All posts by Admin

Beredar Luas Surat Terbuka MUI Sorong, Ini Respon MUI Pusat

Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sorong mengeluarkan surat terbuka bernomor 060/MUU-KS/IV/1440 H yang memicu keramaian di tengah masyarakat. Wakil Ketua Umum MUI Pusat Buya Zainut Tauhid Sa’adi merespon Surat Terbuka tersebut dengan berbagai catatan.

“Pertama kami sangat menyayangkan terbitnya surat tersebut karena tidak mencerminkan jati diri organisasi MUI yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, netralitas, imparsial, keadilan, dan akhlakul karimah,” ungkapnya melalui keterangan tertulis, Kamis (25/04).

Dia mengatakan, MUI adalah wadah musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim dalam mengayomi umat dan mengembangkan kehidupan yang Islami. Dia menegaskan bahwa MUI sebagai institusi bersikap netral dan menjauhkan diri dari kepentingan politik praktis. Kalaupun ada anggotanya yang terjun ke politik praktis, maka tidak boleh membawa-bawa nama MUI.

“MUI berkomitmen untuk menjunjung tinggi politik keumatan dan kebangsaan. Untuk itu, setiap kebijakan, tindakan atau aktivitas pengurus MUI di setiap tingkatan tidak boleh menarik institusi MUI ke ranah politik praktis,” katanya.

“Karena hal tersebut berlawanan dan bertentangan dengan jati diri dan pedoman Peraturan Organisasi MUI,” tambahnya.

Buya Zainut menyampaikan pada Rapat Dewan Pimpinan Harian MUI Selasa (23/04) kemarin, Surat Terbuka MUI Kota Sorong tersebut dinilai menyalahi mekanisme, kaidah, dan ketentuan AD/ART MUI. Surat Terbuka MUI Sorong tersebut juga dinilai membawa nama MUI sebagai lembaga ke ranah politik praktis.

“Atas dasar pertimbangan tersebut, DP MUI Pusat menyepakati untuk memberikan teguran dan peringatan kepada Pimpinan MUI Kota Sorong dan meminta kepada Pimpinan MUI Kota Sorong agar menjaga netralitas institusi MUI dari politik praktis, sebagaimana diamanatkan oleh AD/ART MUI,” ujarnya.

Dia melanjutkan, MUI Pusat mengingatkan MUI Kota Sorong untuk menyalurkan sesuai mekanisme hukum kepada Bawaslu, DKPP, maupun MK bila memang benar ditemukan ketidaksesuaian atau pelanggaran proses Pemilu.

“Kami juga meminta Pengurus MUI Kota Sorong agar segera melakukan konsolidasi organisasi dalam rangka menjaga suasana masyarakat tetap aman dan kondusif, serta menjunjung tinggi suasana ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah,” tandasnya. (Azhar/Thobib)



Tata Kota Keraton Surosowan

Muhammad Fakhruddin/anggota Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Pusat

Masa Kesultanan Banten yang berlangsung sekitar 300 tahun lamanya telah mewariskan berbagai ragam peninggalan budaya tertulis berupa prasasti dan naskah, yang kini tersimpang di beberapa tempat di Indonesia maupun di luar negeri. Di daerah Lampung misalnya, ditemukan beberapa lembar prasasti atau piagem yang diterbitkan oleh sultan Bantan untuk para pejabat setempat.

Piagem-piagem tersebut dipahat dengan aksara Jawa atau aksara Arab, dan berbahasa Jawa dialek Banten. Piegem tersebut umumnya berisi perjanjian atau pengaturan perdangan lada dengan sanksi-sanksinya yang diterapkan Sultan Banten.

Selain dari bukti-bukti tertulis tersebut, kegemilangan Kesultanan Banten dapat dilihat dari bangunan yang didirikan pada masa kesultanan. Kemegahan Masjid Agung Banten adalah salah satu contohnya.

Masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin dan memiliki keunikan pada struktur bangunannya. Bangunan induknya berbentuk segi empat. Atapnya yang diperbuat daripada genting tanah liat berbentuk bujur sangkar yang berupa kubah atap tumpang bertingkat lima. Terdapat empat batang tiang di bahagian tengah yang menjadi tiang penyangga. Terdapat juga mimbar kuno/lama yang berukiran indah.

Maulana Hasanuddin pun mulai membangun Kota Banten sebagai negara-kota (city-state), sekaligus sebagai kota bandar (harbor city). Tata letak keraton, alun-alun, masjid, pasar, dan jaringan jalan menunjukkan pola morfologi kota yang hampir sama dengan kota-kota Islam lainnya di Jawa, seperti Cirebon dan Demak.

Benteng pertahananpun mulai dibangun di sekeliling negara-kota itu. Penduduk yang terkonsentrasi di kota Benteng tersebut pada saat itu berjumlah sekitar 70 ribu jiwa.

Keraton Surosowan yang berada di dalam kota Benteng tersebut dibangun sekitar tahun 1522-1526. Konon, pembangunan keraton juga melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memeluk Islam yang bergelar Pangeran Wiraguna.

Pada bagian tengah keraton terdapat sebuah bangunan kolam berisi air berwarna hijau, yang dipenuhi oleh ganggang dan lumut. Di keraton ini juga banyak ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi (petirtaan). Salah satu yang terkenal adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok. Ada pula pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas”.

 Dua sumber air yang mengalir Surosowan yaitu sumur dan Danau Tasikardi yang terletak sekitar dua kilometer dari Surosowan. Tasikardi adalah danau buatan dengan luas kira-kira 6,2 ha yang seluruh alas dilapisi ubin bata.

Danau ini juga berfungsi untuk menampung air dari Sungai Cibanten yang kemudian disalurkan ke sawah-sawah dan ke Keraton Surosowan untuk keperluan air minum dan kebutuhan sehari-hari bagi penghuni kota Benteng.

Di tengah danau yang dibangun oleh Sultan Maulana Yusuf (1570-1580) ini terdapat sebuah pulau yang disebut pulau Kaputren yang semula diperuntukkan khusus bagi ibu Sultan Mualana Yusuf untuk bertafakur mendekatkan diri kepada Allah.



Open Minded dalam Beragama

Thobib Al-Asyhar
[Ketua Pokja Cyber/Wakil Ketua Komisi Infokom MUI]

Belakangan ini istilah “radikalisme” semakin populer. Dalam pemberitaan media mainstream, radikalisme sering dilekatkan pada kelompok-kelompok Islam garis keras (hard liner) yang mudah bersikap dan melakukan kekerasan atas nama agama.

Jika dilihat dari konteks umum, sebenarnya “pelebelan” itu kurang fair dan tendensius, karena semua agama dan paham aliran apapun berpotensi sama. Paham keagamaan (apapun agamanya) selalu ada kelompok yang berpaham dan beraliran keras, sementara yang berbeda dianggap salah. Contoh kasus bisa diungkap seperti kelompok Katolik ultra kanan di Irlandia Utara, sekte Yahudi Kabalah di Amerika, kelompok Buddha di Myanmar, dan lain-lain.

Sekarang yang menjadi pertanyaan, ada apa dengan munculnya kelompok-kelompok radikal itu? Kenapa pula mereka dengan mudah nge-judge sesama (misal, sesama muslim) dengan istilah kafir atau ahlul bid’ah. Minimal mereka mudah menyalahkan keyakinan atau amal ibadah orang lain tidak sesuai tuntunan Rasul, sesat, dan lain-lain.

Nah, faktor apa sih yang mempengaruhi mereka berpaham seperti itu? Kenapa agama yang diyakini justru mempersempit cara pandang dan gerak langkah mereka, sehingga mudah mengkavling area paham menjadi “kami” dan “mereka”?

Bukankah agama seharusnya menjadi energi jiwa untuk saling menghargai, menghormati, dan memuliakan sesama (manusia)? Di sinilah kamu nanti akan menemukan bagaimana seharusnya beragama dengan baik dan sesuai dengan nilai-nilai yang diperjuangkan agama.

Sepanjang sejarah, sedikitnya ada dua kecenderungan ekstrem di lingkungan umat Islam. Pertama kelompok Islam yang dicirikan oleh sikap ketat (kaku) dalam beragama, bahkan cenderung menutup diri. Sikap tertutup inilah yang kemudian berkembang menjadi kelompok paham dan aliran serta bertindak keras, kaku, dan sangat tekstualis, sehingga lazim disebut kelompok Islam radikal.

Kedua, kelompok umat Islam yang nampak bersikap terlalu longgar dan terbuka sehingga mengaburkan esensi ajaran agama itu sendiri. Kelompok ini mencoba “membongkar” ajaran agama dengan pendekatan yang ultra rasional yang sering menjauhkan dari akar pokok dalam beragama. Kelompok ini lalu menyeret mereka sebagai kelompok ultra liberal, dimana watak agama menjadi hilang, atau setidaknya berkurang jauh.

Munculnya kencenderungan ekstrem dalam beragama ini bukan saja telah merugikan Islam dan umat Islam, tetapi juga bertentangan dengan karakteristik umat Islam yang disebut sebagai “ummatan wasathan” (QS: Al-Baqarah:143).

Poin penting ayat itu adalah umat Islam seharusnya mengambil jalan tengah, moderat, atau adil. Karakter dasar umat yang moderat ini sering kalah menonjol karena ulah sebagian kelompok yang bersikap radikal di satu sisi dan kelewat liberal di sisi yang lain. Kedua sisi ini tentu berjauhan dengan titik tengah (wasath) yang seharusnya menjadi watak asli Islam itu sendiri.

Sikap ‘ditengah’ atau ‘moderat’ memang sangat bersesuaian dengan anjuran ayat di atas (dan ayat-ayat al-Qur’an lainnya yang senafas), meskipun impelementasinya, sungguh, tidak mudah. Sebagai contoh, menolak gerakan radikal banyak dilakukan dengan cara yang juga radikal. Demikian juga menolak kelompok ultra liberal dengan cara-cara kekerasan atau frontal. Hal inilah yang kemudian menjadi tidak adil atau moderat.

Gaes, karena bersikap moderat tidaklah mudah, maka perlu upaya terus menerus agar sikap, pikiran, dan perilaku adil dan berada di posisi tengah atau “wasathi” menjadi acuan kita bersama.

Nah, poin pokok beragama (berislam) secara moderat terletak dari sudut pandang berpikirnya yang terbuka (open minded). Lalu apa tanda-tanda seseorang memiliki pikiran terbuka dalam beragama? Berikut uraiannya:

Pertama, tidak merasa pendapat kelompok atau mazhab yang dianutnya paling benar. Banyak orang pintar nampak naif karena dikendalikan oleh perasaan “paling benar” pendapatnya dan yang lain salah. Jika beragama dengan cara ini, maka siapapun yang berbeda pendapat dengannya akan di-judge salah, menyimpang, bid’ah, tidak memiliki tuntunan, bahkan menuduh kafir.

Cara berpikir merasa paling benar sendiri ini akan sangat membahayakan cara kita beragama. Agama hanya akan menjadi pemicu kebencian. Islam jelas melarang kita merasa paling benar atau paling suci, karena setiap pribadi memiliki keunikannya sendiri.

Allah berfirman: “Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS: An Najm: 32).

Mengapa Iblis yang dulu begitu mulia dan rajin bertasbih dan beribadah kepada Allah di surga bersama dengan malaikat pada akhirnya diusir Allah dari surga dan dikutuk selama-lamanya? Karena Iblis itu sombong dan merasa lebih unggul:

Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?.”Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS: Shaad: 75-77).

