All posts by Admin

CALL FOR PAPER 4TH INTERNATIONAL CONFERENCE ON FATWA STUDIES 2019

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengundang para penulis, peneliti, maupun peminat studi seputar fatwa-fatwa MUI berpartisipasi dengan mengirimkan naskah makalahnya untuk diseminarkan dalam 4th MUI Annual Conference on Fatwa Studies yang dilaksanakan oleh MUI Pusat pada 24-26 Juli 2019. Peserta dengan makalah terpilih akan diundang menjadi pembicara.

Tema utama 4th MUI Annual Conference on Fatwa Studies adalah
The role and challenges of MUI’s Fatwa’s in The Global Era

(Peran dan Tantangan Fatwa MUI di Era Global)

Sub Tema:
-Kelembagaan dan Metodologi Fatwa
-Fatwa Aqidah dan Ibadah
-Fatwa Ekonomi Syariah
-Fatwa Sosial Kemasyarakatan dan Produk Halal

Kirimkan naskah terbaik anda melaui email komisi.fatwamui@gmail.com paling lambat 3 Juli 2019
Ketentuan naskah antara lain:

-Tulisan sesuai dengan topik pembahasan
-Menggunakan berbahasa Indonesia, Inggris, atau Arab.
-Tulisan bisa bersumber dari tesis, disertasi, atau karya tulis dalam dua tahun terakhir.
-Tulisan dibuat dalam bentuk Ms. Word, ukuran kertas A4, Times New Roman ukuran 12, Spasi 1, margin atas-kiri-bawah-kanan (4,4,3,3) dengan jumlah halaman maksimal 15 halaman.

Pengumuman Pemakalah Terpilih 11 Juli 2019

Kontak Person
Miftah (0813 1501 3903)



Rakerda MUI Sulsel: Pantau Paham Keagamaan dan Gerakan Radikal

Sulawesi Selatan – Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan yang dilaksanakan di Pantai Wisata Topejawa, Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu (15/06) menghasilkan beberapa rekomendasi. Salah satu rekomendasinya adalah perlunya sinergitas dengan pemerintah daerah untuk melakukan pemantauan terhadap paham-paham keagamaan dan gerakan radikal yang sering meresahkan masyarakat.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Amirsyah Tambunan yang hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa MUI Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sulsel perlu melakukan sinergitas dengan pemerintah daerah untuk memantau paham keagamaan dan gerakan radikal yang meresahkan masyarakat.

“Pengurus MUI Provinsi dan Kabupaten/Kota khususya bidang Penelitian dan Pengkajian MUI agar aktif melakukan kegiatan pengkajian serta bersinergi dengan pemerintah untuk menanggulangi munculnya paham-paham keagamaan menyimpang, seperti gerakan Tajul Khalwatiah Puang La’lang Kabupaten Gowa, juga gerakan radikal,” katanya melalui keterangan tertulis.

Lebih lanjut Amirsyah menekankan MUI Sulses perlu memaksimalkan pelayanan kepada umat sekaligus menjadi perekat antara ulama dan masyarakat sehingga tercipta tatanan kehidupan yang aman, kondusif, dan harmonis.

Dalam Rakerda tersebut, MUI Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sulsel akan mendukung penuh pemberlakuann UU No 33 Thun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan Perda Halal yang sementara digulirkan pemerintah daerah.

Rakerda juga merekomendasikan perlunya program sosialisasi kepada masyarakat luas tentang program Ramah Anak dan mempelopori Gerakan Cium Tangan Guru sebagai bagian dari pembentukan karakter anak bangsa.

Rapat Kerja Daerah MUI Sulsel tereebut mengangkat tema “Penguatan Peran Ulama dalam Memperkokoh Persatuan Sebangsa”. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan acara Halal bi Halal Pemda Takalar bersama Peserta Rapat Kerja Daerah MUI Sulsel. (Azhar/Thobib)



Ini Rekomendasi-Rekomendasi Hasil Rakerda MUI Sulsel

JAKARTA—Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan Rapat Kerja Daerah bertema “Penguatan Peran Ulama dalam Memperkokoh Persatuan Sebangsa” di Pantai Wisata Topejawa, Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu (15/06). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan acara Halal bi Halal Pemda Takalar bersama Peserta Rapat Kerja Daerah MUI Sulsel. Wakil Sekretaris Jenderal MUI, KH Amirsyah Tambunan, hadir dalam kegiatan tersebut mewakili MUI pusat.

KH Amirsyah, mengatakan Rakerda tersebut melahirkan berbagai rekomendasi. Rekomendasi pertama, paparnya, MUI Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sulsel harus memaksimalkan pelayanan kepada umat. MUI, imbuhnya, harus menjadi perekat antara ulama dan perekat antara masyarakat sehingga tercipta tatanan kehidupan yang aman, kondusif, dan harmonis.

