All posts by admin

Indonesia Masih Butuhkan Roadmap dan Regulasi Halal

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Karenanya, Indonesia memang memiliki potensi pasar yang besar bagi industri halal dunia.

Sayangnya, Indonesia sampai saat ini seakan belum memiliki roadmap dan regulasi yang tepat untuk menghadapi makanan yang diproduksi maupun beredar di Indonesia.

Atas masalah tersebut, tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan penelitian khusus. Ada Ilmi Mu’min Musyrifin, Khintan Anggraii, dan Ni’mah Amalia Suharsono.

Penelitian mengangkat tema Pengaruh Penerapan Food Halal Supply Chain. Penelitian ini utamanya dilakukan untuk menghasilkan undang-undang (UU) baru.

Lalu, memberikan otoritasi kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan sertifikasi halal. Tentu, melalui Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI, dan Komisi Fatwa.

Ketua Kelompok PKM-PSH, Ilmi mengatakan, besarnya permintaan produk halal baik dari pasar domestik maupun luar negeri tidak diiringi dukungan pemerintah. Wujudnya, roadmap dan regulasi.

“Seperti kebanyakan negara penduduk Muslim mayoritas, sertifikasi halal kurang optimal karena adanya anggapan kalau setiap produk makanan yang diproduksi di negara tersebut halal,” kata Ilmi.

Itu alasannya, dirasa tidak perlu lagi roadmap maupun regulasi untuk lebih memperhatikan lagi bentuk audit atau sidak MUI di setiap sector supplay chain suatu produk.

Untuk itu, penelitian semakin penting agar dapat memberikan rancangan baru mengenai proses pangan menuju produksi halal. Tentu, yang ditetapkan pemerintah sebagai regulator dan pengawas.

Ketua Umum MUI Prof Yunahar Ilyas menuturkan, MUI tidak sampai ke rantai pasok karena di dalam MUI ada LPPOM. Jadi, makanan, minuman, kosmetik, dan obat-obatan itu diaudit LPPOM.

Sebab, yang mengeluarkan fatwa MUI dan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) ini harus terakreditasi MUI. Dari sana, lembaga-lembaga yang tidak diakreditasi hasil auditnya tidak diterima.

“Sampai sekarang belum ada lembaga-lembaga yang benar-benar fokus ke sana, masih LPPOM saja karena Lembaga Perlindungan Hukum (LPH) memiliki peraturan pemerintah,” ujar Yunahar.

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan solusi bagi pemerintah dan MUI untuk memberikan regulasi perihal makanan dan obat-obatan halal. Kemudian, memberi rasa aman dan nyaman bagi umat Islam.

Sumber: https://republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/ptnf6z399/indonesia-masih-butuhkan-emroadmap-emdan-regulasi-halal



Sentuhan Peradaban Islam di Balik Populernya Tulip di Eropa

Selama periode klasik Yunani, Romawi dan Islam, sangat banyak bunga yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi atau medis.

Bunga-bunga yang indah dijadikan sebagai dekorasi sampai abad ke-16, sedangkan bunga yang mewangi dianggap dapat memberikan manfaat kesehatan, sehingga digolongkan sebagai obat-obatan herbal.

Sebuah risalah yang ditulis sekitar 160 SM, Cato’s On Agriculture, menjelaskan tentang pertanian dari para ahli botani di Andalusia dan di beberapa tempat lain di dunia muslim pada Abad Pertengahan. Risalah tersebut cenderung berkonsentrasi pada kategori-kategori bunga tersebut. 

Para Ahli hortikultura di Timur Jauh ini memang telah lama mempraktikkan pemuliaan tanaman untuk meningkatkan macam-macam tanaman hias. Tindakan mereka tersebut tampaknya telah meresap ke Barat, ke dunia Muslim dan Eropa sekitar 1500 M. 

Zahiruddin Muḥammad bin Omar Sheikh atau lebih dikenali sebagai Babur, sangat terkesima dengan keindahan bunga Tulip. Babur adalah pendiri Kekaisaran Mughal di India pada awal abad ke-16. Dia seorang pecinta alam dan pencipta taman. Dia pernah menulis pada 1504 M:

“Warna bunga Tulip banyak menutupi kaki ini. Saya pernah menghitungnya, ada sekitar 32 atau 33 macam. Kami menamakannya mawar yang mewangi, karena aromanya seperti mawar merah,” tulis Babur seperti dikutip dari laman aramcoworld, Kamis (31/1).  

