All posts by Admin

Sambut HUT RI Ke-74, MUI Ingatkan Pentingnya Keadilan Ekonomi

Menyambut Usia Kemederkaan Indonesia yang ke-74, Sekretaris Jenderal MUI Pusat Buya Anwar Abbas mengajak seluruh elemen bangsa mendahulukan persatuan dan kesatuan. Dia menilai Indonesia sudah mencapai banyak kemajuan di usianya yang ke-74. Meski begitu, kata dia, semua orang harus menyadari bahwa bangsa ini harus dikelola dengan sebaik-baiknya.

“Semua orang harus menyadari pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan,” katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (15/08).

Sebagaimana sebelumnya, Buya Anwar kembali menekankan bahwa untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa hal yang perlu diperhatikan adalah keadilan ekonomi. Untuk itu, dia berharap agar kesejahteraan di negeri ini tidak terkumpul pada segelintir orang saja. Kekayaan, kata dia, harus dialirkan sehingga menutup ruang-ruang diskriminasi yang berpotensi menganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

“Dengan begitu rasa kebersamaan di antara kita meningkat dan itu jelas sangat penting bagi bangsa ini dalam menyongsong masa depan Indonesia yang kuat dan maju,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, salah satu akses mengurangi diskrisimanasi tersebut adalah dengan mobilitas vertikal melalui pendidikan. Namun, dia menyayangkan kondisi pendidikan saat ini yang keluarannya jauh lebih banyak menjadi pencari kerja dibanding pembuka lapangan kerja.

Dia menambahkan, sekalipun keadilan ekonomi belum sepenuhnya tercapai, namun seluruh elemen bangsa harus tetap mengembangkan rasa kebersamaan dan empati.

“Nilai gotong royong harus ditumbuh-suburkan dari tingkat paling bawah, mulai dari RT, RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional,” tegas dia.

“Hal-hal yang akan merusak rasa kebersamaan dan persatuan serta kesatuan di antara kita harus bisa disingkirkan. Karena itu, ketidakadilan dan diskriminasi dalam kehidupan sebagai satu bangsa harus kita jauhi dan hindarkan,” imbuhnya. (Azhar/Thobib)



Monev MUI Malut, dari Kantor hingga Aliran Sesat.

TERNATE – Tim Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat kembali mengunjungi MUI tingkat provinsi untuk melakukan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di MUI Maluku Utara (Malut) pada Rabu, 14 Agustus 2019 di Jl. Sultan Djabir Djah, Kantor MUI Malut, Masjid Raya Al-Munawwar, Ternate, Maluku Utara.

Pertemuan yang berlangsung dua hari, Rabu hingga Kamis 14-15 Agustus tersebut membahas kegiatan dan tantangan yang dihadapi MUI Maluku Utara bersama Ketum MUI Malut Dr Samlan H. Ahmad, Ketua Wantim Malut Drs Ridwan, Wasekjen Bidang Infokom Dr Amirsyah Tambunan, Auditor MUI Pusat Desmiati Ishaq, dan sejumlah pengurus lainnya.

Menurut Samlan, tantangan MUI Malut saat ini adalah belum adanya kantor tetap MUI Malut untuk melakukan operasional organisasi. Namun demikian di tahun 2020, MUI Malut akan membangun kantor MUI Malut.

“Belum adanya kantor tetap, masih menjadi temuan monev saat ini, tapi insyaAllah di 2020 MUI Malut sudah ada gedung permanen,” ujarnya.

Dalam pembangunan kantor, ungkap Ridwan, MUI Malut memiliki kemudahan dalam proses perizinan dari Pemprov Malut. Itu disebabkan karena kiprah MUI Malut sangat besar dalam mewujudkan kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pada sisi lain, kata Samlan, masyarakat dan pemerintah sangat membutuhkan MUI Malut, terutama dalam hal membentengi umat dari aqidah yg menyimpang dan menjadi mitra pemerintah (shadiqul hukumah) sebagai perekat pemersatu bangsa.

“MUI disini sebagai pelindung dan pembimbing umat dari aliran sesat dan menyesatkan, sangat dibutuhkan masyarakat dan pemerintah,” ujarnya.