“Kedua, Pengurus MUI Provinsi dan Kabupaten/Kota khususya bidang Penelitian dan Pengkajian MUI agar aktif melakukan kegiatan pengkajian dalam rangka menemukan akar masalah tentang munculnya paham-paham keagamaan yang menyimpang,” katanya kepada MUI.OR.ID di Jakarta, Sabtu (22/6)

Dia melanjutkan, MUI juga harus membangun sinergitas dengan pemerintah dalam memantau dan mengawasi paham-paham keagamaan dan gerakan radikal yang sering meresahkan masayrakat seperti gerakan Tajul Khalwatiah Puang La’lang Kabupaten Gowa dan mencoba memberikan solusi yang menyerahkan dengan tetap mengcau pada ftwa Majelis Ulama Indonesia tentang aliran yang menyimpang.

MUI Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sulsel, katanya, juga butuh sekretariat yang representatif untuk memaksimalkan pengabdian kepada masyarakat sebagai khadimul ummah dan raiyatul ummah.

“Pengurus MUI Provinsi dan Kabupaten Kota harus kreatif dan inovatif dalam menciptakan sumber keuangan dengan mendirikan amal usaha sehingga kemandirian keuangan organisasi dapat tercipta dengan baik,” katanya.

Dalam Rakerda tersebut, MUI Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sulsel akan mendukung penuh pemberlakuann UU No 33 Thun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan Perda Halal yang sementara digulirkan pemerintah daerah. “Untuk menciptakan kawasan dan wisata halal sekaligus menjadi pioner pola hidup halal di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Terakhir, ungkapnya, MUI Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sulsel harus memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang program Ramah Anak dan mempelopori Gerakan Cium Tangan Guru sebagai bagian dari pembentukan karakter anak bangsa. (Azhar/Nashih).



Gelar Halal Bihalal, MUI Tekankan Urgensi Persatuan Umat Islam

JAKARTA— Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar halal bihalal pada Selasa (18/06) di Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin, menegaskan saat ini yang harus menjadi perhatian semua pihak adalah menyatukan umat atau tahidul ummah. Idul Fitri, imbuhnya, tidak hanya dirayakan sebagai hari kemenangan setelah melalui puasa sebulan penuh, namun lebih dari itu juga momen untuk saling memaafkan.

“Karena itu kita harus saling memaafkan di antara kita. Sebab bila tidak saling memaafkan, tidak akan selesai,” ujar Kiai Ma’ruf saat menyampaikan pesan halal bihalal.

Kiai Ma’ruf melanjutkan bahwa ciri orang bertakwa adalah orang yang bisa mengendalikan amarah dan memaafkan pada hakikatnya adalah ciri pengendalian amarah itu.

Dia mengatakan mengendalikan marah dengan tidak boleh marah itu berbeda. Setiap orang, paparnya, pasti mempunyai sifat dan rasa.marah namun dia harus mengendalikan kemarahannya. “Yang harus itu mengendalikan marah itu. Dan memberikan maaf kepada orang,” katanya.

Kiai Ma’ruf berharap bahwa apa yang sudah terlewat dan terjadi, maka sebaiknya dibiarkan saja terjadi. Termasuk pembahasan mengenai persoalan capres-cawapres yang begitu menyita energi umat.

Dia menambahkan, umat sebetulnya sudah memiliki pedoman dalam menyikapi masalah perbedaan dengan mengedepankan sikap toleran atau tasamuh. Selama sebuah masalah belum bersinggungan dengan sesuatu yang menyimpang dari kesepakatan umum, maka sikap tasamuh tersebut wajib dikedepankan.

“Kita sudah punya pedoman, bahwa kita dalam menyikapi perbedaan harus bersikap tasamuh, toleran, kecuali dalam sesuatu yang mujma’ alaih (disepakati bersama), menyimpang dari yang disepakati,” katanya. “Apa yang sudah selesai, selesailah.

Lakum capresukum walana capresuna. Dan kita kembali minal a idhin, kembali kepada kebersihan kepada fitrah, dan kembali juga kesatuan,” kata dia. (Azhar/ Nashih)



MUI Lebak Minta Elite Politik Hormati MK

LEBAK— Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak, Provinsi Banten meminta para elite politik mempercayakan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum/PHPU Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang saat ini tengah berlangsung ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Kita berharap para elite politik dapat menahan diri dan tidak mengeluarkan komentar-komentar yang memprovokasi dengan tidak mempercayai lembaga MK itu,” kata Wakil Ketua MUI Kabupaten Lebak, KH Akhmad Khudori, saat dihubungi, di Lebak, Rabu (19/6).

Dalam persengketaan PHPU Pilpres 2019 diharapkan para elite politik dapat mempercayakan 100 persen ke MK sebagai lembaga negara untuk menyelesaikan keputusan proses hukum baik bagi pemohon maupun termohon dan pihak terkait.

Dia mengatakan MUI Kabupaten Lebak mendukung sengketa Pilpres 2019 diproses secara hukum ke MK untuk mencari keadilan, mengingat Indonesia merupakan negara hukum, sehingga permasalahan sengketa PHPU bisa diproses secara hukum di MK. Begitu pula pemohon, termohon, dan pihak terkait, para elite politik maupun pendukung kubu pasangan capres nomor 01 dan nomor 02 harus menerima keputusan MK.