Kita juga dilarang memecah-belah agama di mana kita bangga akan kelompok kita dan menghina yang lain: “Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS: Ar Ruum: 32).

Kedua, tidak mudah menilai dan menyimpulkan sesuatu begitu saja. Inilah kunci dari open minded, melihat dari berbagai kemungkinan sudut pandang, bukan dari sudut pandang kamu sendiri. Seorang yang memiliki cara pikir open minded adalah bersikap kritis untuk kemudian menarik simpulan yang utuh dan komprehensif. Dari situlah kamu akan bersikap dan bertindak dengan mengambil titik tengah dari berbagai sudut pandang tersebut. 

Ketiga, tidak gampang terpengaruh apa kata orang. Intinya, keyakinan dan paham keagamaan yang kamu yakini tidak mudah terombang ambing, tergantung kemana angin bertiup. Apalagi zaman Medsos seperti ini yang sering mengaburkan tata kelola informasi yang benar. Punya prinsip beragama itu penting, sebagai dasar, asal tidak merasa paling benar sendiri. Prinsip itu dibangun dari pengetahuan yang shahih. Artinya, sumber keilmuannya jelas, silsilah belajar agamanya dapat dipertanggung jawabkan.

Keempat, cenderung memiliki pikiran objektif dalam melihat sebuah fenomena atau pendapat. Orang yang berpikiran open minded akan selalu melihat sesuatu dari konteks yang utuh, tidak simplistik. Terlebih mendapat info-info yang belum jelas kebenarannya.

Kamu tidak memandang siapa yang mengatakan atau terlibat ataupun dari golongan mana dia berasal. Bagimu data apapun adalah informasi selama bisa dipertanggungjawabkan. Kamu rela menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan riset (check and recheck) dan diskusi untuk bisa mengajukan solusi, masukan atau jawaban yang obyektif.

Kelima, tidak menyukai sesuatu ataupun membenci sesuatu secara berlebihan. Karena kamu adalah orang yang terbuka dengan segala kemungkinan. Kamu percaya bahwa ada kebaikan di dalam lingkaran keburukan dan ada kemungkinan keburukan di dalam lingkaran kebaikan.

Jadi misalnya ada berita atau info terbukti bahwa ada hal tidak baik dari apa yang kamu sukai ataupun sebaliknya ada hal positif dari apa yang kamu benci, kamu tidak serta merta menolak. Contoh yang paling gampang, jika ada orang yang kamu anggap teladan hidupmu ternyata terbukti melakukan kesalahan lalu kamu tolak atau bantah dengan membela membabi buta.

Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(QS: Al-Baqarah: 216).

Jadi gaes, itulah ciri-ciri penting dari orang yang memiliki cara pikir terbuka (open minded). Nah, apakah menurutmu kamu itu orang yang open minded, khususnya dalam beragama? Itu tugas kamu untuk mengidentifikasi sendiri yah. Wallahu a’lam. []



Awas, Siomay Pun Bisa Haram

Menilik bahan yang digunakan, biasanya daging ikan atau daging ayam yang dicampur dengan tepung sagu, siomay sebenarnya adalah makanan halal. Namun, pada kenyataannya, banyak juga ditemukan siomay yang dibuat dari bahan makanan yang haram atau tidak jelas kehalalannya. (HalalMUI)

Siapa yang tidak kenal dengan siomay? Gilingan Daging sebagai isi, yang dibalut dengan kulit pangsit, kemudian dimatangkan dengan cara dikukus dan disajikan dengan saus kacang ini pastinya sudah sangat familiar di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya bagi pecinta kuliner. Makanan sederhana asal negeri Tionghoa ini tentu memiliki banyak pengemar karena rasanya yang enak. Tapi tahukah, siomay bisa juga loh terindikasi haram? Nah loh.

Siomai atau siomay dalam bahasa Mandarin lebih dikenal dengan sebutan shaomai, sementara dalam bahasa Kanton disebut siu maai. Menurut tautan di wikipedia.com Dalam dialek Beijing, makanan ini juga ditulis sebagai shaomai. Siomay awalnya hanyalah salah satu menu yang terdapat dalam makanan Dim Sum tapi kini siomay disajikan sendiri karena rasanya yang khas, makanan yang terkenal se-antero benua Asia ini konon berasal dari Mongolia Dalam.

Dalam proses adaptasi siomay dengan cita rasa Indonesia, makanan ini tentunya memiliki beberapa perubahan bentuk dari resep aslinya. Siomay khas Indonesia isinya bukan hanya daging sapi, atau daging babi seperti pada resep aslinya, melainkan dikreasikan menjadi ikan tengiri, udang, ataupun ayam.

Bentuknya pun menjadi sedikit berubah, yang mulanya silinder, kini  berbentuk seperti bakso yang bulat. Selain itu  di Indonesia Siomay juga disajikan dengan beberapa jenis bahan pelengkap. Siomay di Indonesia tidak disajikan polos begitu saja, namun ditambah juga dengan berbagai sayuran yang sehat dan penuh manfaat. Menu tambahannya itu mulai dari kentang, kol, pare, tahu, hingga telur ayam. Kadang di dalam menu siomay juga dimasukkan otak-otak dan pangsit basah yang  makin memperkaya rasanya.

Menilik bahan yang digunakan, biasanya daging ikan atau daging ayam yang dicampur dengan tepung sagu, siomay sebenarnya adalah makanan halal. Namun, pada kenyataannya, banyak juga ditemukan siomay yang dibuat dari bahan makanan yang haram atau tidak jelas kehalalannya. (HalalMUI)

Siomay diasumsikan halal lantaran menggunakan daging ayam atau daging ikan pun layak dicermati kehalalannya. Sebab, bahan tambahan yang digunakan maupun cara memasak dan menyajikannya belum tentu memenuhi kaidah halal.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, siomay menggunakan daging sebagai isinya, penggunaan daging inilah yang mesti kita waspadai. Jika siomay menggunakan daging yang berasal dari hewan laut, seperti ikan tengiri, udang, serta kepiting, dapat dipastikan siomay ini halal. Ikannya sendiri tentu halal. Namun, penambahan tepung, terlebih tepung yang sudah melalui proses industri di pabrik-pabrik, layak dicermati. Begitu juga bahan tambahan lainnya seperti bumbu penyedap, kecap, saus, dan sebagainya.  

Tepung terigu sendiri sebenarnya kaya akan kandungan karbohidrat, namun sangat sedikit kandungan vitamin dan mineralnya. Untuk memperkaya kandungan nutriennya, beberapa bahan tambahan pangan sering ditambahkan sebagai fortifikan tepung terigu. Keputusan Menteri Kesehatan  No. 962/Menkes/SK/VII/2003 tentang Fortifikasi Tepung Terigu menyebutkan bahwa terigu yang diproduksi, diimpor atau diedarkan di Indonesia harus mengandung fortifikan, yang meliputi: zat besi (Fe), seng (Zn), vitamin B1, vitamin B2, serta asam folat.

Dari sisi kehalalannya, tepung terigu relatif tidak ada masalah. Akan tetapi, berbagai bahan dan improving agents tersebut rentan terhadap berbagai pencemaran bahan haram. Sebagai contoh, vitamin B1 (thiamine), vitamin B2 (riboflavin), dan asam folat (folic acid) yang bersumber dari tanaman, tentu halal dikonsumsi. Vitamin-vitamin tersebut berubah status menjadi tidak halal manakala diproduksi secara mikrobiologis menggunakan media yang tidak halal.

Bahan lain yang kerap digunakan sebagai campuran siomay adalah ebi, lada, gula, garam dan kecap serta saus. Bahan-bahan tersebut, terutama udang kering (ebi), lada, gula dan garam adalah bahan-bahan alamiah yang pada dasarnya halal. (HalalMUI)

Bahan Tambahan Harus Dicermati

Gula pasir, misalnya, dibuat dari nira yang dapat berasal dari berbagai, seperti: tebu, kelapa, siwalan, lontar, aren, dan sawit. Oleh karena berasal dari tanaman, sudah barang tentu bahan baku utama gula pasir tersebut halal. Proses pembuatan gula pasir terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari proses ekstraksi, penjernihan, evaporasi, kristalisasi, hingga pengeringan. Dalam tahapan-tahapan proses ini bisa jadi bahan haram masuk dan mencemari gula pasir.

Sebagai contoh, apabila melibatkan proses rafinasi (pemurnian), maka karbon aktif yang dipakai harus dipastikan status kehalalannya. Apabila karbon aktif ini berasal dari hasil tambang atau dari arang kayu, maka tentu tidak menjadi masalah. Akan tetapi, apabila menggunakan arang tulang, maka haruslah dipastikan status kehalalan asal hewannya. Arang aktif haram dipakai jika berasal dari tulang hewan haram atau tulang hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i.

Selanjutnya, bahan lain yang ditambahkan pada proses hidrolisis juga harus dicermati. Apabila menggunakan bahan sintetis kimia tentu tidak masalah. Namun apabila menggunakan produk mikrobial, maka harus dipastikan bahwa media yang dipakai untuk mengkulturkannya adalah media yang halal.

Demikian halnya dengan kecap, yang pasti ada dalam setiap sajian siomay. Kecap diperoleh dari hasil fermentasi kedelai (kedelai putih atau hitam) yang ditambahi dengan berbagai bahan, seperti: ragi (jamur tempe), daun salam, sereh, daun jeruk, laos, bunga pekak, gula merah, garam dapur dan air.

Proses pembuatan kecap didahului dengan pencucian dan perendaman kedelai, yang dilanjutkan dengan proses perebusan, fermentasi, pemasakan, penyaringan, dan diakhiri dengan proses pengemasan. Kecap yang diproses dengan metode standar tersebut di atas hukumnya halal. (HalalMUI)

Bagaimana dengan bumbu penyedap? Bumbu masak instant saat ini telah tersedia di pasaran dalam bentuk beraneka ragam, seperti: Monosodium Glutamat atau Mononatrium Glutamat (MSG) atau vetsin, kaldu, yeast extract, dll. MSG adalah salah satu bumbu instant yang paling favorit dipakai, termasuk di dalam olahan siomay. Bahan ini diproduksi dalam skala industri secara mikrobial dengan media pertumbuhan (perkembangbiakan) bakteri yang beraneka macam. Salah satu media fermentasi yang sering digunakan adalah bahan-bahan yang mengandung protein. Protein ini sangat memungkinkan berasal dari bahan hewani atau bersinggungan dengan bahan hewani saat pembuatannya.

Di luar bahan-bahan yang sudah disebutkan, bisa saja pembuat siomay menambahkan bahan lain yang tidak diketahui oleh konsumen. Oleh karena itu, sebagai konsumen muslim tidak ada salahnya bertanya dan waspada pada apa yang akan dikonsumsi. Cek kehalalannya dan bertanya sebelum membeli adalah cara bijak agar kita terhindar dari mengkonsumsi produk haram. (Zia/FM) 

(HalalMUI)



Konsumsi Halal Mengawal Etika Dan Moral Sosial

(Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Guru Besar IPB)

Makan dan minum merupakan kebutuhan asasi manusia, bahkan sebagai kebutuhan mutlak makhluk hidup. Kalau tidak makan dari waktu yang semestinya, atau terlambat makan, efeknya langsung terasa. Perut menjadi lapar, badan pun jadi lemah. Namun harus pula dipahami, meskipun merupakan kebutuhan asasi, sebagai orang beriman, kita makan dan minum harus dengan mengikuti dan menaati tuntunan yang telah diperintahkan Allah, dan contoh teladan Rasulullah saw. agar dapat hidup selamat dan berkah, dunia wal akhirah. (HalalMUI)

Yakni dengan hanya mengonsumsi pangan yang halal saja. Perhatikanlah perintah Allah tentang hal ini, dalam ayat yang bermakna: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 168-169).