Beberapa aliran sesat yang pernah difatwakan sesat oleh MUI Malut adalah Hui Ilomata dari Halmahera Barat dan Gafatar. (Ichwan/Anam)



MUI Rilis Buku Panduan Shalat Digital iShalat yang Telah Ditashih

JAKARTA— Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI MUI) bersama Perum Penerbitan Negera Republik Indonesia (PNRI) dan PT Trimega Raya dengan brand Millenial Era (ME) Creative meluncurkan buku paduan shalat berbasis augmented reality (AR) bernama Ishalat.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada ME Creative dan Perum PNRI karena sudah mengisi konten positif untuk kalangan milenial utamanya dalam menyambut era Industri 4.0.

“Ini adalah kesempatan yang berbahagia, kami bisa bersilaturahim dengan PNRI dan ME Creative yang produknya sudah ditayangkan dan sudah ditashih dengan baik oleh LPBKI MUI,” katanya saat membuka eluncuran buku Ishalat di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta, Selasa (13/07).

Buku seperti ini, ungkapnya, penting untuk menyambut era Industri 4.0. Pada era ini, kata dia, manusia akan semakin dikalahkan robot. “Itu salah satu pengertian paling sederhana dari Industri 4.0,” paparnya.

Ketua LPBKI MUI, Prof Endang Soetari, mengungkapkan peluncuran buku menandakan bahwa cakupan tugas MUI khususnya LPBKI semakin luas. Tugas LPBKI yang sebelumnya hanya menyasar buku cetak, kini juga merambah ke dunia digital.

“Ini berbentuk digital yang menunjukkan bahwa MUI memiliki pandangan yang luas bahwa MUI memiliki tugas bukan hanya tentang buku cetak, melainkan juga tentang dunia digital,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Dirut PNRI Djakfarudin Junus, mengatakan buku berbasis augmented reality ini adalah temuan baru yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan generasi milenial dan generasi-generasi setelahnya. Dia berterimakasih karena LPBKI MUI telah mengeluarkan tashih terhadap buku ini sehingga buku ini mudah diterima di masyarakat.

“Kami bersyukur MUI telah mengeluarkan tashihnya sehingga kita bisa memasarkan ini dengan tenang,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama ME Creative, Hilmy Zuhelmi, mengatakan dengan teknologi Augmented Reality, maka buku ini nantinya tampil dalam format tiga dimensi. Melalui aplikasi bernama Ishalat, maka buku dua dimensi akan terlihat menjadi tiga dimensi.

“Harapannya aplikasi dan buku ini bisa mempermudah, membuat interaksi, dan membuat lebih praktis digunakan segala usia,” katanya.

Peluncuran buku tersebut dihadiri pengurus Komisi dan Lembaga di MUI Pusat, pimpinan ormas Islam tingkat pusat seperti Muslimat NU, Wanita Al-Irsyad, dan beberapa lembaga seperti Ma’arif Institute. (Azhar/ Nashih)



MUI Riau: Perlu Sinergi Selamatkan Seni Islam yang Kian Terkikis

KOTA PEKANBARU— Majelis Ulama Indonesia Riau menyatakan seni dan budaya Islam kini mulai terkikis di Riau, sementara di Bumi Lancang Kuning itu merupakan barometer seni dan budaya Islam.

“Seni dan budaya Islam yang terkikis itu, seperti seni hadrah, Gurindam 12, kaligrafi dan lainnya sehingga perlu upaya berkesinambungan dan bersinergi untuk menghidupkan kembali seni dan budaya Islam di Provinsi Riau itu,” kata Ketua Komisi Seni dan Budaya MUI Riau, Mahyudin, di Pekanbaru, Jumat (9/8).

Menurut dia, seni hadrah merupakan salah satu kesenian tradisi kalangan umat Islam dan kesenian ini menggunakan syair berbahasa Arab yang bersumber dari kitab al-Barzanji.