Menurutnya, apabila MK itu memutuskan proses hukum maka hormati keputusan tersebut. Para pendukung capres dan cawapres yang kalah tentu harus menerima kekalahannya.

“Kekalahan itu harus diterima dan jangan sampai membuat konflik maupun kerusuhan antarkelompok pendukung kedua pasangan capres-cawapres,” katanya lagi.

Menurut dia, kontestasi Pilpres 2019 yang diikuti dua pasangan capres-cawapres yaitu pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno merupakan anak bangsa yang ingin memajukan bangsa Indonesia.

Dia mengingatkan para elite politik maupun pendukungnya harus menerima kekalahan jika MK memutuskannya. “Kita kembalikan bangun bangsa ini agar menjadi baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur atau negara yang aman dan sejahtera,” katanya pula.

MUI berharap sidang sengketa PHPU Pilpres 2019 di MK berjalan lancar dan berlangsung tertib. Begitu juga aparat keamanan dapat memberikan jaminan penuh keamanan agar tidak menimbulkan kericuhan di Jakarta.

Masyarakat Indonesia menginginkan kembali kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman, damai dan tertib tanpa terjadi konflik. “Kita perlu membangun pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” katanya pula. (Antara/ Nashih)



Sekjen MUI Ingatkan Penceramah Muslim dan Non-Muslim Taati Kode Etik

JAKARTA— Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, mengingatkan semua penceramah Muslim maupun non-Muslim harus mematuhi kode etik saat menyampaikan ceramah atau ajaran agama. Pernyataan ini disampaikan, menanggapi polemik penolakan Ustaz Firanda Andirja Abidin oleh umat Islam di Aceh, beberapa waktu lalu.

Dia juga mengingatkan agar setiap pendai wajib menyampaikan ajaran yang benar dan tidak mengada-ada. “Semua penceramah entah itu Islam atau bukan, pasti punya kode etik dan sesuai kebenaran. Kalau dia menyampaikan hal bohong, ya hukuman yang pasti dia terima adalah hukuman dari Tuhan. Tapi, kalau dia menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan hukum negara, ya, negara yang akan menindak,” ujar Anwar Abbas, di Jakarta, Selasa (18/6). “Oleh Karena itu, setiap penceramah yang berbicara harus memperhatikan rambu-rambu yang diatur dalam agama ataupun negara,” kata dia.

Dia menyebutkan, berdasarkan definisi Islam wasathiyah menurut MUI, terdapat 10 karakter dasar dalam berdakwah, yakni tawasuth (mengambil jalan tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), i’tidal (lurus dan tegas), musawah (egaliter non-diskriminasi), syura (musyawarah), awlawiyah (mendahulukan yang prioritas), islah (reformasi), tahaddhur (berkeadaban), dan tathawur wal ibtikar (dinamis, kreatif dan inovatif).

“Itulah yang diinginkan oleh MUI tentang penerapan Islam wasathiyah,” kata Abbas sembari menambahkan bahwa Islam inilah yang akan membawa manfaat dan rahmat bagi seluruh alam. Ajaran ini juga yang sesuai dengan Alquran dan sunah. (Republika/ Nashih)



MUI Minta Pemerintah Buka Komunikasi Luas Cegah Redakalisme

JAKARTA— Majelis Ulama Indonesia meminta pemerintah membuka ruang komunikasi seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mencegah terjadinya radikalisme.

“Kalau ada permasalahan, pemerintah juga harus mengatur bagaimana melakukan komunikasi, membuka kesempatan seluas-luasnya berkomunikasi kepada masyarakat,” kata Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Abdullah Jaidi, saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan dengan kesempatan komunikasi yang luas tersebut justru membuat masyarakat memiliki tempat untuk menyampaikan sesuatu yang kurang berkenan dengan haknya sebagai warga negara.
Menurut Jaidi, ada tiga penyebab utama yang menjadi penyebab radikalisme di masyarakat, yakni pemahaman, struktur sosial politik, dan keadilan.

Dia menjelaskan, pemahaman ini dipicu oleh pemahaman yang radikal, ekstrem yang tidak mengenal toleransi baik di dalam pemahaman perjuangan.

Terkait pemahaman ini, lanjutnya, pemerintah harus jeli melihat kondisi dari berbagai masyarakat, terutama di kalangan kampus. “Ini sudah sering kami sampaikan dalam berbagai kesempatan,” katanya.

Jaidi mengatakan pemahaman radikalisme ini sulit terdeteksi di kampus negeri dan swasta, berbeda dengan kampus UIN memungkinkan untuk terdeteksi.

Menurutnya perlu pengawasan dari para rektor dan dekan untuk mengetahui sejauh mana kajian dan halaqah yang dilaksanakan di kampus-kampus tersebut dapat memotivasi mahasiswa mendapatkan pemahaman yang benar.