Jangan seperti orang kafir, yang tidak memperhatikan kaidah asasi ini. Tidak peduli halal maupun haram, tetap dihantam. Akibatnya, mereka pun disiksa di neraka Jahannam: “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad, 47: 12).

Beribadah, Tetapi Ditolak, karena Konsumsi Haram

Hal ini perlu diingkatkan lagi, karena dalam realitasnya ada orang yang tampaknya bersungguh-sungguh beribadah dan berdoa kepada Allah, namun ditolak. Ada yang berinfak-shodaqoh, mengeluarkan zakat, tidak diterima oleh Allah. Ada pula yang yang mengerjakan ibadah haji, namun tidak mendapat Haji yang Mabrur, bahkan menjadi Haji yang Mardud. Hal itu terjadi karena mengonsumsi pangan yang tidak halal, atau tegasnya yang makan produk yang haram. Sehingga akibatnya, amal ibadahnya pun ditolak oleh Allah. (HalalMUI)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah: “Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik (halal).” [HR. Muslim]. Hal ini lebih ditegaskan dalam sebuah hadits Nabi saw. yang terkenal, dan tercantum dalam Kitab Hadits Al-Arba’in an-Nawawiyah, dengan makna: “Nabi saw. menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, dan badannya lusuh penuh debu. Sambil menengadahkan tangan ke langit ia berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia selalu bergelut dan dikenyangkan dengan yang haram. (Maka Nabi saw. pun menegaskan), lantas bagaimana mungkin ia akan dikabulkan doanya.” (HR. Imam Muslim). 

Kaidah halal itu sendiri terdiri dari dua kategori. Yakni halal secara dzatiyah, atau substantif. Dari sisi dzatnya, makanan yang dikonsumsi itu harus halal. Dan yang kedua halal dari cara mencari dan mendapatkan rezeki untuk makanan-minuman yang dikonsumsi itu. Ketentuan halal secara dzat, bukan yang haram, disebutkan di dalam Al-Qur’an. Di antaranya ialah bangkai, darah, babi, dan khamar, atau minuman keras (Miras). (HalalMUI)

Yang kedua halal dari cara mendapatkan rezeki untuk makanan-minuman yang dikonsumsi itu. Yakni jangan dengan cara yang dilarang agama. Seperti mencuri, menipu, berbuat curang. Perhatikanlah ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang hukuman bagi orang yang mencuri: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah, 5: 38). 

Penyebutan hukuman potong tangan dalam ayat itu menunjukkan larangan perbuatan mencuri yang sangat tegas. Begitu juga menipu, berbuat curang, mengurangi timbangan. Perbuatan-perbuatan itu dilarang sangat tegas dengan ancaman siksa yang amat berat: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (berbuat curang).” (QS. Al-Muthaffifin, 83: 1-3). 

Itu semua merupakan bagian dari aspek akhlak yang harus diamalkan oleh setiap kita yang beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. Yakni akhlak dalam mengonsumsi makanan, akhlak dalam cara mencari rezeki untuk makan, yang berarti juga akhlak dalam bermuamalah atau bisnis. (HalalMUI)

Adab dan Akhlak

Lebih lanjut lagi, kaidah halal ini juga hendaknya berlaku bukan hanya pada masalah yang prinsip, yakni bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi harus halal seperti yang telah dijelaskan di atas. Tetapi hendaknya mencakup juga tatacara atau adab dan akhlak dalam makan dan minum, dengan mengikuti contoh teladan dari akhlak Rasulullah saw. Betapa Allah telah mewanti-wanti mengingatkan, dalam hal makan-minum ini, agar “jangan mengikuti jejak-langkah setan.”  (QS. Al-Baqarah, 2: 168). 

Seperti makan dengan mengikuti cara-cara orang kafir yang hanya sekedar menjaga etika atau etiket makan, lazim disebut “Table Manner”, kebiasaan dalam tata pergaulan yang dianggap baik dalam hubungan dengan sesama manusia. Misalnya, makan-minum dengan berdiri, menggunakan tangan kiri, mungkin tidak dianggap masalah. Bahkan telah menjadi lazim, seperti dalam acara makan-makan dalam “Standing Party”. Tapi dalam pandangan moral keagamaan, hal itu merupakan perbuatan yang sangat tercela. 

Sebab, diantara adab atau akhlak yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi saw. dalam makan atau minum adalah harus dengan tangan kanan. Jangan dengan yang kiri, karena Beliau saw. melarang makan atau minum dengan tangan kiri. Namun sangat disayangkan sekali, sebagian kaum Muslimin menganggap sepele bahkan tidak mengindahkan adab yang indah ini. (HalalMUI)

Patut diketahui dan kita amalkan, Nabi Saw. biasa menggunakan tangan kanan untuk sebagian besar urusannya yang baik-baik. Sebagaimana hadits ‘Aisyah, “Nabi Saw. membiasakan diri mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci dan dalam setiap urusannya.” (HR. Bukhari).

Termasuk juga dalam masalah makan dan minum, Beliau saw. senantiasa mendahulukan tangan kanan. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Abi Salamah, “Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Saw., pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Saw. bersabda kepadaku: “Wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini juga berlaku ketika minum, berdasarkan hadits Ibnu Umar, “Jika seseorang dari kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim).

Perhatikan bahwa hadits tersebut menggunakan kata perintah (makanlah dengan tangan kananmu). Dan menurut para ahli, hukum asal dari perintah adalah wajib. Nabi Saw. bersabda dalam hadits Abu Hurairah, “Apa-apa yang aku larang, maka tinggalkanlah. Dan apa-apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Muslim).

Maka sudah sepatutnya setiap kita, sebagai Muslim memperhatikan adab ini, dan tidak meremehkannya, sebagai upaya untuk menaati Allah dan Rasul-Nya serta usaha meneladani Beliau saw. (HalalMUI)

Agaknya ada orang yang beralasan “bukankah sebagian ulama hanya memakruhkan, tidak mengharamkan?” Maka Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan: “Sebagian ulama memang ada yang berpendapat makruh.” Namun, kalaupun makruh, tetap saja itu berarti tidak halal, dan tentu harus dihindarkan. 

Jelas, tidak semestinya kita menentang sabda Rasulullah Saw. karena Rasulullah Saw. telah  bersabda kepada kita: ‘janganlah kalian makan dan minum dengan tangan kiri karena setan makan dan minum dengan tangan kiri‘ Jika kita sebagai orang Mukmin disuruh memilih, apakah lebih suka dengan tuntunan Rasulullah Saw. ataukah lebih suka dengan jalannya setan? Tentu kita akan menjawab, saya lebih suka dengan tuntunan Rasulullah saw. Selain itu, andaikan seseorang menguatkan pendapat makruhnya hal ini, maka sejatinya, yang makruh itu pun harus dijauhi. Bukan malah melakukannya, apalagi menjadikannya sebagai kelaziman/kebiasaan.

Lebih lanjut lagi, diantara adab atau akhlak dalam makan dan minum adalah tidak berlebihan, apalagi sampai mubadzir. Allah melarang dengan tegas, “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf, 7: 31).

Tuntunan Rasulullah Saw. dalam membagi kapasitas perut adalah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafas. Diriwayatkan dari Miqdam bin Ma’di Yakrib bahwa Nabi bersabda, “…cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika mesti dilakukan maka hendaklah dia meletakkan porsi sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Imam Turmudzi)

Di antara bentuk pemborosan yang dilakukan oleh sebagian warga masyarakat, misalnya dalam acara kenduri atau walimahan, mengambil hidangan yang banyak, tetapi tidak memakannya sampai habis. Menjadi sangat ironi, dan bisa menimbulkan kesenjangan bahkan kecemburuan sosial. Di satu pihak banyak warga masyarakat sangat berkekurangan dalam konsumsi, tetapi di sisi lain, ada orang yang berlebihan bahkan membuang-buang makanan, menjadi sia-sia. Sikap-perbuatan ini dilarang pula dengan tegas, bahkan diancam dengan predikat sebagai saudara setan sebagaimana terdapat dalam firman Allah yang bermakna: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isro’, 17: 27).

Demikianlah, mengimplementasikan ketentuan halal yang prinsip ini dalam konsumsi, berarti juga mengamalkan tuntunan akhlaknya yang utama. Niscaya akan dapat menjaga keharmonisan hidup sosial dengan moral spiritual yang kental. Semoga. (HalalMUI)

Sumber: Jurnal Halal, 123



MUI Himbau Semua Pihak Tahan Diri Pasca Pemilu

Jakarta – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Buya Zainut Tauhid Saadi memuji berlangsungnya pesta demokrasi 17 April lalu yang kondusif dan lancar.

“Kelangsungan Pemilu serentak tahun 2019 yang berjalan tertib, lancar, dan aman. Ini menunjukkan rakyat semakin matang dan dewasa dalam berdemokrasi.” katanya kepada MUI.OR.ID melalui pesan tertulis, Jum`at (19/4).

MUI meminta kepada seluruh masyarakat, lanjutnya, untuk dapat menyikapi seluruh proses tahapan Pemilu serentak tahun 2019 dengan sabar, tawakal, dan terus berdoa,.

“Saya berharap situasi dan kondisi seperti saat ini tetap terjaga dan terpelihara hingga semua proses dan tahapan Pemilu berakhir dilaksanakan, ” ungkapnya.

MUI, lanjutnya, mengapresiasi kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang telah menunjukkan sikap kenegarawanan untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia khususnya para pendukungnya agar menjaga persaudaraan, persatuan dan kesatuan.

Apresiasi juga diberikan kepada tim capres-cawapres yang meminta semua pendukungnya untuk tetap tenang dan tidak emosional menyikapi hasil hitung cepat (quick count) yang sudah banyak dirilis oleh lembaga survei dengan tetap bersabar menunggu keputusan resmi dari KPU.

Dia mengatakan MUI meminta dengan tulus kepada semua pihak agar dapat menahan diri dan tidak berlebihan dalam mengekspresikan kegembiraan atau kekecewaannya dalam menyikapi hasil hitung cepat.

Hal itu, kata dia, bisa diwujudkan dengan memberikan komentar yang mencegah upaya delegitimasi lembaga negara yang sah, mengajak dan memprovokasi umat untuk melakukan tindakan dan perbuatan yang bertentangan dengan hukum, demokrasi dan menjunjung nilai-nilai konstitusi.

MUI meminta kepada semua pihak untuk dapat menggunakan jalur hukum dalam menyelesaikan semua tindak pelanggaran Pemilu.

“Karena itulah jalan demokrasi yang kita pilih sebagai bangsa yang maju religius, modern dan beradab,” kata dia.

Jalan demokrasi, kata dia, bukan kekerasan dan pemaksaan kehendak yang justru dapat menimbulkan malapetaka, kemudaratan yang dapat mengancam keretakan dan perpecahan bangsa.

“Pemilu 2019 tidak boleh menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, ” ucapnya.

Pilihan politik, sambung Buya Zainut, boleh berbeda tetapi semangat persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa harus tetap terpelihara dan terjaga.

Untuk itu, dia meminta kepada Penyelenggara Pemilu (KPU, Bawaslu dan DKPP) agar terus melaksanakan tugasnya dengan jujur, penuh amanah, dedikasi serta pengabdian untuk bangsa dan negara.