Kemudian, Babur mencoba memperkenalkan banyak tanaman ke India yang berasal dari tanah airnya di Uzbekistan serta dari Kashmir.

Beberapa di antaranya muncul dalam miniatur Kekaisaran Mughal dan juga menjadi motif dekoratif pada produk sulaman, tekstil, karpet dan furnitur, serta produk ukiran dan tatahan. 

Bunga tulip dan varietasnya kemudian banyak menyebar ke arah Barat melalui Iran dan Kekaisaran Ottoman, yang  mana pada masa itu kekaisaran tersebut sangat tertarik dengan bunga dan perkebunan, tepatnya pada abad ke-16. Bunga Tulip, eceng gondok, mawar dan anyelir menjadi favorit pada masa itu.

Bunga Tulip dilukiskan secara berulang-ulang pada ubin yang tak terhitung jumlahnya, pada keramik terkenal dari Iznik, di lukisan dekoratif di istana, di sampul pernis manuskrip dan di tekstil, mulai dari beludru sutra hingga syal bersulam. Bahkan, pada abad ke-18 juga ada bunga tulip di sepanjang menara masjid yang dibangun di Durres, Albania.

Informasi tentang berbagai bunga banyak berasal dari risalah yang diilustrasikan dengan indah. Risalah-risalah lainnya juga banyak memberikan informasi terperinci tentang asal mula bunga, budi daya bunga, dan sering mencatat tentang pemuliaan tanaman utama.

Ada juga buku-buku tentang bunga anyelir dan bunga-bunga lainnya, tetapi sejauh ini bunga mawar dan tulip menjadi yang paling populer. 

Menurut risalah yang ditulis abad ke-18, kepala hakim di bawah kekuasaan Sultan Turki Utsmani Suleiman Agung, Ebussuud Efendi memiliki tanggung jawab untuk mempopulerkan bunga tulip. Misalnya, ketika ia diberi tulip putih, kemudian dia sebarkan di kebunnya. 

Pada 1630 M, muncul fenomena “tulipomania” yang luar biasa di Belanda dan terjadi industri ekspor besar-besaran. Tulipomania merupakan periode pada Zaman Keemasan Belanda selama kontrak harga untuk umbi dari bunga tulip yang baru diperkenalkan mencapai tingkat harga yang sangat tinggi dan tiba-tiba runtuh.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/19/02/02/pm9vhc320-sentuhan-peradaban-islam-di-balik-populernya-tulip-di-eropa





Dalam perspektif Islam, gempa bumi berkaitan dengan tanda-tanda kekuasaan Sang Pencipta, khususnya menjelang Hari Akhir. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali setelah hilangnya ilmu, banyak terjadi gempa, waktu seakan berjalan dengan cepat, timbul berbagai macam fitnah, al-Haraj, yaitu pembunuhan-pembunuhan, dan harta melimpah ruah kepada kalian.” (HR Bukhari No 978). 

Dalam surah al-Hajj ayat 1 Allah SWT berfirman yang artinya, “Wahai sekalian manusia, takutlah kepada Tuhanmu; sesungguhnya gempa kiamat merupakan sesuatu yang sangat dahsyat.”

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya, al-Da’a wa al-Dawa’a, mengutip sebuah hadits mursal yang diriwayatkan Ibn Abi al-Dunya. 

Terjemahannya berbunyi, “Bumi pernah berguncang pada masa Rasulullah SAW. Beliau SAW meletakkan tangannya di atas bumi dan bersabda, ‘Tenanglah! Belum tiba saatnya bagimu.’ Kemudian menoleh kepada para sahabat seraya memberi tahu, ‘Tuhan ingin agar kalian melakukan sesuatu yang membuat-Nya ridha. Karena itu, buatlah agar Dia ridha kepada kalian!’”

Seperti dijelaskan al-Biruni, tahun kelima dari hijrahnya Rasulullah SAW disebut sebagai “Tahun Gempa.” Penanggalan tradisional Arab tidak menyebut tahun kesatu, tahun kedua, dan seterusnya. Mereka menamakan suatu tahun dengan merujuk pada peristiwa historis yang terjadi di dalamnya.  