“Sebab kalau tidak diantisiipasi seperti itu, pemahaman itu (radikalisme) akan meningkat menjadi sikap. Dari sikap akan menjadi perbuatan,” katanya.

Penyebab berikutnya, kata Jaidi, struktur sosial politik terkait dengan kesenjangan sosial yang harus menjadi perhatian pemerintah selain soal pemahaman.

Dia mengingatkan harus hadir mengatasi kondisi sosial di masyarakat terutama persoalan ekonomi.

Penyebab yang ketiga yakni keadilan. Menurut Jaidi, pemerintah harus terus menerus memberikan penjelasan dan sosialisasi kepada masyarakat sehingga tidak termakan oleh informasi yang justru yang dapat memecah belah umat. (Antara/ Nashih)



Ini Tanggapan Ketua Komisi Dakwah MUI atas Insiden Penolakan Ustaz Firanda di Aceh

JAKARTA– Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis memberikan komentar pascainsiden pembubaran pengajian Ustad Firanda Aldirja di Masjid Al Fitrah, Keutapang II,  Banda Aceh, Kamis (13/06).

Insiden terjadi sebab massa menuntut pembubaran pengajian Ustaz Firanda yang sedang berjalan. Massa menilai Ustaz Firanda membawa paham Wahabi dan itu tidak sesuai dengan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah. Beberapa hari sebelum  pengajian berlangsung, massa mengaku sudah memberikan peringatan agar pengajian itu tidak dilaksanakan. 

Atas kejadian itu, Kiai Cholil berharap masyarakat tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum. Dia meminta sikap masyarakat tetap sejalan dengan konstitusi dan undang-undang.  

“Masyarakat agar tidak melakukan tindakan-tindakan di luar konstitusi, di luar undang-undang peraturan kita,” ujar Kiai  Cholil, Sabtu (15/04) dalam perbincangannya dengan MUI.OR.ID. 

Ketidaksejutuan dengan Ustaz Firanda, tuturnya, bisa dikoordinasikan dengan aparat penegak hukum dan keamanan. “Karena khawatir nanti menjadi pemicu antarpendukung sehingga bisa menimbulkan hal yang fatal hadirnya keamanan setelah terjadi kericuhan,” katanya. 

Karena kejadian seperti ini belakangan sering terjadi, Pembina Pesantren Cendekia Amanah Depok ini juga meminta para dai mulai introspeksi diri. Dia berharap para dai menekankan nilai keberagaman dan keorganisasian. Dia juga berharap para pendakwah lebih paham situasi dan kondisi lapangan. 

“Karena dakwah itu tidak hanya menyampaikan kebenaran, tapi ada metode dan media penyampaian kebenaran, itu harus disesuaikan dengan local wisdom atau kearifan lokal,” ungkapnya. 

“Mungkin ini menjadi evaluasi bagi Ustaz Firanda di dalam menyampaikan statement-statement-nya sehingga mungkin cocok bagi kelompoknya, tapi bagi kelompok lain tersinggung, oleh karena itu, hal-hal yang sifatnya khilafiyah (perbedaan pendapat), furu’iyah, itu bisa disampaikan dengan lebih santun, lebih beradab,” katanya. (Azhar/ Nashih)



Gandeng Perhutani, Pinbas MUI Budidayakan Bawang Putih

SURABAYA— Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (Pinbas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menggandeng Perhutani Jawa Timur untuk menanam bawang putih. Langkah ini pun mendapatkan respons yang positif, terutama dari para petani.

“Alhamdulillah kerja sama dengan tiga pihak yakni Pinbas MUI Jawa Timur, Perhutani Divisi Regional Jawa Timur dan investor ini disambut baik oleh petani, karena mereka diberikan bantuan modal Rp 15 juta rupiah per hektare oleh investor,” kata Ketua Pinbas MUI Jawa Timur, Wahid Wahyudi, di sela kegiatan Halal bi Halal 1440 Hijriyah Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, Rabu (12/6).

Wahid Wahyudi yang juga menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pengembangan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur ini, mengucapkan terima kasih kepada Perhutani yang sudah bekerjasama dengan Pinbas MUI Jatim.

“Kami sudah melakukan kerja sama dengan Perhutani Jawa Timur dengan menanam bawang putih yang Insya Allah sebentar lagi akan panen. Ini adalah satu-satunya Pinbas MUI yang sudah melakukan kegiatan riil,” katanya.

Menurut dia, petani juga dipinjami bibit sebanyak 15 kilo per hektare dan bibit itu akan dikembalikan saat panen nanti. Dan yang paling penting adalah pasar dan investor siap membeli bawang putih hasil panen. “Dan Insya Allah Pinbas MUI Jawa Timur akan segera membentuk Badan Usaha East Java Pinbas,” katanya.