“Juga kepada jajaran TNI/Polri untuk terus mengawal, melindungi dan memberi rasa aman kepada seluruh masyarakat Indonesia,” kata dia. (Ichwan/Thobib)



5 (Lima) Sahabat Terkaya yang Diberitakan Masuk Surga

Dalam artikelnya, Dr. Yusuf ibn Ahmad al Qasim berusaha melakukan riset perpustakaan sederhana untuk mencari tahu siapa saja para sahabat Rasulullah SAW yang memiliki kekayaan terbesar dan nilai asetnya.

Tertarik dengan artikel tersebut, di samping menerjemahkannya secara bebas, saya (Faishol) melakukan verifikasi ulang melalui sumber-sumber lain yang dijelaskan pada tempatnya serta menyusun urutan personal berdasarkan aset terbesar. Nilai kekayaan yang diungkap di sini adalah nilai aset tarikah yang ditinggalkan saat mereka wafat.

5 (Lima) Orang Sahabat Terkaya

  1. ‘Abdurrahman ibn ‘Awf
  2. Az-Zubayr ibn al ‘Awwam
  3. ‘Utsman ibn ‘Affan
  4. Thalhah ibn ‘Ubaydillah
  5. Sa’d ibn Abi Waqqash

1. ‘Abdurrahman ibn ‘Awf (44 SH – 32H / 580 – 652 M). Nilai kekayaan saat wafat Rp. 6.212.688.000.000,-

Kekayaan sahabat yang satu ini benar-benar membuat geleng-geleng kepala. Beliau adalah orang kedelapan yang masuk Islam. Usianya 10 tahun lebih muda dari Nabi SAW. Beliau mengikuti semua peperangan dalam sejarah perjuangan Islam di era Nabi SAW. Beliau terkenal sebagai pebisnis ulung. Saat tiba di Madinah (era hijrah), beliau datang dengan tangan kosong. Seperak pun tidak dimiliknya. Lalu Rasulullah SAW menjalinkan mu’akhah antara beliau dengan Sa’d ibn al Rabi’, salah satu orang kaya Madinah saat itu. Sa’d menawarkan setengah dari harta miliknya untuk beliau, termasuk menceraikan salah satu dari dua orang istrinya untuk bisa dinikahi beliau. Namun beliau menolak halus dan penuh respek sambil berkata, “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu dengan istri dan hartamu. Cukup tunjukkan aku di mana pasar.”Total aset kekayaan saat beliau wafat –seperti dikutip oleh Ibn Hajar- adalah 3.200.000 (dalam bentuk Dinar, menurut asumsi Ibn Hajar, al Fath, Juz 14, hal. 448). Nilai ini adalah hasil matematis dari informasi yang mengatakan bahwa saat wafatnya, masing-masing dari empat orang istrinya menerima sebesar 100.000 Dinar. Dengan akuntasi Fara`idh, maka total tarikah (harta yang ditinggalkannya) adalah : 100.000 dinar x 4 (orang istri) x 8 (ashl al mas`alah) = 3.200.000 Dinar.Jika dirupiahkan, nilai tersebut setara dengan Rp. 6.212.688.000.000,- (enam triliun, dua ratus dua belas milyar, enam ratus delapan puluh delapan juta Rupiah). Lihat nilai tukar yang digunakan di akhir tulisan.Sementara ituIbn Katsir (al Bidayah wa an Nihayah, Juz 7, hal, 184) mengutip sumber lain menulis bahwa saat wafatnya, ‘Abdurrahman meninggalkan aset terdiri dari:

  • 1000 ekor unta
  • 100 ekor kuda
  • 3000 ekor kambing (di Baqi’)

Seluruh istrinya yang berjumlah empat orang memperoleh (dari harga jual aset tersebut) sebesar 320.000 (Dinar[?]). Nilai ini adalah 1/8 dari total harta diwaris sehingga masing-masing istri mendapatkan 80.000(Dinar[?]).

Dengan data ini maka total aset peninggalannya adalah 80.000 x 4 (orang istri) x 8 = 2.560.000(Dinar[?]). Jika dikonversi ke rupiah setara dengan Rp.4.970.150.400.000,- (empat triliun, sembilan ratus tujuh puluh milyar, seratus lima puluh juta, empat ratus ribu Rupiah) ditambah dengan seluruh jumlah 3 (tiga) jenis hewan-hewan peternakan yang disebutkan.

Sumber mana pun yang ingin dirujuk dari dua informasi di atas, ‘Abdurrahman layak menempati posisi pertama sebagai sahabat Rasulullah SAW yang paling kaya.

Yang amat menarik untuk dijadikan cermin kepribadian muslimin lain, saat hendak wafat beliau berwasiat memberikan 400 Dinar kepada para peserta perang Badr yang masih hidup yang jumlahnya saat itu sebanyak 100 orang. Total nilai wasiat menjadi 400 Dinar x 100 = 40.000 Dinar atau setara 77.658.600.000 (Tujuh puluh Tujuh milyar, Enam ratus Lima puluh Delapan juta, Enam ratus ribu Rupiah). Sayyidina Ustman RA dan sayyidina Ali RA termasuk di antara yang menerimanya.

Wasiat tersebut belum termasuk wasiat yang diberikannya secara khusus kepada para istri Rasulullah SAW yang masih hidup dalam jumlah yang besar (penulis tidak menemukan informasi nilainya). Jumlahnya yang besar ini hingga mendorong Aisyah RA berdoa, “Semoga Allah menyiraminya dengan cairan dari nektar.” (nektar atau salsabil adalah madu bunga, yaitu cairan yang kaya dengan gula yang dihasilkan oleh tumbuhan). Belum lagi dengan budak-budak yang dimerdekakannya secara cuma-cuma.

2. Az Zubayr ibn al ‘Awwam (28 SH -36 H / 594 – 656 M). Nilai kekayaan saat wafat Rp.3.543.724.800.000,-

Konon, satu-satunya orang yang setanding beliau dalam kemahirannya bertempur sambil berkuda adalah Khalid ibn al-Walid (the Drawn Sword of God). Kedua sahabat ini mampu berkuda dalam posisi kedua tangannya menggenggam pedang. Sementara itu, pengendalian kuda dilakukan dengan kakinya.

Seperti diinformasikan oleh al-Bukhariy (al Jami’ al Shahih, al Bukhariy, Juz 3, hal. 1137), Az Zubayr RA wafat hanya meninggalkan kekayaan berupa aset tidak bergerak (tanah), di antaranya yang berada di Ghabah (wilayah di barat laut Madinah, sekitar 6 km dari Madinah), 11 (sebelas) rumah (besar/dar) di Madinah, 2 (dua) rumah di Bashrah, dan 1 (satu) rumah masing-masing di Kufah dan di Mesir.

Beliau mewasiatkan 1/3 dari total harta peninggalannya (tarikah) untuk para cucunya dan 2/3-nya dibagi-bagikan kepada ahli warisnya. Beliau memiliki empat orang istri di mana setiap istri mendapatkan waris senilai 1.200.000 Dirham (Shahih al Bukhariy).

Dengan data ini, perhitungan total nilai aset peninggalan beliau, termasuk yang diwasiatkannya kepada para cucunya adalah:

  • Bagian istri: 1.200.000 x 4 (orang istri) = 4.800.000 Dirham. Angka ini -sesuai akuntansi waris- adalah 1/8 dari 2/3 total tarikah (harta waris) setelah dikurangi 1/3 untuk wasiat.
  • Total yang diwariskan: 4.800.000 Dirham x 8 = 38.400.000 Dirham = 2/3 total tarikah.
  • Nilai yang diwasiatkan: 38.400.000: 2 = 19.200.000 = 1/3 total tarikah

Total tarikah (termasuk wasiat) adalah 38.400.000 Dirham + 19.200.000 Dirham = 57.600.000 Dirham. Dalam unit Rupiah, 57.600.000 Dirham setara dengan Rp.3.543.724.800.000,- (tiga triliun, lima ratus empat puluh tiga milyar, tujuh ratus dua puluh empat juta, delapan ratus ribu Rupiah).

3. ‘Utsman ibn ‘Affan (47 SH – 35 H / 577 – 656 M). Nilai kekayaan saat wafat Rp.2.532.942.750.000,-Ibn Katsir (al Bidayah wa an Nihayah, Ibn Katsir, Juz 7, hal. 214) mencatat, dana yang dimiliki olehsahabat ‘Utsman saat wafat terdiri dari:

  1. Tarikah 1 (tunai) : 30 juta Dirham
  2. Tarikah 2 (tunai) : 150.000 Dinar
  3. Sedekah : 200.000 Dinar
  4. Unta : 1000 ekor

Jika dirinci dengan nilai rupiah menjadi :

  1. Tarikah 1 (tunai) : 1.845.690.000.000
  2. Tarikah 2 (tunai) : 291.219.750.000
  3. Sedekah : 388.293.000.000
  4. Unta : 7.740.000.000

Jumlahnya menjadi Rp.2.532.942.750.000,- (dua triliun, lima ratus tiga puluh dua milyar, sembilan ratus empat puluh dua juta, tujuh ratus lima puluh ribu Rupiah).

Perhitungan di atas bisa jadi lebih kecil dari nilai kekayaan yang sesungguhnya mengingat jumlah tersebut belumآ mencakup aset-aset berikut:

  • pembelian sumur di Rumah (sekitar 5 km dari Masjid Nabawiy) yang diwakafkan untuk keperluan masyarakat senilai 35.000 Dirham (al Mu’jam al Kabir, ath Thabaraniy, Juz 2, hal. 41 atau 1227)
  • hibah 950 unta untuk alat perlengkapan perang Tabuk/’Usrah. (ar.wikipedia.org/wiki/ط¹ط«ظ…ط§ظ†_ط¨ظ†_ط¹ظپط§ظ†)
  • aset tanah (dhiya’) dan kuda yang jumlahnya amat sangat banyak (Tarikh Ibn Khaldun, Jil. 1)

Kekayaan lain Utsman RA yang amat tak terkira, meski bukan kekayaan finansial adalah menikahi dua orang putri Rasulullah SAW (Ruqayyah lalu Ummu Kultsum, radhiyallah ‘an huma).

4. Thalhah ibn ‘Ubaydillah (≈ 26 SH – 36 H / 598 – 656 M). Nilai kekayaan saat wafat Rp.542.100.500.000,-

  1. Tarikah 1 (tunai) : 2.200.000 Dirham
  2. Tarikah 2 (tunai) : 200.000 Dinar
  3. Sedekah 1 (tanah) : 300.000 Dirham (belum dapat verifikasinya)

Jika dirupiahkan menjadi:

  1. Tarikah 1 (tunai) : 135.350.600.000
  2. Tarikah 2 (tunai) : 388.293.000.000
  3. Sedekah 1 (tanah) : 18.456.900.000

Jumlahnya menjadi Rp.542.100.500.000,- (lima ratus empat puluh dua milyar, seratus juta, lima ratus ribu Rupiah)

Sementara itu, sumber lain (ath Thabaqat al Kubra, Ibn Sa’d, Juz 3, hal. 222) mengutip bahwa jumlah seluruh kekayaan Thalhah (tunai dan non-tunai) saat wafat adalah 30.000.000 Dirham atau setara Rp.1.845.690.000.000 (satu triliun, delapan ratus empat puluh lima milyar, enam ratus Sembilan puluh juta Rupiah).