Dia menjelaskan, kitab al-Barzanji adalah kitab sastra yang terkenal di kalangan umat Islam yang menceritakan sifat-sifat nabi dan keteladanan akhlaknya. Begitu juga dengan Gurindam 12 yang di dalamnya banyak terkandung pesan-pesan moral bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Namun naifnya, di kalangan generasi muda, seni dan budaya Islam itu justru sudah tidak dirasakan lagi gaungnya. Padahal pencinta seni, hidupnya akan lebih indah dan pengikut agama yang baik akan hidup lebih terarah,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, budaya ini perlu terus dikabarkan dan digali lagi, baik melalui seminar dan simposium yang digelar Komisi Seni dan Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau, ataupun bisa melalui agenda lomba kesenian yang diikuti antargenerasi.

Sebagai masyarakat Riau yang beragama Islam, kata dia, sepatutnya mengetahui apa saja tradisi dan budaya Islam tersebut agar dapat menahan derasnya dampak negatif budaya dari luar yang berkembang pesat.

“Pengetahuan budaya dan tradisi ini tentu sangat diperlukan supaya kelak bisa diketahui generasi penerus bangsa dan menceritakan pada anak cucu betapa pentingnya menjaga dan melestarikan sejarah tradisi dan budaya Islam tersebut,” katanya.

Sementara itu macam-macam peninggalan sejarah tradisi dan budaya Islam yang masih bisa dilihat dan teruskan hingga kini adalah seni ukir atau kaligrafi.

Selain bentuknya yang yang indah, seni ukir dan kaligrafi mempunyai nilai tersendiri di tempat ibadah atau rumah seorang Muslim.

Dia menilai kaligrafi atau seni ukir dari suatu ayat tidak hanya memukau, tetapi juga mempunyai makna yang dalam dan bisa mengingatkan akan kebesaran-kebesaran Allah SWT.

“Seni ukir atau kaligrafi ini juga sering dijumpai pada tembok-tembok, atap, mihrab atau di mimbar-mimbar masjid. Ini semua bagian dari hasil akulturasi budaya Islam,” katanya. (Antara/ Nashih)



Ini Fatwa Terbaru MUI Tentang Hukum Mendistribusikan Daging Kurban Olahan

Jakarta – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indoneisia (MUI) mengeluarkan fatwa terbaru tentang hukum membagikan daging kurban yang sudah diolah dan didistribusikan ke luar daerah. Dalam fatwa ini disebutkan bahwasanya boleh membagikan daging kurban dalam bentuk olahan dalam kondisi tertentu.

“Menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak,” demikian bunyi fatwa tersebut seperti disampaikan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Jum’at (9/8).

Dalam fatwa No 37 itu juga disebutkan bahwa mendistribusikan daging kurban ke daerah lain juga diperbolehkan. Berikut ini bunyi lengkap fatwanya:

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 37 Tahun 2019
Tentang
PENGAWETAN DAN PENDISTRIBUSIAN DAGING KURBAN DALAM BENTUK OLAHAN

Ketentuan Hukum

  1. Pada prinsipnya, daging hewan kurban disunnahkan untuk:
    a. didistribusikan segera (ala al-faur) setelah disembelih agar manfaat dan tujuan penyembelihan hewan kurban dapat terealisasi yaitu kebahagian bersama dengan menikmati daging kurban.
    b. dibagikan dalam bentuk daging mentah, berbeda dengan aqiqah
    c. didistribusikan untuk memenuhi hajat orang yang membutuhkan di daerah terdekat.
  2. Menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak.
  3. Atas dasar pertimbangan kemaslahatan, daging kurban boleh (mubah) untuk:

a. Didistribusikan secara tunda (ala al-tarakhi) untuk lebih memperluas nilai maslahat.

b. dikelola dengan cara diolah dan diawetkan, seperti dikalengkan dan diolah dalam bentuk kornet, rendang, atau sejenisnya.

c. Didistribusikan ke daerah di luar lokasi penyembelihan.7

Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal : 7 Dzul Hijjah 1440 H
7 Agustus 2019 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF., MA.
Ketua

DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA
Sekretaris

(Red: Anam)



MUI Palu Ajak Tokoh Agama dan Adat Cegah Pernikahan Dini

PALU— Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah mengajak mengajak para tokoh lintas agama dan adat untuk ikut mencegah terjadinya pernikahan dini.