Direktur SDM, Umum, dan IT Perhutani, Kemal Sudiro, mewakili Direktur Utama Perhutani menyampaikan, bahwa hasil laporan audit 2018 yang telah diserahkan kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Perhutani dapat meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 21 persen menjadi Rp 4,4 Triliun dan peningkatan laba bersih sebesar 49 persen.

Menurutnya, peningkatan kinerja perusahaan tersebut merupakan upaya transformasi bisnis yang berfokus kepada empat aspek yaitu keuangan, operasi, organisasi dan budaya.

Dia menjelaskan bahwa 2019 Perhutani mengusung tema “Perhutani 4.0+” yang arti tambahannya Governance Through Connectivity yang diusung sebagai upaya untuk mengintegrasi semua aspek baik hulu hilir maupun internal, eksternal berbasis teknologi informasi terkini dalam menunjang penerapan tata kelola perusahaan yang baik. (Antara/ Nashih)



Tabungan Semesta

Thobib Al-Asyhar
[Wakil Ketua Komisi Infokom MUI]

Artikel kali ini saya beri judul agak unik: “tabungan semesta”. Apa itu? Mungkin orang berfikir, tabungan itu hal-hal yang berhubungan dengan dunia perbankan. Tapi ini soal lain, tabungan kebaikan amal.

Setiap kita memahami bahwa tabungan itu sebagai simpanan, baik berupa uang atau barang untuk persiapan di masa mendatang. Kali ini “tabungan semesta” memiliki makna tersendiri, yaitu simpanan amal kebaikan kepada sesama dan lingkungan untuk masa depan, baik di dunia maupun akhirat kelak.

Kamu percaya gak gaes, setiap amal kita di dunia, baik atau buruk, meskipun sekecil atom (dzarrah), akan memiliki akibat di masa depan. Perbuatan yang kita lakukan akan ada balasannya di waktu selanjutnya, bisa dalam bentuk “cicilan”, bisa pula langsung (cash) di dunia, dan kelak di akhirat.

Karena semua perbuatan beresiko, pastinya kita memilih perbuatan baik agar balasannya juga baik dan berlipat. Semakin banyak tabungan kebaikan yang kita “simpan” di alam semesta ini, maka semakin banyak pula cadangan “devisa” kebaikan untuk masa-masa selanjutnya.

Jelasnya begini, alam ini dicipta oleh Tuhan bukan tanpa maksud. Alam seisinya ini memiliki “jiwa” yang “mengerti” atau “memahami” betul atas sikap dan perilaku kita di dunia ini secara detail. Setiap titah manusia di muka bumi ini, alam semesta ini akan menjadi saksi dan “mencatat” tanpa ada yang kelewat.

Jika amal kita buruk, banyak berbuat dosa, maka alam akan “berbicara” kepada kita. Alam yang memiliki “jiwa” itu akan memberi pelajaran buruk kepada kita dalam berbagai bentuknya. Demikian juga sebaliknya, jika amal kita baik (saleh), sering berbagi kepada sesama (banyak sedekah), dan lain-lain, maka alam akan berpihak kepada kita. Hati kita menjadi lapang, jiwa menjadi tenang (muthmainnah), murah rejeki, badan sehat, banyak teman, dan seterusnya.

Dalam hidup ini kita mengenal apa yang disebut “law of attraction“, yaitu “hukum tarik-menarik”. Arti umumnya adalah bahwa kita bisa merealisasikan, mencapai dan mewujudkan apa yang kita inginkan (cita-citakan atau impikan) apabila kita bisa berpikir dan bertindak secara positif dan memiliki keyakinan bahwa keinginan (mimpi) tersebut pasti akan tercapai”.

Secara keilmuan bisa dijelaskan bahwa apa yang ada di dunia memiliki energi. Sifat dari energi itu akan menarik energi serupa. Perbuatan buruk (dosa) akan menimbulkan energi yang juga buruk. Demikian juga perbuatan baik yang menimbulkan energi positif akan menarik energi yang juga positif.

Secara psikologi, perbuatan baik akan menenangkan jiwa. Sebaliknya, perbuatan buruk akan merisaukan. Karenanya, semakin banyak amal baik yang kita lakukan, jiwa ini akan semakin tenang.

Dalam QS: Yunus: 26 disebutkan: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS: Yunus: 26).

Kita seringkali berkata begini: “buah dari amalan kebaikan adalah kebaikan yang selanjutnya. Sedangkan buah dari amalan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya”. Hal ini bisa disimpulkan, nasib yang kita terima di muka bumi ini tergantung amal-amal kita.

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS: Al- Lail: 5-11)

Ibnu al-Qayyim ra memberikan ilustrasi menarik tentang faedah ilmu yang amat berharga. Katanya: “Tahun ibarat pohon. Bulan ibarat cabangnya. Hari ibarat rantingnya. Jam ibarat daunnya. Nafas ibarat buahnya. Barangsiapa yang hela nafasnya untuk ketaatan pada Allah, maka hasil dari pohonnya adalah buah yang baik. Barangsiapa yang hela nafasnya untuk maksiat, maka  buahnya adalah “hanzhalah” (buah yang pahit). Setiap orang akan memetik buah dari hasil usahanya pada hari kiamat nanti. Ketika dipetik barulah akan ia rasakan manakah buah (hasil) yang manis dan manakah yang pahit.