Dr. Yusuf menjelaskan, informasi yang terakhir ini disampaikan oleh –salah satunya- Muhamad ibn ‘Amr al-Waqidiy yang oleh beberapa ulama diragukan ke-tsiqah-annya. (Baca tentang al-Waqidiy)

5. Sa’d ibn Abi Waqqash (23 SH – 55 H / 600 – 675 M). Nilai kekayaan saat wafat Rp.15.380.750.000,-

Dalam sepanjang sejarah peperangan Islam, beliau tercatat sebagai orang yang pertama kali kena tusuk anak panah dan beliau pula yang pertama kali dalam sejarah Islam melesatkan panah dari busurnya ke arah musuh. Beliau termasuk generasi awal yang masuk Islam. Sebagian informasi menyebutnya sebagai orang keempat dari kalangan laki-laki yang masuk Islam awal setelah Abu bakr, Ali dan Zayd, radhiyallah ‘an hum.Nilai tarikah atau harta warisnya -seperti dikutip oleh Ibn Katsir- sebesar 250.000 Dirham (al Bidayah wa an Nihayah, Juz 8, hal. 84). Jika dirupiahkan, nilai ini setara dengan Rp.15.380.750.000,- (lima belas milyar, tiga ratus delapan puluh juta, tujuh ratus lima puluh ribu Rupiah).

Mereka -kelima sahabat Rasulullah SAW adalah para pebisnis dan dermawan ulung. Dalam waktu yang sama mereka adalah sebagian dari para sahabat yang mendapatkan berita gembira tentang perolehan surga. Mereka adalah manusia-manusia yang luar biasa karena -umumnya- kekayaan sering menjauhkan diri dari Allah SWT dan melenakan.

Mereka adalah teladan. Bagaimana tidak? Mereka -di samping sebagai orang kaya- juga turun langsung ke dalam kancah pertempuran. Penyikapan mereka terhadap harta yang dimilikinya menjadikan aset-aset tersebut sebagai harta yang baik yang berada di tangan orang baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW ظ†ط¹ظ… ط§ظ„ظ…ط§ظ„ ط§ظ„طµط§ظ„ط­ ظ„ظ„ظ…ط±ط، ط§ظ„طµط§ظ„ط­ – ط±ظˆط§ظ‡ ط£ط­ظ…ط¯. Sebuah fenomena langka di tengah masyarakat umumnya.

Catatan:

  1. Nilai yang disebutkan dalam unit rupiah bersifat perkiraan yang mengacu kepada:
    1. Harga beli Dinar : Rp.1.941.465 (27 April 2013 di geraidinar.com)
    2. Harga beli Dirham : Rp.61.523 (27 April 2013 di geraidinar.com)
    3. Harga unta per ekor : 3000 riyal (harga unta di pasar Ukaz tahun 2011 berkisar antara 1.800 Riyal hingga 4.000 Riyal, tergantung usia unta. Namun, yang sesuai dengan diyat adalah 3.000 Riyal dengan usia 3 tahun). 1 riyal (beli) = Rp.2.580 (27 April 2013 – vip.co.id). Asumsi “santai” 1 ekor unta = 3000 riyal Saudi x 2.580 = Rp.7.740.000,-
  2. Di era Rasulullah SAW, nilai tukar 1 dinar = 10 Dirham. Meski demikian penulis menggunakan konversi Dinar dan Dirham berbanding Rupiah yang berlaku saat tulisan ini dibuat agar mendapatkan gambaran yang lebih mudah. Konversi ini memang mengakibatkan perbandingan 1 Dinar menjadi 1 : 31,557 Dirham. Jauh dari realita konversi era sahabat. Namun masalah konversi bukan hal utama yang ingin disampaikan. Pembaca dipersilakan mengonversi ulang nilai tukar di sini sesuai dengan apa yang dianggapnya paling mendekati kebenaran.
  3. Penulis meyakini bahwa aset sesungguhnya yang mereka miliki jauh lebih besar dari apa yang dikemukakan di dalam tulisan ini mengingat mereka dikenal juga dermawan ulung. Artinya, nilai aset yang disebutkan belum mencakup nilai charity yang didonasikan semasa hidupnya.
  4. Kondisi finansial kelima sahabat ini tidak dapat dijadikan cermin kondisi finansial para sahabat lainnya. Sebaliknya, pada umumnya mereka adalah orang-orang hidup dalam kondisi finansial yang minim dan pas-pasan.

Artikel ini telah dimuat di : https://dsnmui.or.id/5-lima-sahabat-terkaya-yang-diberitakan-masuk-surga/



Perbedaan Syarikah al Milk dan Syarikah al ‘Aqd

Ketika belajar Syirkah/Syarikah, khususnya saat belajar musyarakah mutanaqishah, sering muncul pertanyaan, apa perbedaan antara syarikah al milk dan syarikah al ‘aqd. Tulisan ini mencoba menjelaskan perbedaan keduanya.

1. Syarikah al Milk (شركة الملك)

Dalam syarikah al milk, hubungan sesama mitra (syuraka`) tidak mengandung unsur wakalah dan kafalah. Dengan demikian, mitra (syarik) yang satu bukan merupakan wakil dan kafil dari mitranya yang lain terkait dengan asset atau barang yang dimiliki bersama oleh keduanya.

Contoh, bapak A dan bapak B secara bersama-sama memiliki sebuah motor Honda. Entah itu dari hasil beli patungan atau hasil warisan atau hasil pemberian dari orang lain untuk mereka berdua.

Kepemilikan bersama (syarikah) terhadap motor Honda oleh kedua orang tersebut disebut syarikah al milk jika masing-masing mitra (bapak A dan bapak B) tidak saling menyerahkan hak perwakilan (wakalah) untuk melakukan tasharruf dan tidak ada saling kafalah. (lihat arti tashaaruf di bawah)

Maksudnya begini, jika bapak A tidak menyerahkan hak tasharruf atas porsi yang menjadi miliknya kepada bapak B dan sebaliknya, bapak B tidak menyerahkan hak tasharruf atas porsi yang menjadi miliknya kepada bapak A maka syarikah seperti ini adalah syarikah al milk.

Mari contoh di atas diperjelas. Jika bapak A tidak mengizinkan bapak B (atau sebaliknya) untuk menjual porsi yang menjadi miliknya (milik bapak A dan sebaliknya) dari sebuah motor Honda tersebut maka syarikah ini disebut syarikah al milk.

Ketidak-adaan hak bagi mitra untuk bertindak atas porsi mitranya yang lain ini membuat akad jual motor dimaksud bisa dibatalkan sama sekali atau batal untuk porsi mitra yang tidak mengizinkan.

Contoh lain, masih dengan contoh di atas, jika bapak A ngojek dengan motor Honda milik bersama dan mendapatkan uang, maka (1) bapak A berdosa; dan (2) bapak B berhak atas ujrah wajar (ujrah al mitsl) sebagai akibat porsinya (pada motor tersebut) dimanfaatkan untuk ngojek oleh bapak A. (Besaran ujrah al mitsl akan menjadi pembahasan tersendiri)

Di samping itu, syarikah al milk juga tidak mengandung kafalah. Jika bapak A merusak motor Honda milik bersama tadi (entah merusak secara sengaja atau tidak), maka porsi kepemililkan bapak B tidak berubah. Kerusakan motor sepenuhnya menjadi tanggungjawab bapak A karena dia yang merusaknya.

Katakanlah motor Honda milik bersama tadi sebelum dirusak bapak A seharga 10 juta di mana porsi masing-masing adalah 50%, dan akibat kerusakan ini motor terjual dengan harga 7 juta maka bapak B tetap memiliki hak sebesar 5 juta sedangkan bapak A mendapat haknya hanya sebesar 2 juta. Karena tidak ada kerugian yang ditanggung bersama dalam syarikah al milk. Bapak A harus rela kehilangan 3 juta-nya.

Jika anda dan saudara anda mendapat warisan sebuah rumah, lalu rumah dirusak oleh saudara anda, maka nilai hak yang berkurang hanya di sisi hak saudara anda. Sedangkan bagian anda tidak berkurang. Demikian karakter syarikah al milk.

Jadi, bapak A (mitra 1) hanya berhak atas porsi miliknya dan bapak B (mitra 2) hanya berhak atas porsi miliknya. Bapak A tidak bisa dan tidak ada hak untuk -contoh- menjual porsi milik mitranya (bapak B). Begitu juga bapak B tidak boleh mengutak-atik porsi yang menjadi bagian mitranya, yaitu bapak A. Mengutak-atik dalam arti menjual, menyewakan atau tindakan apapun yang berakibat hukum.

2. Syarikah al ‘Aqd (شركة العقد)

Berbeda dengan syarikah al milk, hubungan sesama mitra dalam Syarikah al ‘Aqd mengandung unsur wakalah dan kafalah.

Ini artinya setiap mitra diberi hak oleh mitranya yang lain untuk melakukan tasharruf terhadap aset yang dimiliki bersama.

Contoh, bapak A dan bapak B memilik bersama sebuah motor Yamaha. Mereka (para mitra yaitu bapak A dan bapak B) saling memberikan hak untuk mengelola asset bersama, yaitu motor Yamaha. Contoh mengelola adalah disewakan, dijual-belikan dan lain-lain.

Contoh pengelolaan, bapak A mengizinkan kepada bapak B (dan sebaliknya) untuk menyewakan porsi kepemilikan masing-masing terhadap motor Yamaha milik bersama kepada pihak ke-3 di mana uang hasil sewa menjadi milik mereka (A dan B) sesuai kesepakatan atau sesuai porsi kepemilikan mereka.

Contoh ini menjelaskan bahwa setiap mitra mengizinkan porsi kepemilikannya dikelola atau di-tasharruf-kan oleh mitra yang lain. Itu artinya dalam syarikah al ‘aqd terdapat unsur wakalah.

Syarikah al ‘Aqd juga mengandung unsur kafalah. Untuk itu, jika motor Yamaha ini dirusak oleh salah satu mitra secara tidak sengaja, maka kerugian akibat kerusakan ditanggung bersama oleh kedua belah mitra (bapak A dan bapak B) sesuai dengan porsi kepemilikan.

Contoh, porsi kepemilikan masing-masing senilai 50%, harga motor Yamaha sebelum rusak adalah 10 juta, dan akibat rusak dijual dengan harga 7 juta, maka masing-masing menanggung kerugian sesuai porsinya yaitu 50%. Dengan demikian, kerugian sebesar 3 juta dibagi rata kepada A dab B, sehingga masing-masing menanggung 1,5 juta. Untuk itu, uang hasil penjualan (jika syarikah ingin dibubarkan/tashfiyah) maka masing-masing mendapat 3,5 juta.

Kesimpulannya, jika dalam syarikah atau kepemilikan bersama terdapat unsur saling wakalah dan saling kafalah maka kepemilikan bersama ini adalah syarikah al ‘aqd. Sebaliknya, jika tidak ada unsur saling wakalah dan saling kafalah maka ia adalah syarikah al milk.

———-

Tasharruf adalah segala tindakan yang berakibat hukum atas asset baik ucapan atau perbuatan. Tasharruf semacam disposition, yaitu getting rid of an asset or security through a direct sale or some other method. Di antara tasharruf adalah menjual, menyewakan dan bentuk perpindahan kepemilikan lainnya.

* Tulisan ini merujuk ke pelbagai sumber, di antaranya al Mawsu’ah al Fiqhiyyah.

Tulisan ini telah dimuat di : https://dsnmui.or.id/perbedaan-syarikah-al-milk-dan-syarikah-al-aqd/



Understanding The Misunderstood Concept

Keinginan kaum muslimin terutama para intelektual dan ulama mereka untuk dapat hidup dalam naungan Islam secara kaffah adalah suatu impian yang tak pernah padam. Bahkan hal itu merupakan tuntutan agama yang wajib dipenuhi.