Bencana kembali mengguncang Madinah pada zaman kepemimpinan Umar. Menurut riwayat yang sama, sahabat bergelar al-Faruq itu menyeru kepada penduduk setempat, “Wahai manusia, gempa ini tidak terjadi kecuali karena perbuatan kalian! Demi Zat Yang menggenggam jiwaku, jikalau ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal di sini bersama kalian.” Umar bin Khaththab pada saat itu spontan mengenang kejadian serupa yang terjadi pada masa Rasulullah SAW di Madinah.  

Sang khalifah merasa bahwa Allah SWT sedang mengingatkan kaum Muslimin sepeninggalan Nabi SAW dan Abu Bakar ash-Shiddiq. Maka dari itu, tidak ada yang terucap di lisannya selain peringatan kepada sekalian umat Islam agar segera meninggalkan kebiasaan buruk dan bertaubat dengan sungguh-sungguh demi keridhaan Sang Pencipta. 

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya, al-Jawab al-Kafy, berkomentar, “Di kalangan salaf, jika terjadi gempa bumi, mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian.’”

Gempa bumi juga menggoyang wilayah kaum Muslimin generasi berikutnya. Pada saat itu, Umar bin Abdul Aziz tampil selaku khalifah Dinasti Umayyah. Dia mengambil kebijakan yang sejalan dengan apa yang telah dilakukan kakek buyutnya, Umar bin Khaththab. 

Diserukannya kepada penduduk agar sama-sama bermunajat kepada Allah SWT dan memohon ampunan-Nya. Selanjutnya, pemimpin yang terkenal akan sifat zuhudnya itu mengirimkan surat kepada seluruh wali negeri. 

Isinya mengingatkan para bawahannya itu, “Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini merupakan teguran dari Allah kepada seluruh hamba-Nya. Saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

Ensiklopedia Medieval Islamic Civilization menyebutkan bahwa komunitas Muslim sudah sejak awal memiliki kewaspadaan terhadap bencana alam. Beberapa wilayah Muslim juga pernah dilanda gempa bumi skala besar. 

Dampak yang dideritanya cenderung sama dengan negeri-negeri lain yang sempat mengalaminya. Hanya saja, dalam konteks Abad Pertengahan, bencana demikian ikut memperlemah struktur sosial dan politik umat Islam. Sebagai contoh, Suriah yang dilanda banyak gempa sepanjang akhir abad ke-11, yakni tahun 1050, 1063, 1068, 1069, 1086, dan 1091. 

Penduduk setempat banyak yang menjadi korban tewas. Banyak bangunan dan rumah-rumah warga yang hancur atau bahkan rata dengan tanah. Aktivitas ekonomi dan keamanan pun mengalami kekacauan dalam rentang waktu yang cukup lama. 

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/10/17/pgqu8y320-bisik-rasul-saw-ke-bumi-saat-gempa-tenanglah-belum-saatnya



Sering Dengar Kata Hadhrami, Siapa Mereka? Ini Penjelasannya

Sering dengar kata Hadhrami? Siapakah sebenarnya yang disebut dengan Hadrami? Engseng Ho dalam The Graves of Tarim: Genealogy and Mobility across the Indian Ocean menuturkan seluk beluk masyarakat Hadhramaut. Mereka menamakan dirinya Hadharim (jamak) atau Hadhrami (tunggal).

Silsilahnya diyakini sampai pada Nabi Hud AS. Makamnya dipercaya berada di barat wadi (lembah) Hadhramaut atau sekira 80 km dari Kota Tarim. Komunitas tersebut memiliki tradisi penulisan genealogi yang runtut.

Di samping itu, ziarah ke pekuburan nenek moyang juga menjadi kebiasaan yang lestari. Di antara situs-situs terkemuka adalah, pusara Nabi Saleh AS di Lembah Sarr, makam Nabi Hud AS, Aidid, al-Aidrus, dan Ahmad bin Isa al-Muhajir. 

Berbicara tentang Hadharim tidak lepas dari cabang keturunan Nabi Muhammad SAW yang berkembang di sana. Ensiklopedi Islam untuk Pelajar mengungkapkan, Ahmad bin Isa (873-956) merupakan leluhur kaum Sayyid (jamak: Saadah). Dari Basrah (Irak), tokoh tersebut datang ke Hadhramaut, melalui Madinah dan Makkah,demi menghindari prahara politik pada 931. 