Oleh karena itu, mari perbanyak “tabungan semesta” dengan beramal baik kepada sesama. Mudah menolong orang lain, memaafkan kepada orang yang berbuat salah, berbagi sedekah sebanyak mungkin, tetap berpikir positif dan bertindak istiqamah. Wallahu a’lam.



Daftar TV dan Program Ramadhan Layak Toton Menurut MUI

Jakarta, – Tim Pemantau TV Ramadhan yang dibentuk MUI mencatat lima televisi yang program-programnya di bulan Ramadhan 2019 ini paling sedikit masalah. Sebagian besar tayangannya sejalan dengan spirit Ramadhan. Kelimanya adalah Metro TV, TVRI, TVOne, Kompas TV, dan RTV.

Tiga TV pertama, Metro TV, TVRI, dan TVOne memperlihatkan konsistensi dalam mewarnai program positif sepanjang 12 tahun pantauan Tim MUI pada program Ramadhan. Sementara Kompas TV, dan RTV dalam dua tahunan terakhir menunjukkan komitmen yang baik untuk memproduksi program yang sejalan spirit Ramadhan. RTV menyajikan Ramadhan khusus untuk segmen anak-anak.

“Metro TV semakin konsisten dalam memaknai bulan Ramadhan. Program-program yang ditayangkan dirancang untuk mengajak pemirsa mengisi bulan Ramadhan dengan hal-hal positif.

Program-programnya bukan hanya sarat ilmu, tetapi juga mengajak pemirsa untuk mengamalkannya dengan penuh hikmah,” kata Iroh Siti Zahroh, anggota Tim Pemantau MUI yang memonitor Metro TV.

Program Ramadhan di Metro TV, antara lain, Dakwah On The Spot, Tafsir Al Mishbah, Khazanah Islam, Cahaya Hati, dan Syiar Anak Negeri.

TVRI menyajikan 17 program Ramadhan kali ini. Dalam sepertiga malam terakhir, ada “Tafsir Al Baqarah”. Diikuti program “Nongkrong Sahur” yang menayangkan sketsa masalah dan kejadian kekinian di masyarakat dan diikuti penjelasan ustadz. Program live shalat tarawih dari Majid Haram Makkah yang telah bertahun-tahun ditayangkan, tetap hadir.

Banyak lagi program menarik TVRI, seperti Puasa Diaspora dan Puasa di Luar Negeri. Ada juga Live the Mosque yang memperkenalkan mesjid bersejarah di berbagai belahan bumi. Untuk program pengembangan bakat, ada Tilawah Cilik dan Qasidah Fest .

Sedangkan beberapa program Ramadhan di TVOne, antara lain: Syiar Ramadhan, Gebyar Ramadhan, Pesona Islam, Indahnya Ramadhan Bersama Ustadz Abdul Somad, Hikmah Al Asmaul Husna, Damai Indonesiaku Spesial Ramadhan 1440 H, dan Jelang Berbuka Bersama Ustadz Abdul Somad.

“TVOne layak dinominasikan sebagai TV terbaik Syiar Ramadhan. Substansinya bagus. Program pagi Ustadz Abdul Somad itu interaktif. Pemirsa diajak berkontemplasi,” paparan Ahmad Baidun, anggota Komisi Pendidikan MUI, yang memantau TVOne.

Di RTV, salah satu program terbaik adalah Qori Indonesia. “Jurinya orang-orang pilihan. Menguasai tilawah. Menyasar anak muda dan lintas profesi,” kata A. Khoirul Anam, pemantau TV ini. “Yang menarik, ada tampilan polisi muda, hafidz. Juga suasana kantor polisi di Sumatera Selatan yang penuh suasana Qurani. Progam ini layak mendapatkan salah satu penghargaan ASR,” sambung Anam.

“Program ini merupakan salah satu sarana sosialisasi dan menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di kalangan anak milenial yang bergelut dalam berbagai bidang, termasuk di dunia kepolisian,” kata Anam. Ada segmen khusus untuk memaparkan kandungan Al-Qur’an. Juri ketiga yang khusus membahas tafsr dan kandungan Al-Qur’an memberikan wawasan Al-Qur’an kepada para peserta dan pemirsa.

“Program Qari’ Indonesia ini tidak hanya ajang pencarian bakat tapi penanaman pengetahuan mengenai kandungan AL-Qur’an dan ajaran Islam secara umum,” tambah Anam. “Rahasia Ilahi” di RTV, menurut Anam, bisa menjadi penyemangat anak-anak untuk bangun sahur dan menjalankan puasa Ramadhan.