Selama ini mereka hanya dapat mengimplementasikan ajaran agama di bidang-bidang tertentu saja seperti bidang ubudiyah, lalu ditambah sedikit budaya, sedikit politik dan sedikit lagi di bidang keuangan dan ekonomi.

Padahal Islam diturunkan kepada umat manusia sebagai hidayah atau huda atau petunjuk agar dipeluk secara kaffah sehingga terasa makna rahmatan lil alamin. Tanpa aplikasi yang kaffah tidak mungkin dapat dirasakan makna Isam sebagai rahmatan lil alamin. Karena kolonialisme Barat atas dunia Islam yang begitu lama, maka yang muncul ke permukaan hanyalah Islam parsial sehingga gambaran Islam yang kaffah tidak pernah mucul lagi selama ratusan tahun hingga hari ini.

Setelah perjuangan membebaskan diri dari penjajahan, maka kaum muslimin dapat mengatur agenda pembangunan untuk mengisi kemerdekaan tersebut. Salah satu agenda yang sudah cukup lama untuk dilaksanakan adalah menata sistem ekonomi sesuai dengan tuntutan Islam yang melarang ribaghararmaysirzhulm dan maksiat. Sejak itu, para pakar dan ulama mulai bahu membahu mewujudkan lembaga keuangan yang bebas dari hal-hal di atas.

Ketika lembaga-lembaga keuangan Islam ini mulai banyak tumbuh di negeri-negeri muslim bahkan juga di negara-negara non muslim, ada sekelompok kecil yang melihat hal itu dengan kaca mata hitam pekat. Kelompok ini tidak saja meragukan atas  upaya penegakan ekonomi dan keuangan Islam, melainkan mendakwahkan ke sana kemari bahwa  lembaga-lembaga keuangan Islam ini tidak pantas dilabeli Islam atau syariah.

Di mata kelompok kecil tersebut, substansi antara lembaga keuangan syariah dan  konvensional, sama saja, tidak ada perbedaan asasi. Keduanya sama-sama tetap mengandung ribagharar dan maysir. Dengan demikian seluruh upaya keras yang selama ini dilakukan oleh kaum Muslimin, para ulamanya serta kaum  intelektualnya hanyalah upaya yang sia-sia bahkan bisa dikategorikan menipu Allah dan RasulNya, dan umat Islam secara keseluruhan.

Validkah Penilaian Tersebut?

Bagi penulis, penilaian itu terlihat sangat terburu-buru. Bagaimana mungkin tidak ada perbedaan antara lembaga keuangan syaraiah dan non syariah. Para ulama dan intelektual Muslim sudah sangat paham akan keharaman riba dan kawan-kawannya, bahkan mereka juga sudah merasakan mudharatnya bagi pelaku dan masyarakat yang membolehkan barang haram tersebut.

Karena itu, pada saat mereka memutuskan untuk mendirikan lembaga ekonomi dan keuangan Islam tujuannya adalah justru untuk menghindarkan diri dari  riba, gharar, dan maysir? Pada saat memasang niat itu, para penggagas ekonomi dan keuangan syariah tentu sama sekali tidak terpikir untuk bermain-main dengan riba, gharar dan maysir  yang jelas-jelas dilarang oleh ajaran Islam. Keharaman hal-hal di atas tidak perlu lagi diperdebatkan karena begitu jelas. Secara fikih keharaman hal-hal itu adalah ma’luum minad diin bidh-dharuurah.

Para pengkritik keuangan syariah ini sepertinya tidak berpikir bahwa penggagas lembaga keuangan Islam ini adalah para ulama, intelektual yang sangat paham tentang fikih muamalah dan detil-detil keuangan modern.

Akan tetapi kritik-kritik bahwa praktik-praktik di lembaga keuangan syariah terutama perbankan syariah yang dinilai melenceng dari nilai syariah, sudah terlanjur tersebar di publik. Akibat dari ini semua, masyarakat menjadi bingung. Situasi ini tentu tidak menguntungkan bagi perkembangan industri keuangan syariah yang tengah diupayakan oleh seluruh stake holder syariah di Indonesia.

Alih-alih saling menyalahkan, lebih baik kita fokuskan perhatian kita untuk mengurai kebingungan ini, agar umat tidak makin bingung.

Pertama, kita mesti tanamkan bahwa khilafiah (perbedaan) adalah hal biasa.

Kebingungan yang tengah melanda industri keuangan syariah di Indonesia belakangan ini muncul karena ada pengkritik yang mengatakan bahwa praktik-praktik di industri itu tidak sesuai dengan ketentuan syariah. Hal itu tampaknya terjadi karena mereka tidak terbiasa atau belum terbiasa dengan menyikapi khilafiah dalam kehidupan beragama terutama dalam konteks fikih muamalah.

Jika dikaji dengan teliti dan mendalam, sesungguhnya banyak sekali perbedaan pendapat di kalangan ulama dan fuqaha dalam banyak sekali persoalan fikih muamalah. Termasuk dalam akad-akad yang sudah sangat familiar, seperti ijarah dan lain-lain. Menurut Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitab manumentalnya, alfiqh al-Islami wa adillatuh juz 4 halaman 730, dalam bab aqd al-iijar, bahwa fuqahaa` menyepakati keabsahan dan kesyariahan akad ijarah kecuali beberapa ulama seperti Abu Bakar al-‘Ashom, Ismail bin Aliyyah, Hasan Basri, Qosyasyi, Nahrawani dan Ibnu Kisan. Mereka ini berpendapat bahwa akad ijarah itu gharar karena ketika akan diselenggarakan, barangnya tidak ada atau tidak nyata sehingga menimbulkan ketidak pastian dan ketidak jelasan (gharar).

Namun perjalanan fikih muamalah pada hakekatnya mengikuti arah kebutuhan dan hajat kaum muslimin sehingga pandangan jumhur ulama tentang validitas dan keabsahan akad ijarah yang akhirnya berlaku dan kaum muslimin dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sosial, komersial, kultural dan politik  mereka sehingga kehidupan menjadi nyaman, mudah dan elegan. Bayangkan apa yang akan berlaku  jika yang terjadi adalah sebaliknya.

Inilah peradaban Islam di sepanjang sejarahnya. Sebuah peradaban yang berjalan penuh dengan inovasi dan kreatifitas di bidang fikih muamalah. Seperti ijarah, begitu juga berlaku pada akad-akad lainnya.

Kedua, kita bisa melihat dua kemungkinan kategorisasi para kritikus ini, yang pertama, mereka sangat paham seluk-beluk keuangan konvensional dan syariah sekaligus. Dengan kata lain, kita berhusnudhanbahwa pada diri mereka terkumpul pengetahuan yang mapan tentang keuangan moderen konvensional dan pada saat yang sama, sangat mendalam pengetahuan mereka dalam fikih muamalah maaliyah.

Kombinasi kemampuan seperti itu patut diragukan mengingat bahwa industri keuangan syariah ini pada dasarnya adalah fenomena baru bahkan untuk ukuran di masyarakat Timur Tengah sekalipun. Karena itu menemukan individu yang benar-benar menguasai dua bidang utama itu boleh dibilang sangat sulit.

Untuk menyimpulkan bahwa praktik keuangan syariah di Indonesia tidak syariah dibutuhkan skill dan competency keilmuan dan kepakaran yang lengkap. Karena dibutuhkan kompetensi di bidang fiqih muamalah maaaliyah dan pada saat yang sama memiliki pemahaman yang kuat tentang seluk beluk dan lika liku keuangan konvensional, dan itu yang agaknya masih sulit ditemui.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengkritik dalam kategori ini belum ada ditemukan. Biasanya mereka berasal dari kategori kedua yaitu mereka adalah sarjana syariah tapi sangat tidak memahami seluk beluk keuangan konvensional  modern serta hukum perdata yang berlaku di mana lembaga keuangan syariah itu beroperasi. Akibatnya, secara ilmiah kritikan mereka itu tidak berdasar dan tidak mengena.

Ketiga, bahwa pengkritik tidak memahami seluk-beluk keuangan konvensional dan syariah ditambah kurang memahami fiqih muamalah.

Pengkritik ini biasanya baru masuk ke dalam industri keuangan dengan idealisme tertentu dalam pikirannya. Ketika mereka merasakan ada diskrepansi antara idealisme dengan apa yang mereka rasakan dalam industri, mereka mengkritiknya secara frontal.  Dengan terburu-buru mereka menyimpulkan bahwa praktik keuangan syariah saat ini tidak sesuai dengan ketentuan syariah. Kesimpulan seperti ini jelas berbahaya bagi dirinya dan lembaga keuangan syariah karena didasarkan pada kebodohannya sendiri. Berbahaya bagi dirinya karena kebodohan tidak akan mengantarkan kepada kebenaran. Berbahaya bagi pihak lain karena kebeodohannya itu akan ditularkan kepada masyarakat sehingga mereka menjadi bingung dan tidak menentu.

Keraguan dan kebimbangan sebagian anggota masyarakat terkait dengan kesesuian syariah Lembaga Keuangan Syariah (LKS) di Indonesia mungkin tidak akan dapat dihilangkan dalam jangka waktu pendek karena berbagai alasan yang sifatnya multidimensional. Hanya saja ada posisi yang menguntungkan dari kelompok mainstream yang menjadi pioner, penggagas dan pembela utama institusi ini secara legal formal sudah cukup mapan. Hal itu ditunjukkan dengan berbagai undang-undang yang sudah diloloskan oleh DPR RI ditambah dengan penjelasan Undang-undang dan Peraturan Bank Indonesia maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seperti UU No. 40 Tahun 2007 tentang Pereseroan Terbatas, UU no 21 tentang Perbankan Syariah, UU no 40 tahun 2014 tentang perasuransian, POJK no. 15 tahun 2015 tentang penerapan prinsip syariah di pasar modal dan lain-lain.

Keseluruhan undang-undang tersebut pada umumnya menjelaskan bahwa patokan kesesuaian syariah produk dan jasa serta operasional LKS di Indonesia adalah mengacu kepada fatwa MUI. Ini jelas telah membentuk suatu pola integral dalam industri keuangan syariah terkait dengan ketentuan syariah. Sehingga jika ada pihak-pihak tertentu yang menebarkan isyu ketidaksesuaian dengan prinsip syariah akan dengan mudah dilakukan tabayyun dan penegakan kebenaran.

Lewat artikel yang sederhana ini penulis mengharapkan kepada semua stake holder LKS untuk tetap bersemangat menumbuhkembangkan LKS yang kita yakini akan menebarkan Islam sebagai rohmatan lil ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawaab.



Jejak Kejayaan Kesultanan Banten

Muhammad Fakhruddin/anggota Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Pusat

Dinding tebal menjulang setinggi 2 meter mengitari area seluas kurang lebih 3 hektar.  Tampak urat-urat bata dari kulit dinding yang terkelupas di sejumlah ruas sisinya.

Kendati tampak kusam namun tidak menghilangkan kesan kokoh sebuah benteng yang telah menjadi saksi bisu kejayaan Islam di tanah jawara. Benteng bernama Surowowan ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing terletak di sisi utara, timur, dan selatan.

Namun, ketika melongok ke dalam hanya menyisakan runtuhan dinding dan fondasi berbentuk puluhan persegi empat. Reruntuhan yang dipercaya sebagai Keraton Surosowan.

Keraton ini berdirinya setelah Maulana Hasanuddin berhasil merebut Banten dari Kerajaan Padjajaran pada 1526. Kala itu, Padjajaran merupakan satu-satunya kerajaan Hindu yang masih eksis di Pulau Jawa.