“Mencermati faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan usia anak, tampak jelas bahwa faktor sosial-budaya lebih dominan, sehingga peran tokoh agama dan tokoh adat sangat dibutuhkan untuk mengubah paradigma berpikir masyarakat, serta menciptakan iklim sosial yang sehat,” kata Ketua MUI Kota Palu, Sulawesi Tengah, Prof KH Zainal Abidin, di Palu, Kamis (8/8).

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng ini menyatakan tokoh agama perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak buruk dari pernikahan usia anak.

Peran tokoh lintas agama dan adat di Sulteng, menurut rektor pertama IAIN Palu itu, adalah membantu pemerintah mewujudkan solidaritas sosial dalam memerangi kemiskinan sehingga tak ada lagi pernikahan usia anak karena pertimbangan ekonomi.

Para tokoh agama dan adat, ujar dia, perlu mengubah paradigma berpikir masyarakat dalam melihat makna suci pernikahan.”Menikah di usia dewasa bukanlah aib, sebaliknya menciptakan keluarga berantakan karena ketidakdewasaan, adalah aib besar bagi keluarga.

“Perlu menekankan pentingnya fungsi keluarga dan mengawal generasi muda supaya terhindar dari pergaulan bebas dan penyalahgunaan obat-obat terlarang yang kesemuanya itu dapat menggiring pada kehamilan di luar nikah dan akhirnya married by accident,” sebut guru besar pemikiran Islam modern itu.

Tokoh agama dan adat, kata dia, perlu meluruskan pemahaman keagamaan masyarakat, bila khawatir anaknya terlibat dosa perzinahan maka yang perlu dilakukan adalah menanamkan nilai-nilai moral keagamaan sejak dini, bukan melakukan pernikahan dini.

Imbauan dan ajakan ini menyusul peningkatan terjadinya kasus pernikahan dini di Sulteng yang menyebutkan rata-rata anak berusia 15-19 tahun berstatus menikah dan pernah nikah. Persentase terbesar terdapat di Kabupaten Banggai Laut sebesar 15,83 persen, diikuti Kabupaten Banggai Kepulauan 15,73 persen, dan Kabupaten Sigi 13,77 persen.

Kemudian Kabupaten Tojo Una-una 12,84 persen, dan Kota Palu 6,90 persen.

Adapun data BPS tahun 2016 memperlihatkan, penyumbang tertinggi adalah Kabupaten Tojo Una-una sebesar 23 persen dan Parigi Montong sebesar 22 persen. (Antara/ Nashih)



Wasekjen MUI: Mbah Moen Sosok Pemersatu Umat

JAKARTA— Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nadjamuddin Ramly mengatakan almarhum KH Maimoen Zubair atau akrab disapa Mbah Moen sebagai sosok pemersatu umat dalam berbagai hal.

“Selain sebagai mubaligh dengan mengasuh pondok pesantren, beliau juga pimpinan Partai NU yang berubah menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP),” kata Nadjamudin dihubungi di Jakarta, Selasa (6/8).

Selain itu, Mbah Moen juga dianggap sebagai penjaga keseimbangan antara ormas-ormas Islam di Indonesia. Apalagi Mbah Moen dapat menyelesaikan dualisme kepemimpinan yang pernah terjadi di PPP.

Mbah Moen sendiri adalah tokoh tetua di Partai Persatuan Pembangunan sekaligus Mustasyar Pengurus besar Nahdlatul Ulama. Dia wafat di tengah kegiatannya menunaikan ibadah haji memenuhi undangan Kerajaan Arab Saudi menggunakan kuota khusus.

Almarhum KH Maimoen Zubair dimakamkan di Pemakaman Ma’la Kota Makkah pada Selasa, Jenazah diberangkatkan ke Masjidil Haram untuk dishalatkan usai shalat zuhur waktu setempat.

Jama’ah asal Indonesia sudah menunggu sejak sebelum waktu shalat zuhur atau sesaat setelah jenazah diberangkatkan dari Kantor Urusan Haji Daerah Kerja Makkah menuju masjidil haram.

Pemakaman Ma’la berlokasi di kampung asal Nabi Muhammad dan merupakan tempat dimana istri Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah, dimakamkan.