Sayyid berarti secara harfiah ‘tuan’ tetapi kemudian menjadi gelar untuk keturunan Fatimah az-Zahra binti Rasulullah SAW dari garis Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sementara itu, sebutan syarif ditujukan bagi keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Kaum syarif cenderung menyebar di Afrika Utara dan Asia Barat. Beberapa sempat menduduki pemerintahan sebagai gubernur atau raja. Sebagai contoh, penguasa Maroko sekarang, RajaMuhammad VI, berasal dari Dinasti al-‘Alawiyyin al-Filalliyyin yang sampai pada Hasan bin Ali.

Demikian pula dengan Syekh Muhammad bin Alawy al-Maliki (1947/1948-2004), seorang ulama tradisionalis di Makkah. Agak berlainan dengan mereka, kaum sayyid cenderung berdiaspora maritim ke India dan Nusantara. 

Ahmad bin Isa merupakan generasi kedelapan dari keluarga Fatimah dan Ali. Sosok yang berjulukan al-Muhajir itu awalnya kerap mengalami penolakan dari penduduk Hadhramaut.

Namun, perlahan-lahan dakwahnya berhasil sehingga memiliki pengikut untuk mengembangkan ajaran Islam. Masyarakat kemudian tidak hanya mengakuinya sayyid keturunan Rasulullah SAW.Mereka juga mencintainya sebagai figur panutan.

Ahmad al-Muhajir memiliki empat orang putra, yakni Ali, Hussain, Muhammad, dan Ubaidillah. Sang bungsu menyertainya hijrah dari Basrah keHadhramaut. Ubaidillah kemudian punya tiga orang anak, yaitu Alwi, Jadid, dan Basri. Catatan seputar keturunan Jadid dan Basri tidak terdeteksi sejak abad keenam Hijriah.

Hal itu berbeda daripada Alwi sebagai sayyid pertama yang lahir di Hadhramaut. Rekaman genealogisnya terus tercatat bahkan hingga masa kini. Jadilah sayyid keturunan Ahmad al-Muhajir disebut sebagai Ba’Alawi atau Alawiyin.Demikian dipaparkan Nourellyssa dalam memoarnya, My Journey to the Land of Love: Hadramawt-Tarim. 

Di Hadhramaut, kaum sayyid menjadi kelas sosial dengan kedudukan tertinggi. Kalangan ini selalu diminta bantuannya dalam meredakan konflik antarsuku. Strata sosial di bawah mereka adalah masayekh danqabail. Masayekh terdiri atas kaum cendekiawan Muslim di luar kelompok sayyid.

Sebelum kedatangan keluarga Ahmad bin Isa, golongan ini menduduki posisi terpenting di tengah masyarakat setempat, tetapi kemudian tergantikan kaum sayyid. Sementara itu, qabail merujuk pada faksi prajurit yang siap bertempur dengan perintah kepala suku.Kaum pekerja kasar, semisal nelayan dan petani, menduduki posisi terbawah. 

Meskipun secara sosial berkedudukan tinggi, kaum sayyid tidak punya kekuatan politik yang memadai. Mereka hanya dapat bertahan di sana menghindari rupa-rupa prahara, mulai dari konflik antardinasti kecil selama abad ke-13 hingga munculnya Kesultanan Kathiri pada abad ke-16 yang akhirnya dikuasai Inggris.Ketidakstabilan tersebut mendorong mereka atauHadharim umumnya untuk merantau ke pesisir Afrika Timur dan Asia. 

Alasannya berkelana ke luar Hadhramaut tidak hanya lantaran kegentingan politik. Darah pelaut ulung memang mengalir dalam tubuh mereka. Sejak ratusan tahun silam, bangsa Arab akrab dengan jalur maritim yang menghubungkan Laut Tengah, Samudra Hindia, dan Laut Cina Selatan.

Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara mengutip TW Arnold (1968) yang menyatakan, bangsa Arab telah menguasai perniagaan di Sri Lanka sejak abad kedua SM. Kaum cendekiawan Eropa pun mengakui mereka sebagai perintis globalisasi atau perdagangan dunia. Pengakuan itu antara lain disampaikan orientalis Austria abad ke-19, Aloys Sprenger, sebagaimana dikutip Benedikt Koehler dalam Early Islam and the Birth of Capitalism.  

