asa Rabbuna an Yubdillana Khairan Minha : semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik dari yang ini. Dibawah komando Syekh Haji Zainuddin Hamidy, mereka mulai kembali membangung gedung yang roboh tersebut. Untuk merealisasikan keinginan ini, maka dibentuk panitia pembangunan gedung baru. Panitia ini diketuai oleh Fakhruddin HS. Gt. Madjo Indo, Ahmad Hamid Ibrahim, Arbi, Kari Lazim clan lain-lain, 8erkat kerja keras panitia dan dukungan dari masyarakat, pada tahun 1942, gedung baru ini selesai dibangun. Dengan adanya gedung baru ini clan dukungan finansial yang lumayan memadai, Syekh Haji Zainuddin Hamidy bisa mengerahkan segala kemampuannya untuk mencurahkan ilmu agama tanpa memikirkan kendala-kendala teknis. Syekh Haji Zainuddin Hamidy pun bisa tenang mentransformasikan iimunya tersebut kepada pelajar-pelajar Ma’had Islamy. Dad tahun ke tahun, Ma’had Islamy berkembang dan pelajar-pelajar yang menuntut ilmu disana makin bertambah.

Pada masa penjajahan Jepang, tantangan yang dihadapi oleh Syekh Haji Zainuddin Hamidy dan Ma’had Islamy sangat berat sekali. Sekolah hanya tiga kali sehari. Hari lain diisi dengan gotong royong dan kerja paksa untuk kepentingan Jepang. Selain itu, yang sangat menyakitkan adalah kewajiban untuk melakukan Seikere’ (hormat ke Kaisar Jepang “Tenno Naika” dengan menghadap kearah matahari terbit) clan berkumpul dilapangan untuk menyanyikan lagu Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang. Disamping itu, Jepang juga melakukan intervensi kedalam dunia pendidikan dengan mewajibkan Bahasa Jepang menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah. Realitas seperti inilah yang dilalui oleh Syekh Haji Zainuddin Hamidy dalam membina Ma’had Islamy. Intervensi Jepang tersebut mengarah kepada penggerogotan akidah. Ini sebenamya sangat disadari oleh Syekh Haji Zainuddin Hamidy. Namun Syekh Haji Zainuddin Hamidy tidak ingin mengambil jafan konfrontatif yang bersifat frontal. Untuk itu, dalam berbagai kesempatan beliau selalu mengatakan dan mengingatkan kepada masyarakat terutama pelajar¬peiajar Ma’had Islamy bahwa pelaksanaan seikere’ dan menyanyikan lagu kimigayo agar kita lakukan ini bukanlah dari hati clan keyakinan kita tetapi kita lakukan karena terpaksa.

Kewibawaannya dan perhatiannya serta daya improvisasi nya dalam mengembangkan lembaga pendidikan Ma’had Islamy terus terlihat hingga Indonesia merdeka. Hal ini terlihat ketika tahun 1950 Syekh Haji Zainuddin Hamidy membuka Sekolah Menengah Pertama Islam yang disingkat dengan SMPI. Kurikulum SMPI disesuaikan dengan kurikulum sekolah-sekolah umum yang kemudian ditambah dengan pendidikan agama. Dengan didirikannya SMPI ini mempertihatkan bahwa Syekh Haji Zainuddin Hamidy mampu membaca clan merespon zaman”. Ma’had Islamy – bagaimanapun bentuk, corak, pola maupun dinamikanya — telah menjadi “pemain sejarah” inteiektual Minangkabau. Lembaga ini telah mampu menjadi kontributor potensial dalam melahirkan intelektual-intelektual terkemuka Minangkabau. Sekarang ini banyak dikenai tokoh-tokoh 5umatera Barat yang merupakan “buah tangan” dan anak didik dari Syekh Haji Zainuddin Hamidy. Tokoh-tokoh Sumatera Barat tersebut diantaranya C. Israr (intelektual Minang kabau), Arius Syaikhi (pakar ilmu falak Indonesia), Prof.DR.H. Mansur Malik (mantan Ketua MUI Sumatera Barat mantan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang) dan lain-lain. Walaupun tidak semaju dan selegendaris Ma’had Islamy ketika dibawah pimpinan Syekh Haji Zainuddin Hamidy, tapi Ma’had Islamy masih eksis hingga sekarang. Ma’had Islamy sekarang dipimpin oleh salah seorang putra Syekh Haji Zainuddin Hamidy, Ramzi Zainuddin.