Kompas TV, dalam catatan pemantau, Hidayati, memiliki delapan program Ramadhan: Merindu Baitullah, Risalah, Ramadan Kareem, Muslim Journey, Islam Araound the Word, Taste of Halal, Zakat Tumbuh Bermanfaat, Kurma dan Muslim Diary. “Program Merindu Baitullah mengangkat kisah inspiratif mereka yang berjuang untuk bisa menunaikan ibadah haji,” kata Hidayati. “Kompas TV tahun ini terasa jauh lebih Islami,” Elvi Hudhriyah, pemantau lain, menimpali.

Program positif tak hanya di lima TV di atas. Di Global TV, ada Voice of Ramadhan, proses pencarian penyanyi berbakat model Nissa Sabyan. Juga ada “Kampung Ramadhan”.

Di MNCTV, program Ramadan dikemas secara spesial dengan tema Meraih Berkah Cinta Ramadan. Beberapa program yang layak diapresiasi, diantaranya “Semesta Bertilawah” yang melibatkan para santri dengan kualitas bacaan Al-Quran yang bagus. Juga ada Salam Kilau Ramadan bersama grup gambus Sabyan sebagai upaya meneguhkan seni Islam modern. Selain itu, ada program untuk anak-anak pada sore hari Ngabuburit Bareng Upin-Ipin dengan episode baru jelang buka puasa. Beberapa tema yang diangkat adalah belajar tata cara shalat dan mengaji yang dapat memberikan dorongan bagi anak Indonesia belajar Al-Quran dan agama.

Di RCTI, di antara program positif adalah Hafiz Indonesia. “Pernah menghadirkan Naja, bocah berusia 9 tahun yang mengalami kelumpuhan otak, namun memiliki ingatan luar biasa dan menghafal 30 juz Al Quran,” tutur M. Fadhilah Zaein, pemantau RCTI.

“Program ini sangat menginspirasi penonton untuk lebih dekat dengan Al Quran dan mendorong umat untuk tidak putus asa atas kondisi apapun yang dialami.” Program lain di RCTI adalah sinetron “Aku Bukan Ustadz-Mendadak Sholeh” dan “Amanah Wali 3,” papar Fadhil.

Sementara beberapa program positif Ramdhan di Jak TV adalah Rindu Tanah Suci, Cerita Ramadhan, Mimbar Dakwah, VoA Muslim di Rantau, Risalah Ramadhan. Di ANTV ada “Tawakal” di INews ada film “Omar bin Khattab” dan program “Cahaya Hati Ramadhan”.

Di SCTV, dalam pantauan Rida Hesti Ratnasari, ada program bagus “Mutiara Hati Qurasih Shihab”, “Mengetuk Pintu Hati”, sinetron “Para Pencari Tuhan” dan “Merindu Baginda Nabi”. Di Indosiar, ada Akademi Sahur Indonesia (AKSI) dan Festival Ramadhan.

Semua program positif hasil pantauan, menurut Asrori S. Karni, Penanggung Jawab Tim Pemantau TV Ramadhan, “Kkami catat untuk dipertimbangkan mendapatkan Anugerah Syiar Ramadhan (ASR) 2019, yang diselenggarakan MUI, KPI, dan Kemenpora, pada akhir Juni 2019.” (asrori/thobib)



MUI Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya KH Tolchah Hasan

JAKARTA— Majelis Ulama Indonesia menyampaikan belasungkawa terhadap wafatnya mantan menteri agama era KH Abdurrahman Wahid, KH Tolchah Hasan, meninggal dunia pada Rabu (29/5) sekitar pukul 14.00 WIB. Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat MUI 2010-2015.

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Nafis, mengatakan almarhum merupakan ulama yang patut diteladani generasi Muslim saat ini.

Karena, menurut dia, Kiai Tolchah merupakan ulama yang sangat dengan ilmu pengetahuan. Bahkan, dari beberapa orang kiai yang dekat dengan Kiai Cholil, Kiai Tolchahlah yang paling senang dengan ilmu.

“Ada satu hal yang beda dari beliau. Saya dekat dengan Kiai Makruf, Kiai Hasyim Muzadi dan Kiai Tolchah. Nah Kiai Tolchah itu punya spesifik adalah senang ilmu,” kata dia Kepada MUI.OR.ID, di Jakarta, Rabu (29/5).

Karena senang dengan ilmu, Kiai Tolchah pun sangat senang membaca buku. Beliau akan memburu setiap ada buku-buku baru yang berkualitas. “Beliau itu selalu baca. Dan pasti selalu memburu buku-buku baru. Itu yang bisa diteladani kita,” ucap Kiai Cholil.

Pengasuh Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok ini merasa kehilangan atas wafatnya Kiai Tolchah. Apalagi, Kiai Tolchah sudah menganggap Kiai Cholil seperti anaknya sendiri.

“Saya ikut belasungkawa. Saya dengan beliau itu kayak anaknya. Jadi saya banyak dapat pelajaran dari beliau. Memang beliau guru di NU. Ketika beliau jadi Wakil Rais Aam saya jadi ketua Lembaga Bahtsul Masail,” kata Kiai Cholil.