Kondisi pemakamannya berbeda dengan pemakaman pada umumnya di Indonesia. Kawasan pemakaman itu rata oleh pasir berwarna cokelat dengan dua batu sebagai penanda.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menginstruksikan jajarannya termasuk petugas haji untuk menggelar Shalat Ghaib bagi almarhum KH Maimun Zubair (Mbah Moen) yang wafat pada Selasa pagi.

“Saya minta seluruh petugas haji untuk menggelar Shalat Ghaib serta yasin dan tahlil setelah shalat dhuhur,” kata Lukman di Makkah, Arab Saudi sebagaimana siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Dia juga menginstruksikan setiap jajaran di Kemenag dari pusat hingga tingkat terbawah untuk turut melakukan Shalat Ghaib untuk tokoh penting Nahdlatul Ulama itu. “Untuk ASN Kanwil Kemenag agar menggelar Shalat Ghaib serta yasin dan tahlil setelah maghrib,” katanya. (Antara/ Nashih)



Audiensi ke Kemenag, MUI Bahas Pengembangan Pendidikan Islam

JAKARTA- Rombongan Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat melakukan kunjungan untuk bertemu dengan Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin.
Wakil Sekjen MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi, Amirsyah Tambunan, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam. Komisi Pendidikan MUI, tutur dia, dalam pertemuan tersebut mengusulkan empat hal strategis.

Pertama, kata dia, MUI dan Kemenag akan meningkatkan kerjasama terkait beasiswa 5000 doktor. Selama ini, kata dia, MUI bersama UIN Jakarta sudah menjalin kerjasama untuk penyelenggaraan doktor PKU yang telah terselenggara dua periode.

“Ada kesepahaman untuk meningkatkan kerjasama dengan Kemenag RI terkait program beasiswa 5000 doktor kerjasama MUI dan UIN Jakarta,” kata dia Selasa (06/07) di Gedung MUI Pusat, Menteng, Jakarta.

Kedua, lanjutnya, MUI menyampaikan bahwa pihaknya telah melaksanakan pendidikan kaderisasi ulama secara mandiri seperti yang sudah berjalan sejak dulu.

Dalam pertemuan tersebut, rombongan MUI juga mengusulkan agar Majelis Pertimbangan Pendidikan Kementerian Agama RI kembali diaktifkan.

“Mengusulkan agar diaktifkan kembali Majelis Pertimbangan Pendidikan Kemenag RI yang terdiri dari unsur Ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-washliyah, dan lainnya,” kata Amirsyah.

Dalam pertemuan tersebut, juga disepakati untuk meningkatkan kerjasama pendidikan dengan pihak luar negeri. Dengan begitu, maka akan semakin banyak peluang mendapatkan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk belajar di luar negeri, khususnya pada bidang-bidang keislaman.

“Seperti memperbanyak jumlah beasiswa untuk mencetak kader umat dan kader bangsa,” ungkapnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Sekjen MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Amirsyah Tambunan, Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Armai Arief, Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi Ulfa Mawardi dan Tuty Mariani, serta Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI, Kartini. (Azhar/Thobib).



Rapim MUI, KH Ma’ruf Amin Pimpin Doa untuk KH Maimun Zubair

JAKARTA – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr KH Ma’ruf Amin, memimpin doa secara khusus untuk KH Maimun Zubair di sela rapat pimpinan (Rapim) di kantor MUI Pusat, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (6/8). KH maimun Zubair, ulama kharismatik Indonesia wafat di Makkah, Saudi Arabia, Selasa pagi tadi.

Innalillah wa Inna ilaihi rojiun. Kami merasa prihatin dengan wafatnya almaghfurlah si Mbah Kiai Haji Maimun Zubair. Mustasyar NU. Ulama besar yang sangat kharismatik dan sangat dicintai oleh umat Islam,” kata KH Ma’ruf Amin sesaat sebelum mendoakan KH Maimun Zubair bersama pimpinan MUI yang lain.