Kerajaan Banten bercorak Islam didirikan karena Kesultanan Cirebon mendengar informasi adanya perjanjian antara Portugis dan Kerajaan Padjajaran yang berencana membangun benteng di Sunda Kelapa (Jakarta). Konon, Portugis dan Padjajaran berniat untuk menghambat penyebaran Islam di bagian barat Pulau Jawa.                                               

Pasukan gabungan dari Kesultanan Demak dan Cirebon bersama laskar marinir yang dipimpin Maulana Hasanuddin menyerbu Kadipaten Banten Girang yang bercorak Hindu. Pasukan gabungan berhasil mengalahkan Prabu Pucuk Umun sebagai adipati Banten Girang kala itu.

Setelah penaklukan tersebut, pada 1526 lahirlah Kadipaten Banten yang bercorak Islam di bawah naungan Demak dan Cirebon. Maulana Hasanuddin dinobatkan sebagai adipatinya.

Semenjak Banten Girang berhasil dikalahkan oleh penguasa Islam, terjadilah peralihan kekuasaan. Kekuasaan Islam bertambah jaya ketika pusat Kesultanan Banten dipindah ke Banten Lama yang terletak di kawasan pesisir pantai utara Pulau Jawa bagian barat, tepatnya di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten.

Pemindahan ini merupakan suatu pilihan penting untuk mengembangkan perdagangan, sehingga bandar Banten di pesisir yang berfungsi pusat politik maupun ekonomi berkembang dengan pesat. Pemindahan kota pusat kerajaan itu dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir utara Pulau Jawa dan pesisir Sumatra bagian barat melalui Selat Sunda dan Samudra Indonesia.



MUI Bali Berkomitmen Dukung Gaya Hidup Ramah Lingkungan

JAKARTA– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali menyatakan dukungannya untuk memberlakukan hidup ramah lingkungan/green living.

Ketua MUI Bali, KH Mustafid Amna, memaparkan MUI Bali saat ini kerap mengusung gaya hidup hijau di masyarakat. Di daerah Singara saja misalnya, MUI Bali rutin membagikan bibit-bibit pohon kepada masyarakat.

“MUI Bali mengimbau perkumpulan pengajian dan majelis taklim bisa bergaya hidup hijau,” ungkapnya saat mengisi acara bertema Masjid Ramah Lingkungan dan Kesehatan Keluarga, Ahad, pekan lalu di Masjid Muhammad, Denpasar, Bali.

Kiai Mustafid dalam kesempatan itu juga menyoroti penggunaan air di masa mendatang, khususnya untuk keperluan ibadah. Saat ini, jumlah air bersih semakin sedikit, sehingga perlu bijak menggunakannya agar tidak terbuang sia-sia.

Dia berharap, nanti akan muncul teknologi pengolah air, sehingga air bersih bisa dimanfaatkan secara efisien. “Mudah-mudahan ke depan ada. Limbah air wudhu saat ini kebanyakan digunakan untuk menyiram tanaman saja,” paparnya.

Bagi Kiai Musftafid, menjaga lingkungan merupakan ikhtiar nyata seorang hamba sebagai manusia Allah SWT.

Manajer Lembaga Kemanusiaan Dompet Sosial Madani (DSM), Muhammad Nur Soleh, memaparkan gaya hidup hijau di lingkungan perkotaan bisa dengan memanfaatkan lahan sempit lewat metode hidroponik. Masyarakat juga bisa mengurangi limbah plastik dengan tiga langkah.

“Pilah dengan membawa botol minuman sendiri dan tidak membuang makanan yang berlebih dan terakhir olah melalui penggunaan kembali bahan-bahan yang berpotensi menjadi limba seperti plastik,” katanya.

Kegiatan ini merupakan inisiasi DSM bersama Komunitas Sahabat Subuh Bali dalam rangka menyambut Ramadhan. Sebagai kegiatan ramah lingkungan, setiap peserta kegiatan ini diwajibkan membawa botol air minum isi ulang (tumbler). Jajanan peserta juga dibungkus daun pisang, sehingga tidak ada sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan ini. (Azhar/ Nashih)



MUI: Maksimalkan Hari Tenang dengan Muhasabah dan Munajat

JAKARTA– Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Zainut Tauhid Sa’adi mengajak masyarakat mengisi hari tenang jelang Pemilu 2019 dengan berkontemplasi, muhasabah, dan bermunajat kepada kepada Allah SWT.

“Agar pelaksanaan pemilu serentak tahun 2019 berjalan lancar, aman, damai, dan tidak ada sesuatu yang menjadi rintangan,” ujar Buya Zainut melalui keterangan tertulis, Selasa (16/04).

Buya Zainut juga berharap segenap lapisan masyarakat menjaga situasi kondusif selama masa tenang. Situasi seperti itulah yang menurutnya memicu semangat persatuan dan kerukunan di Indonesia.

Ajakan serupa juga disampaikan Buya Zainut kepada para tokoh masyarakat. Dia memohon tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, maupun media mendinginkan suasana selama masa tenang.

“Kepada mereka diharapkan dapat memerankan diri sebagai penjaga moral, rekonsiliator, dan perekat bangsa untuk merajut kembali keretakan sosial akibat dari hiruk pikuk, silang sengketa, dan ingar bingar selama berlangsungnya masa kampanye,” ungkapnya.

“Sehingga kehidupan masyarakat kembali normal, rukun, damai, dan penuh semangat kekeluargaan dan persaudaraan,” imbuhnya.

Dengan sikap seperti itu, Buya Zainut berharap pemilu bisa dijalani dengan sikap tenang, senang, dan pertimbangan yang jernih serta rasional.

“Sehingga akan terpilih putra-putri bangsa yang beriman, bertakwa, jujur, aspiratif, dan mampu mengemban tugas negara dengan penuh dedikasi, amanah, dan tanggung jawab,” paparnya.

Selama masa tenang, dia berharap tidak ada kampanye maupun upaya pemberian imbalan untuk memengaruhi sikap pemilih. Dia ingin setiap calon yang mengikuti pemilu serentak 2019 mematuhi aturan yang telah ada.

“Agar menaati peraturan pemilu selama masa tenang, antara lain para peserta pemilu dilarang berkampanye dalam bentuk apa pun, menjanjikan atau memberikan imbalan kepada pemilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya, memilih pasangan calon, memilih partai politik peserta pemilu tertentu, dan memilih calon anggota legislatif,” katanya.

Dia juga meminta penyelenggara pemilu seperti KPU, Bawaslu, maupun DKPP bekerja dengan tegas, independen, responsif, profesional, transparan, serta akuntabel. Dengan begitu, dia yakin muncul pemilu demokratis, tertib, aman, jujur, adil, berkualitas, dan bermartabat akan terwujud. (Azhar/Nashih)



MUI Babel Dukung Pemprov Wujudkan 100 Kampung Pangan Halal

JAKARTA– Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Bangka Belitung merealisasikan 100 Kampung Pangan Halal. Langkah ini sebagai upaya mewujudkan Babel menjadi tujuan wisata halal dunia.

Sebagai bentuk dukungan, MUI Babel melalui LPPOM telah menerbitkan seribu sertifikat halal untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dua tahun terakhir LPPOM MUI telah menerbitkan 250 sertifikat halal untuk pelaku UMKM di Babel.

“Pada tahun ini kita akan memberikan 250 sertifikat produk halal kepada UMKM di daerah ini,” kata Ketua MUI Provinsi Babel, KH Zayadi Hamzah, dalam keterangannya kepada MUI.OR.ID di Jakarta, Selasa (16/4).

Dia berharap Kampung Pangan halal ini menyebar di seluruh Babel. Dia ingin nantinya ada komunitas halal yang tumbuh dengan baik di setiap wilayah.

“Kita menginginkan adanya kampung pangan halal baik di kabupaten, di Provinsi Bangka Belitung, kita menginginkan adanya komunitas, adanya sebuah wilayah yang nantinya di situ merupakan segala sesuatu makanan yang ada di wilayah itu adalah sudah disertifikasi halal,” paparnya.

Gubernur Provinsi Babel, Erzaldi Rosman Djohan, menyatakan keseriusannya mengusung program ini. Dia menginginkan program seperti ini segera terwujud mulai di tingkat desa sehingga meningkatkan kunjungan wisata ke Babel.

Dia juga mengatakan mustahil membentuk Kampung Pangan Halal di seluruh Babel karena dia menyadari ada banyak penduduk asli Babel yang merupakan etnis Tionghoa.

“Kita tidak mungkin membentuk kampung pangan halal ini di seluruh desa dan kelurahan, karena di beberapa desa ada yang masyarakatnya mayoritas merupakan etnis Tionghoa atau non-Muslim,” ujarnya.

Di hadapan peserta sosialisasi Kampung Pangan Halal yang terdiri dari 100 kepala desa/kelurahan seluruh Babel itu, dia menyuarakan keinginannya mentransformasikan sektor ekonomi Babel. Babel yang selama ini dikenal sebagai pusat penambangan timah di Indonesia akan dia ubah fokusnya ke sektor pariwisata halal dunia.

“Sebagai langkah untuk mempercepat pembangunan pariwisata dan diharapkan kepala desa dan lurah serius dalam pembentukkan kampung pangan halal ini. Dengan adanya kampung pangan halal ini juga akan meningkatkan usaha mikro kecil menengah di perdesaan yang berdaya saing di pasar dunia,” kata dia. (Azhar/Nashih)



Baznas Dukung MUI Bangun Rumah Sakit Islam di Hebron

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Muhyiddin Junaidi bersama rombongan tim pembangunan Rumah Sakit Islam Indonesia (RSII) Hebron mengunjungi kantor Baznas, Jakarta, Rabu (10/04). Kunjungan tersebut dalam rangka mencari dukungan pembangunan RSII Hebron kepada Baznas.

Menurutnya, Baznas adalah koordinator lembaga amil, zakat, infaq, dan sedekah di Indonesia sehingga diharapkan bisa menggalang filantropi di Indonesia. “Indonesia harus berkontribusi lebih banyak kepada warga Palestina. MUI berencana membangun Rumah Sakit Islam Indonesia (RSII) di Hebron, sehingga kami berharap dapat dukungan dari Baznas sehingga proyek dapat berjalan dengan baik”, ujar Muhyiddin.

Lebih lanjut Kiai Muhyiddin menerangkan, pembangunan RSII di Hebron bertujuan menangani trauma (traumatic healing) masyarakat Palestina. Rumah sakit yang khusus menangani masalah ini, tuturnya, belum ada di sana.

“RS ini didesain guna mengobati orang-orang yang kena trauma akibat tindak kekerasan yang dilakukan tentara Israel. Banyak sekali warga Palestina yang mengalami trauma, sehingga membutuhkan kepedulian kita sebagai sesama muslim,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Ketua Baznas, Bambang Sudibyo menyatakan dukungannya membangun RSII di Hebron. Mantan Menteri Keuangan ini mengatakan pembangunan RSII di Hebron merupakan bentuk terimakasih bangsa Indonesia karena Palestina dulu berjasa mendukung kemerdekaan Indonesia. Bambang menyebutkan bahwa pembangunan rumah sakit ini nantinya menjadi kerjasama lembaga filantropi di Indonesia.

“Dana yang dibutuhkan sekitar tujuh juta US Dollar untuk pembangunan RS ini, sehingga memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk merealisasikannya,” paparnya.