Selain itu, pada saat Kiai Tolchah menjadi Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang pertama, Kiai Cholil juga diangkat sebagai sekretaris BWI. Keduanya pun mengurus BWI selama dua periode atau selama tujuh tahun.

“Jadi beliau sudah menaggap kayak anak. Sampai kalau saya di Malang diminta bareng-bareng di Sabilillah (Masjid Sabillah), di Unisma. Dan banyak saya mendapatkan pelajar dari beliau,” kata Kiai Cholil.

Kiai sepuh yang juga mantan Menteri Agama Era Presiden Gus Dur KH Muhammad Tolchah Hasan wafat pada Rabu (29/5), pukul 14.30 WIB bertepatan dengan 24 Ramadhan 1440 Hijriyah, setelah menjalani pengobatan di RSSA Malang.

KH Muhammad Tolchah Hasan yang merupakan tokoh organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) itu sempat dirawat di rumah sakit tersebut hampir sebulan.

Kiai Tolchah dilahirkan di Tuban, Jawa Timur, pada 1936 dan merupakan tokoh multidimensi, yakni sebagai ulama, tokoh pendidikan, pegiat organisasi, dan juga merupakan tokoh yang aktif di pemerintahan.

Saat menjadi menteri, dia mendirikan Direktorat Pendidikan Pondok Pesantren dan Seksi Pekapontren (Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren) yang sekarang menjadi pendidikan diniyah dan pondok pesantren.

Kiai Tolchah juga alumni Pesantren Tebuireng era 1950-an. Selama hidup, KH Tholchah Hasan juga masih mengabdikan dirinya di Pesantren Tebuireng sebagai Dewan Pembina di Yayasan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) dan Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari.

Kiai Tolchah meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan empat cucu, yang saat ini tinggal di Singosari, Kabupaten Malang. Almarhum pernah menduduki posisi Mustasyar PBNU dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Merdeka Malang hingga 1998. Selain itu, almarhum juga sebagai Dewan Pembina Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) hingga saat ini. Jenazah dimakamkan di pemakaman keluarga di Kampung Bungkuk, Singosari, Kabupaten Malang, setelah shalat tarawih. (Ichwan/Nashih)



Pesbukers Ditegur MUI, ANTV Janji Evaluasi Tayangan

JAKARTA— MUI memberi sorotan khusus pada program Sahurnya Pesbukers dan Pesbukers Ramadhan di ANTV pada bulan Ramadhan 1440 H/2019 ini. Ramadhan tahun lalu, 2018, dua program ini termasuk lima program yang MUI rekomendasikan untuk dihentikan tayangannya, karena kontennya yang buruk, apalagi untuk Ramadhan. Tahun ini tetap tayang, dan tanpa perubahan isi secara signifikan.

Menyikapi teguran tersebut, GM Marketing Communication ANTV, Monica Desideria, mengatakan pihaknya sangat memperhatikan teguran MUI tersebut. Bahkan pihak televisi sudah menerima surat teguran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk kemudian ditindaklanjuti. “Surat dari KPI sudah diterima bagian Corporate Communication melalui Bagian Regulatory siang ini,” ujarnya dalam keterangannya kepada MUI.OR.ID, di Jakarta, Rabu (29/5).

Monica memastikan, pihak ANTV akan melakukan evaluasi terhadap program Pesbukers. Mereka berjanji akan segera memperbaiki adegan yang ditampilkan dalam program Pesbuker agar layak disajikan selama Ramadhan. “Kami akan melakukan perbaikan atas masukan program Pesbukers tersebut. Akan segera kami eksekusi secepatnya,” kata Monica Desideria.

Dalam konferensi pers hari ini, Rabu (25/9), MUI menegaskan kedua program tersebut mengandung konten tayangan yang tak sejalan dengan nafas Ramadhan.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi, mengatakan tayangan yang dibintangi Luna Maya, Vega, Raffi Ahmad, Angel Lelga, Ayu Ting-ting, Aziz, Ruben, Eko Patrio, Zaskia Gotik ini banyak berisi dialog dan adegan yang tidak pantas. Misal, adegan pelukan mesra, lama, dan erat antara Sangket dan Anjela, pasangan kekasih yang berulang tahun saat itu dan ditepuktangani oleh pemain lainnya. “Dari tahun ke tahun, Sahurnya Pesbukers tidak ada perubahan. Masih menayangkan canda berlebihan, saling ejek, hina-menghina dan hura-hura,” kata dia.

Masduki menyerukan masyarakat tidak menonton program ini, apalagi anak-anak dan remaja. Dunia iklan disarankan tidak mendukung program yang tidak mendidik dan berselera rendah seperti ini. Komisi I DPR yang membidangi penyiaran, perlu lebih serius menempuh langkah-langkah yang membuat industri televisi lebih mematuhi regulasi, nilai agama, dan asas-asas kepatutan dan kesopanan dalam masyarakat. (Ichwan/Nashih)