Dengan demikian, jauh sebelum risalah Islam ada, bangsa Arab berperan penting dalam lalu lintas komersial Asia-Afrika-Eropa. Pada masa wafatnya Rasulullah SAW atau sekitar abad ketujuh, para pelaut Arab mendominasi distribusi rempah-rempah dari pusatnya di Maluku hingga bandar-bandar di Laut Tengah, utamanya Venesia (Italia).

Menurut Abdul Hadi WM dalam Cakrawala Budaya Islam, mereka tidak hanya membawa semangat berdagang dan berinteraksi dengan penduduk-penduduk lokal, tetapi juga memperkenalkan Islam.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/10/16/pgpaao320-sering-dengar-kata-hadhrami-siapa-mereka-ini-penjelasannya




Bismillah … Sahabatku sekalian Ini sedikit Tips dari dr. Nanung Danar Dono, Ph.D. Dir. Halal Center Fakultas Peternakan UGM Simak dan ikuti ya… TIPS-TIPS MENYIMPAN DAGING QURBAN YG BENAR: (Agar tetap terjaga kualitasnya) 1. Sebelum disimpan, daging qurban *jangan dicuci*. Jika dicuci pakai air kran, kuman2 bisa masuk dan tinggal di dalam pori2 daging. Itu bisa merusak kualitas daging. Nyucinya besok saja kalo pas mau masak daging. 2. Jika dapat daging banyak, jangan menyimpan daging utuh 2-4 kg di dalam freezer. Cara yg benar, potong2 daging berukuran lebih kecil, lalu simpan di dalam *plastik-plastik berukuran 1/2 kg* atau 1 kg. Jika mau masak, ambil satu kantong kecil, biarkan yg lain tetap beku di dalam freezer. InsyaAllah daging dalam keadaan beku dapat disimpan >1 thn. 3. Sebelum disimpan di-freezer, simpan daging (mampir dulu) di dalam kulkas yg sejuk selama *4-5 jam*. Setelah dingin, baru dimasukkan ke dalam lemari es (freezer). 4. Jika mau masak daging beku, *jangan* mencairkan es daging atau daging beku menggunakan air panas. Cara yg benar adalah letakkan daging beku tsb di bawah *air kran suhu normal* (dalam keadaan daging masih terbungkus rapat dalam plastik). Setelah daging kembali empuk, buka plastik, cuci daging hingga bersih, tiriskan, lalu siap dimasak. 5, Tips tambahan : Jangan memakai kresek warna hitam karena tas kresek hitam itu adalah hasil daur ulang Tas kresek daur ulang warna hitam mengandung karsinogen yang dapat memicu sel kanker. Pakailah kresek putih atau plastik bening….!!! Baarakallah Semoga bermanfaat www.rumah-bumbu.com *Sebarkan ke saudara kita smga mnjadi amal jariyah* Jazaakumullahu khairan



Jejak Kaum Nabi Shaleh di Petroglif Pegunungan Saudi

Pegunungan di kota Jubbah, Arab Saudi menyimpan segudang kisah tentang kehidupan manusia ribuan tahun lalu yang tinggal di daerah itu. 

Yakni suku Tsamud. Di pegunungan itu, tak hanya memberitahu tentang gaya hidup namun juga bahasa yang digunakan suku Tsamud masa itu. 

Untuk diketahui, Suku Tsamud adalah sekelompok suku yang mendiami sebuah kota di Barat Semenanjung Arab. 

Menurut sejarah Islam, suku ini hidup di zaman Nabi Shaleh. Suku ini telah melewati banyak fase perkembangan zaman.

Seperti yang terdapat dalam petroglif yang terdapat di batu-batu pegunugan Jubbah yang menggambarkan adanya kegiatan menggembala, pertanian dan perdagangan. 

Selain itu dalam petroglif juga menunjukkan tentang jenis hiburan dan gaya hidup suku Tsamud kala itu. Di mana terdapat petroglif bergambar orang menari.  

Dalam petroglif di pengunungan Jubbah banyak menggambarkan tentang manusia dan hewan yang hidup ribuan tahun lalu.

Menurut UNESCO, nilai universal seninya terdapat pada petroglif yang dibuat dengan menggunakan perkakas sederhana seperti palu batu yang sederhana dengan latar degradasi lingkungan yang bertahap. 