“Beliau telah meninggalkan kita semua dan wafat di Tanah Suci dalam rangka menjalankan ibadah haji. Kita semua merasa kehilangan seseorang yang sangat kami cintai dan kami butuhkan arahan-arahannya, taujihadnya, petunjuk-petunjuknya yang senantiasa memberikan pedoman bagi kehidupan umat dalam rangka bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” kata Kiai Ma’ruf Amin.

KH Maimun Zubair lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928. Putra pertama anak dari KH Zubair Dahlan dan cucu dari Kyai Ahmad Syu’aib ini belajar di Pondok Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH Abdul Karim atau yang biasa dikenal sebagai Mbah Manaf, lalu kepada KH Mahrus Ali dan KH Marzuqi.

Mbah Maimun, panggilan kehormatan untuk kiai sepuh ini, merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang. Beliau pernah menjadi anggota legislatif dan aktif di dunia politik sampai menjadi Ketua Majelis Syariah PPP. Di usia yang senja 90 tahun beliau tetap memberikan pengajian dan nasihat-nasihatnya sebagai guru bangsa. (Azhar/Anam)



Sambut Idul Adha, LPPOM MUI Latih Juru Sembelih Halal

BOGOR – Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika MUI bersama Halal Science Center IPB mengadakan pelatihan Juru Sembelih Halal guna menyambut Hari Raya Idul Adha 1440H di Kampus IPB Gunung Gede, Bogor, Minggu (04/08).

Kegiatan ini diikuti delapan puluh orang pengurus Dewan Kemakmuran Masjid se-Jabodetabek. Selama ini kerjasama LPPOM MUI dengan HSC IPB telah melakukan pelatihan dan sertifikasi profesi bagi 150 orang di DKI Jakarta.

Wakil Direktur LPPOM MUI, Oesmena Gunawan memaparkan, pelatihan ini merupakan bentuk kepedulian LPPOM MUI dan HSC demi terlaksanannya penyembelihan hewan yang aman, sehat, dan sesuai kaidah syariah.

“Ke depan diharapkan akan lebih banyak lagi juru sembelih yang memahami kaidah penyembelihan sesuai dengan kaidah Islam,” katanya.

Oesmena mengatakan, pelatihan seperti ini penting agar nantinya diperoleh kualitas daging kurban yang tidak berbahaya bagi konsumen. Kualitas daging yang dimaksud tentu saja harus halal, tidak kotor, tidak berbau, dan tidak busuk.

“Daging kurban membutuhkan penanganan yang higienis dan tepat untuk memastikan halal dan thayyib,” ujarnya.

Proses penyembelihan daging, imbuhnya, adalah proses paling penting dari tersajinya daging di meja makan. Proses ini juga menjadi faktor paling penting dalam menentukan apakah daging tersebut halal dan baik atau tidak.

“Penyembelihan hewan kurban menjadi salah satu faktor pemenuhan kriteria halal serta titik kritis dalam menghasilkan daging yang halal dan thayyib,” katanya.

Leboh lanjut ia menjabarkan, selama ini yang terjadi di lapangan banyak ditemukan panitia pemotongan hewan melakukan penyimpangan. Misalnya, dari proses penanganan hasil penyembelihan hingga proses distribusi daging qurban.

“Itulah mengapa LPPOM MUI sangat peduli terhadap proses penyembelihan. Ditambah lagi, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) LPPOM MUI sudah menjadikan juru sembelih sebagai salah satu profesi yang ke depannya akan menjadi andalan dalam aspek kehalalalan hewan,” ujarnya. (Azhar/Thobib)



Panen Perdana Bawang Putih Pinbas MUI Jatim Dihadiri Gubernur Jatim

SURABAYA— Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (Pinbas) Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur melaksanakan panen perdana bawang putih. Bertempat di Desa Sempol, Kecamatan Ijen, Bondowoso, Sabtu (3/8) siang, kegiatan dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Menurut Ketua Pusat Pinbas MUI Jawa Timur, Ir Wahid Wahyudi, panen perdana ini merupakan hasil tanam pertama yang dimulai Februari 2019. “Panen ini agak terlambat, Karena baru kita mulai tanam Februari, Biasanya tanam bawang di musim hujan, sekitar Oktober-November,” ujar Wahid Wahyudi dalam sambutannya.