Syekh Haji Zainuddin Hamidy pada masa sebelum kemerdekaan, termasuk kedalam “kelompok lima”. Sebuah kelompok pergerakan yang cukup legendaris di Payakumbuh. Kelompok ini merupakan sebuah kelompok intelektual yang selalu mendiskusikan perkembangan-perkembangan dan mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk kemerdekaan Indonesia. Selain Syekh Haji Zainuddin Hamidy, kelompok lima ini terdiri tokoh-tokoh terkemuka Payakumbuh pada waktu itu, yaitu : Fakhruddin HS. Datuk Majo Indo, Arisun St. Alamsyah, Haji Nasharuddin Thaha dan Haji Darwis Taram Dt. Tumanggung. Setelah kemerdekaan, Syekh Haji Zainuddin Hamidy dipercaya menjadi Ketua Komite Nasional (KNI) Kabupaten 50 Kota. Bersama-sama dengan tokoh-tokoh masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya, mereka terjun ketengah-tengah masyarakat untuk melakukan penyadaran terhadap esensi kemerdekaan serta mempertahankan kemerdekaan itu sendiri. Dengan semangat yang menggelora, Syekh Haji Zainuddin Hamidy menyediakan gedung Ma’had Islamy sebagai pusat pertemuan para tokoh Payakumbuh clan juga sebagai tempat iatihan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) serta laskar-laskar perjuangan. Disamping itu, Syekh Haji Zainuddin Hamidy juga giat turun ke berbagai daerah untuk mengumpulkan dana dalam rangka membeli pesawat terbang yang kemudian dikenal dengan “Dana Emas Perjuangan”. Pada saat terjadinya ketegangan antara daerah dengan pemerintah pusat, Syekh Haji Zainuddin Hamidy menjadi tokoh kunci dalam proses penyelesaian konflik tersebut. Beliau diutus ke Jakarta untuk berunding dengan Presiden Soekamo sebagai utusan dari Sumatera Tengah bersama dengan beberapa orang teman-temannya. Dalam partai politik, Syekh Haji Zainuddin Hamidy juga aktif. Beliau pemah menjabat Ketua Masyumi Kabupaten 50 Kota. Di partai politik yang dibidani oleh Muhammad Natsir inilah, Syekh Haji Zainuddin Hamidy mencurahkan secara maksimal kontribusi politiknya sampai beliau wafat pada tahun 1957.

Meninggalnya Syekh Haji Zainuddin Hamidy membuat Sumatera Barat berkabung. Masyarakat, khususnya masyarakat Payakumbuh merasa kehilangan tokoh yang seluruh hidupnya didedikasikannya untuk kemajuan pendidikan dan kemashlahatan ummat Islam Sumatera Barat. Kehilangan masyarakat Sumatera Barat, khususnya Payakumbuh terlihat pada prosesi penguburan jenazah beliau. Menurut Arius Syaikhi, belum pernah terjadi di-Payakumbuh begitu banyak orang mengantarkan jenazah ke pekuburan selain ketika Syekh Haji Zainuddin Hamidy diantarkan ke tempat peristirahatannya terakhir. Ribuan masyarakat Payakumbuh mengiringi jenazah salah seorang putra terbaik Minangkabau ini. Beberapa karya tulisnya, antara lain : Terjemahan a!-Quranul Karim, merupakan tafsir al-Quran pertama di Indonesia yang dikarangnya bersama-sama dengan Fakhruddin HS. Kemudian, Terjemahan Shahih Bukhari, Beliau karang bersama dengan Darwis Z. dan Fakhruddin HS., Terjemahan Hadits Arba’in dan Musthala’ah Hadits.

(c) Tim Peneliti FIBA IAIN Padang



Leave a Reply

Waqaf Foundation: for Education & Society Development