Karenanya petroglif di pegunungan Jubbah pun merupakan hasil ekspresi jenius manusia yang menakjubkan. 

Alhasil menurut UNESCO, banyaknya petroglif di pegunungan Jubbah membuat kota tersebut menjadi kota yang memiliki komplek seni cadas terbesar di Arab Saudi. 

Sejarawan Arab Saudi, Mamdouh Mzawem menjadi orang yang telah menghabiskan banyak waktunya untuk meneliti tentang petroglif karya suku Tsamud. 

Dia telah berpindah-pindah lokasi di pegunungan Jubbah untuk mengebal seluruh karakter petroglif di sana. Mzawem pun menemukan berbagai hal menarik setelah membaca skrip, menganalisis gambar dan menemukan karakter-karakter baru dalam petroglif di pegunungan Jubbah.

“Saya sudah mendokumentasikan 58 naskah dari seorang Tsamud yang tinggal di Jubbah dengan perincian yang lengkap dan bergambar. Saya telah membaca otobiografinya,” kata Mahmoud Mzawem seperti dilansir Alarabiya pada Jum’at (1 /2).  

Mzawem menuturkan salah satu tokoh suku Thamud yang diketahui melalui petroglif dan sumber lainnya yakni Hajjaj si pemburu. Hajjaj adalah pria yang dikenal sebagai pemburu singa, kambing gunung dan orxy Arab. 

Dalam melakukan pemburuan, dia menggunakan alat alat seperti perisai, tombak, dan bayonet. Hajjaj juga digambarkan mempunyai fisik yang kokoh. 

Selain Hajjaj, Mahmoud Mzawem juga menemukan karakter lainnya. Yakni Ken putra Tal. Tokoh suku Tsamud ini merupakan orang yang dikenal keberaniannya. Seperti Hajjaj si pemburu, Ken putra Tal juga memiliki singa seperti dalam petroglif di pegunungan Jubbah. 

“Dua dari karya-karyanya yang terkenal memperlihatkan dia menunggang singa, memegang tombak, dan melawan seorang yang menunggang unta dengan busur dan anak panah. Ini berarti dia menguasai singa, menunjukan kekuatannya,” Andrian Saputra

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/19/02/01/pm9959320-jejak-kaum-nabi-shaleh-di-petroglif-pegunungan-saudi



Pembenaran Haji dan Air Zamzam didalam Taurat

Oleh: Mohammad Ali MA,
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

Alquran menyebutkan ayat penting berkaitan dengan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah sebagai bagian dari situs suci pelaksanaan ibadah Haji. Dan ini tentu saja terkait langsung dengan latar belakang adanya kemunculan sumur zamzam.

Hal ini dapat dibaca pada nas Qs. Al-Baqarah 2:158:

ان الصفا والمروة من شعاءرالله (“Inna ash-Shafa wa al-Marwata min sha’airi-LLAH ..”)

Dalam kitab Taurat juga disebut:

הנה אצ-צפא ואל-מרוה מטקסי יהוה (“Hinne atz-Tzafa ve al-Marvah mith-thiqsei ADONAI …”)

Memang, dalam Alquran memang disebutkan penyebutan situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah. Namun, Alquran tidak menyebutkan adanya penyebutan situs sumur zamzam.

Sebaliknya, kitab Torah (Taurat, red) memang hanya menyebutkan narasi peristiwa Hagar (Hajar, bahasa arab red), bunda Ishmael (Ismail) yang hal ini terkait kemunculan situs “sumur Lahai” (sumur zamzam).

Tetapi dalam hal ini Torah tidak menyebutkan penjelasan mengenai adanya situs bukit Shafa dan situs bukit Marwah yang menjadi sebab akibat kemunculan sumur Lahai (sumur zamzam). Namun, kedua teks suci ini tidak saling bertentangan, justru saling melengkapi dan saling menguatkan tentang adanya latar belakang kemunculan sumur zamzam.

Maka utulah sebabnya, Rav Nosson Scherman dalam ‘Le’ houmach: Chamisha Chumshe Torah. Le’ edition Edmond J. Safra’, terkait nas Sefer Bereshit 16:14 beliau menyatakan bahwa sumur tersebut akhirnya menjadi tempat doa di masa depan. Ini bisa dilihat dalam lihat Sefer Bereshit 24:62.