Walikota Hebron sebelumnya sudah mendukung pembangunan rumah sakit ini. Bahkan 16 penduduk Hebron sudah mewakafkan tanah yang totalnya mencapai 4000 meter persegi sebagai lahan pembangunan rumah sakit.

Tidak hanya itu, Walikota Hebron juga memberikan bantuan dana sebesar 830 ribu US Dollar. Sembilan puluh persen biaya pembangunan sisanya diharapkan berasal dari bantuan bangsa Indonesia.

Dengan dukungan Baznas, MUI juga akan bekerjasama dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) lain seperti Dompet Dhuafa, LazisNU, LazisMU, maupun LAZ lain di tingkat daerah. (Azhar/Thobib)



Belajar Menjadi Ulama Sebenarnya

Mufti Betawi Habib Usman bin Yahya menulis buku tentang bagaimana cara menjadi ulama yang sebenarnya.

Buku kecil ini menarik karena masih tetap dikaji di sejumlah majelis taklim di beberapa daerah, khususnya Jakarta. Buku yang terbilang tipis ini ditulis oleh Mahaguru ulama Betawi akhir abad 19 dan awal abad 20 yang sangat produktif menulis dan banyak mempengaruhi wajah Islam Betawi dan Nusantara.

Buku ini ditulis Sayid Usman bin Yahya pada tahun 1317 Hijriyah atau sekitar tahun 1896, sekitar 120 tahun yang lalu. Namun, kemudian ditulis secara khath oleh Mukhlis Hasan Basri Al-Hamdani pada 6 Rajab tahun 1382 H atau sekitar tahun 1961 M.

Kitab ini banyak mengutip dari sejumlah kitab seperti Ihya Ulumiddin dan Bidayatul Hidayah keduanya karya Imam Ghazali, Az-Zawajir, As-Sawaiqul Muhriqah oleh Imam Ibnu Hajar, At-Tuhfah dan Masyariqul Anwar Assaniyah bi Fadail Dzurriyah Khayril Bariyyah oleh Syaikh Zaini Dahlan, Ad-Durarun Naqiyah dan An-Nashaihud Diniyah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Al-Fawaidul Makiyyah, Irsyadul Muhtadi, dan AzZubad karya Syaikh Ruslan, dan lain sebagainya.

Risalah ini ditulis dalam 10 alasan. Pertama, bahwa risalah ini merupakan pengingat yang di dalam sebuah hadis disebutkan sebagai kenikmatan. Kedua, menjelaskan bahwa ilmu itu terbagi dua: ilmu hati dan ilmu lisan. Ketiga, harus percaya pada hadis yang menyatakan kemuliaan ilmu. Keempat, tiada seseorang mendapatkan ridla Allah selain dengan mengikuti ajaran baginda Rasulullah.

Kelima diperlukan niat untuk belajar secara benar dan mengikuti jalan Rasulullah. Keenam, belajar bukan untuk kemegahan harta dan pangkat. Ketujuh, kegunaan ilmu sangat besar terutama jika ditularkan kepada orang lain.

Kedelapan, pahala akhirat akan berganda jika diamalkan dan diajarkan. Kesembilan, belajar selalu penuh godaan terutama godaan hawa nafsu. Kesepuluh, belajar dan mengkaji ilmu itu membuka pintu taubat.

Ulama Benar

Kemudian Sayid Usman membahas soal ilmu dalam dua pasal: pasal ilmu yang bermanfaat dan pasal ilmu yang tidak bermanfaat. Kemudian ia membahas pasal satu dalam beberapa bahasan (mabhas). Pada mabhas yang pertama disebutkan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban seorang muslim dan muslimah. Dalam Syarah Sittin disebutkan bahwa setiap amal yang wajib dilakukan maka belajar atas ilmu atas amal itu juga wajib dilakukan.

Mabhas yang kedua adalah syarat-syarat belajar dan mengajar. Pertama, harus ikhlas. Kedua, dalam belajar dan mengajar harus bebas maksiat. Ketiga, yang mengajar sudah harus menjalankan ilmunya terutama terkait hukum syariat. Keempat, harta dan makanan yang dipakai adalah diperoleh dengan cara dan uang halal, termasuk kitabnya.

Sayid Usman memberi contoh tentang kitab halal: kitab yang dicetak secara sah oleh penerbit dengan hak cipta yang jelas. “Kitab haram seperti kitab yang ditirucetak oleh orang yang serakah dunia dengan tiada rida dari pengarangnya.” Artinya, buku bajakan adalah haram.

Kelima, ketika belajar dan mengajar tidak ada kesombongan (takabur). Misalnya, menurut Sayid Usman, ia memilih guru sesuai seleranya. Padahal, ilmu itu bisa didapat dari mana saja. Keenam, ilmu yang dipelajari haruslah ilmu hati. Ketujuh, harus ada pemisah antara laki-laki dan wanita, termasuk bagi gurunya. Jika guru laki-laki mengajar murid wanita maka wajib ada dinding yang membatasi.

Rasulullah besabda: “Tiada suatu fitnah sesudah zamanku yang lebih berbahaya atas orang laki-laki daripada fitnah perempuan.” Mabhas ketiga, adab ulama. Pertama, jangan segera menjawab pertanyan seseorang.

Menurut Imam Ghazali, jka ia benar sudah yakin berdasarkan Al-Quran, hadis, Ijma dan qiyas, maka ia boleh berfatwa. Jika meragukan, maka jawab saja tidak tahu (la adri).

Menurut As-Sya’bi, menjawab tidak tahu termasuk setengah dari pengetahuan. Ibnu Mas’ud menuduh gila orang yang begitu gampang menjawab pertanyaan agama. Adab kedua, pengajar harus mengukur pemahaman muridnya.

Mabhas keempat, sifat-sifat orang berilmu. Pertama, seseorang yang berilmu itu semakin takut kepada Allah, bukan sebaliknya. Kedua, semakin rendah hati (tawadlu’) kepada orang lain. Ketiga, menyintai ahlul bait Rasulullah.

Ulama empat mazhab menunjukkan kecintaannya kepada keluarga Rasulullah. Menurut Sayid Usman, mencintai keluarga Rasulullah tercantum dalam ayat dan hadis Rasulullah.

Mabhas yang kelima menyatakan bahwa belajar menjanjikan pahala yang besar. Rasulullah menyatakan bahwa seorang yang belajar lebih baik dibanding melakukan salat sunnah 100 rekaat. Dalam hadis lain disebutkan, belajar lebih baik dibanding salat 1.000 rekaat, menengok 1.000 orang sakit dan menyalati 1.000 jenazah. Ulama Dunia Maka, sebaliknya pada pasal kedua yang membahas ciri ulama dunia atau ulama suk atau ulama buruk.

Pertama, belajar tidak ikhlas. Belajar hanya untuk kebanggaan dunia dan berbangga dengan ilmu yang dimilikinya. Rasulullah bersabda: “Janganlah engkau belajar ilmu untuk bangga melebihkan ulama, dan mencari unggul atas orang bodoh serta (berdebat) untuk memalingkan pandangan manusia kepadanya, jika ia lakukan itu, maka tempat dia di neraka.”

Kedua, ilmu hanya disiapkan untuk berdebat. Rasulullah bersabda: “Tidak tersesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk selain mereka diberi jidal (debat dan berbantahan).” Seorang ulama berkata: “Kelak di akhir zaman ada sekelompok orang yang menutup diri pada amal dan membuka diri untuk jidal.” Ketiga, suka memaki, mengumpat dan membicarakan orang lain (ghibah).

Keempat, suka dusta. Kelima, suka memuji diri sendiri. Keenam, takabbur. Ketujuh, suka mencela dan menyebut kata keji. Kedelapan, suka mencari kesalahan dan aib orang. Kesembilan, pamer dan menyatakan dirinya sebagai orang beilmu. Kesepuluh benci kepada keluarga Rasulullah. Padahal Rasulullah bersanda: “Tak menyintai kami ahul bait kecuali seorang yang mukmin dan bertakwa.

Tidak membenci kami ahlul bait selain munafiq dan celaka.” Dalam hadis lain disebutkan: “Sangat berat amarah Allah atas orang yang menyakitiku melalui keluargaku.” Kesebelas, tidak mengamalkan ilmunya.

Ulama Mekah

Sayid Usman lahir di Batavia ( Jakarta) pada 17 Rabiul Awal 1238 H atau 1 Desember 1822. Ia belajar di Mekah selama tujuh tahun antara lain dengan Mufti Mazhab Syafi’i Syaikh Zaini Dahlan. Tahun 1848 belajar di Yaman, Mesir, Suriah, dan Istambul. Tahun 1862 ia kembali ke Batavia dan pada tahun 1899 diangkat sebagai Mufti Batavia menggantikan Syaikh Abdul Ghani.

Hingga wafatnya tahun 1913 ia masih menjabat sebagai mufti karena jabatannya berakhir hingga tahun 1914. Ia meninggalkan sekitar 47 kitab karangan yang ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu tentang berbagai hal.



Ini Pesan MUI Untuk Penyelenggara dan Peserta Pemilu

JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat meminta penyelenggara pemilu seperti KPU, Bawaslu, dan DKPP bersikap independen, imparsial, profesional, responsif, transparan dan akuntabel.

“Agar dapat terselenggara pemilu yang demokratis, tertib, aman, jujur, adil, berkualitas dan bermartabat sehingga rakyat dapat menggunakan hak pilihnya dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, gembira, dan tanpa adanya tekanan dan paksaan,” kata Wakil Ketua Umum MUI Buya Zainut Tauhid Sa’adi saat membacakan pers release di Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta, Selasa (09/04).

MUI juga berpesan agar Bawaslu, DKPP, dan MK menjalankan tugasnya secara independen dan imparsial sehingga keputusan yang muncul sesuai dengan yang seharusnya.

Bila sewaktu-waktu ada kecurangan, MUI mendorong peserta pemilu menggunakan mekanisme hukum yang telah tersedia untuk mencari keadilan. Misalnya dengan melaporkan dugaan kecurangan pemilu kepada Bawaslu. Begitupula bila ada dugaan pelanggaran kode etik, bisa melaporkannya kepada DKPP.

“Apabila ada dugaan pelanggaran peraturan pemilu agar diajukan ke Bawaslu, apabila ada dugaan pelanggaran peraturan pemilu agar diajukan ke Bawaslu, apabila ada dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu agar diadukan ke DKPP,” paparnya.

“Demikian pula perselisihan hasil pemilu hendaknya diajukan ke MK,” imbuhnya.

Sementara itu, kepada peserta pemilu seperti partai politik, calon anggoa legislatif, calon presiden, calon wakil presiden, beserta tim pendukungnya diharapkan tidak melakukan pelanggaran pemilu seperti politik uang (risywah siyasiyah) maupun kampanye hitam.

“Apabila hal itu dilakukan, dapat mencederai demokrasi, kualitas pemilu, dan kerusakan moral masyarakat, serta tidak akan menghasilkan pemimpin yang benar dan berkualitas sesuai cita-cita dan harapan rakyat selama lima tahun ke depan,” katanya.

Buya Yunahar Ilyas yang juga wakil ketua umum MUI bahkan menekankan bahwa MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang politik uang. Dikatakannya, pemberi suap maupun penerimanya akan mendapatkan laknat dari Allah SWT.

“MUI sudah pernah mengeluarkan fatwa tentang money politics atau risywah siyasiyah, itu dilarang karena merusak semuanya dan sistem demokrasi itu sendiri, sehingga tujuan mencapai pemimpin yang adil tidak akan diridhoi oleh Allah SWT,” pungkasnya. (Azhar/Din)