Wahyudi menjelaskan, Pinbas MUI Jatim adalah satu satu lembaga ekonomi di bawah MUI yang otonom, untuk mengembangkan ekonomi berbasis syariah. Sampai hari ini, Pinbas MUI Jatim termasuk produktif. Kebutuhan bawang putih di Jawa Timur cukup banyak, tetapi masih kurang. “Kebutuhan bawang untuk Jatim 5.650 ton per bulan, tetapi yang bisa dipenuhi hanya 3.040 ton, 94 persen sisanya, masih impor dari China.”

Dia mengatakan, secara kualitas, bawang putih lokal dari Ijen ini cukup bagus, lebih pedas dan berkualitas. Hanya saja, harganya kalah dengan impor dari China. “Impor dari Cina, murah, per kilo Rp 23 ribu. Sementara harga bawang lokal, Rp 50 ribu,” kata dia sembari mengajak semua pihak untuk meningkatkan kualitas dan produksi, agar bawang putih lokal tidak hilang.

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyambut gembira atas apa yang telah diinisiasi MUI Jatim untuk meningkatkan ekonomi keumatan. “Terima kasih MUI, atas inisiasinya mengembangkan potensi masyarakat,” kata Khofifah di hadapan masyarakat, ulama, dan petani bawang putih.

Dia mengatakan pihaknya akan menfasilitasi Pinbas-MUI untuk menemui investor asal Taiwan yang sudah beberapa hari mencari lokasi yang kayak untuk menanam bawang putih.

“Besok pagi (Ahad, 4/8) Pinbas MUI harus ke Surabaya karena ada calon investor dari Taiwan. Sebelumnya saya sudah minta mereka tiga hal yaitu bibit , teknologi, dan pendampingan yang harus mereka siapkan,” ujarnya.

Khofifah berharap, keputusan Kementerian Pertanian, tentang rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH) terkait kewajiban penanaman bawang putih sebanyak 5 persen dari total impor bisa dimanfaatkan mengisi tanam bawang putih lokal.

Kemakmuran masyarakat

Sementara itu, Ketua MUI Jatim, KH Abdussomad Buchori, mengajak semua pihak ambil bagian memakmurkan masyarakat. Menurut dia, membangun negara diperlukan ilmunya ulama, adilnya para pejabat, dan kedermawanan orang-orang kaya. “Karenanya, jangan sampai kekayaaan berputar pada orang-orang tertentu, tapi harus merata,” ujarnya.

Menurut Kiai Somad, arus baru ekonomi harus dimulai dari bawah, sambil mengutip Alquran surah al- A’raf ayat ke-96, yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri (al-quro) beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Menurut Kiai Somad, kata ‘al-quro’ adalah jamak dari ‘al-qoryah’ yang artinya kampung/desa. Jadi membangun ekonomi umat harus dari desa. “Ekonomi harus kita garap, karena kefakiran mendekatkan orang pada kerusakan,” tambah Kiai Somad sembari menegaskan ulama umara perlu menyatu dalam pembangunan umat agar terwujud baldatun tayyibatun warabun ghafur.

Kepala Perhutani Divisi Regional Jatim, Oman Suherman, mengatakan pihaknya siap menfalitasi Pinbas MUI, untuk menfaatkan lahan agar bisa memberi kesejahteraan masyarakat. “Penananaman uji coba yang dilakukan Pinbas-MUI Jatim baru 41 hektare. Kalau MUI mau, masih ada 500 ha masih bisa dikelola,” katanya.

Herman menambahkan, kerjasama Pinbas MUI dengan Perhutani ini adalah sharing kerjasama dengan rincian yaitu 70 persen untuk masyarakat, 20 kembali ke Pinbas, dan 10 persen sisanya ke Perhutani.

Sebelum program ini, melalui proyek percontohan Program Domba Nasional (Prodombas) dengan memanfaatkan lahan hutan Perum Perhutani, Pinbas sudah berhasil mengembangkan domba dan sapi.

“Menjelang Idul Adha ini kita sudah laku 8.000 ekor domba, ” kata drh Haryo, penanggung jawab Prodombas. (Ahmad, Ketua Infokom Jatim/ Nashih)