Rav Nosson Scherman ketika mengomentari ayat ini beliau berkata: Par la suite, ce puits est devenu un lieu de priere, voir plus loin, Sefer Bereshit 24:62 (Brooklyn, New York: Mesorah Publications, Ltd., 2015), hlm. 75.

Rabbi Bachya ben Asher ketika menjelaskan istilah באר לחי (Be’er Lahai) pada Sefer Bereshit 16:14 beliau pun berkata: כי בכל שנה היו הישמעאלים חוגגים אל הבאר הזה גם היום יקרא באר זמזם (ki be khol shanah hayu hay-Yisma’elim choggim el ha-be’er hazzeh gam hay-yom yiqqare be’er zamzam).

Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ismael yang melaksanakan ibadah haji menuju sumur ini, dan juga sekarang ini disebut sumur zamzam.”

Ibn Ezra ketika menjelaskan nas Sefer Bereshit 16:14 terkait istilah באר זמזם (Be’er zamzam) juga telah menyatakan dengan tegas:

כי בכל שנה היו חוגגים הישמעאלים אל הבאר הזות גם היום יקרא באר זמזם (ki be khol shanah hayu choggim hay-Yishmaelim el ha-Be’er hazzot gam hay-yom yiqqare Be’er Zamzam).

Artinya: “karena setiap tahun ada orang-orang keturunan Ishmael yang berhaji menuju sumur itu dan juga sekarang ini sumur tersebut disebut sumur Zammzam.”

Dalam dokumen-dokumen Rabbinik, kesinambungan tradisi intelektual Rabbi Bachya ben Asher hingga Rabbi Ibn Ezra dapat ditelusuri secara akademik.

Rabbi Bachya ben Asher (1255 – 1340 M.) murid utama Rabbi Shlomo ben Avraham Aderet/Rashba (1235 – 1310 M), dan Rashba adalah murid utama Rabbi Moshe ben Nachman/Ramban (1194 – 1270 M.), sedangkan Ramban sendiri sangat akrab dengan karya intelektual Rabbi Avraham Ibn Ezra (1089 – 1164 M.).

Karya Ibn Ezra אבן עזרא על התורה (Ibn Ezra ‘al ha-Torah) ini merupakan karya yang disusun berdasar Torah she be’al phe (Torah Lisan). Itulah sebabnya dalam buku עיונים בלשונות הראב”ע karya Abe Lipshitz (Chicago: the College of Jewish Studies Press, 1969) disebutkan adanya banyak kutipan dari karya Ibn Ezra yang termaktub dalam tulisan-tulisan rabbi-rabbi otoritatif era Rishonim.

Dan kebenaran teksnya itu pun dikonfirmasi oleh mereka sendiri, di antaranya Rabbi David Kimchi/Radak (1160 – 1235 M.), Rabbi Moshe ben Nachman/ Nachmanides (1194 – 1270 M.), Rabbi Bachya ben Asher (1255 -1340 M.) dan para Tosafis yang pernyataan mereka juga termaktub dalam teks Gemara, Talmud Bavli.

Yang lainnya separate Rabbi Moshe ben Maimon/ Maimonides (1135 – 1204 M.) berkata: “study them (Ibn Ezra’s words) with intelligence, understanding and deep insight.” H. Norman Strickman, Ibn Ezra’s Commentary on the Pentateuch. Genesis. Bereshit (New York: Menorah Publishing Company, 1988), p. xxii) juga berpendapat sama.



Anak Ramai Tapi Mandul

1. Rasulullah bertanya kepada para sahabat tentang persoalan mandul. Sabda Nabi:

مَا تَعُدُّونَ الرَّقُوبَ فِيكُمْ؟ قَالَ قُلْنَا: الَّذِي لَا يُولَدُ لَهُ، قَالَ: «لَيْسَ ذَاكَ بِالرَّقُوبِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا

“Apa yang kamu faham tentang mandul? Sahabat lalu menjawab: Mandul adalah mereka yang tidak memiliki anak. Lalu Rasulullah bersabda: Mandul yang sebenar adalah mereka yang memiliki anak, tetapu anaknya tidak memberi manfaat buatnya.” (HR Ahmad).

2. Inilah perbezaan pertimbangan manusia dengan penilaian Allah. Rasulullah mendidik sahabat supaya memandang tinggi kepentingan mendidik anak yang soleh. Anak yang ramai belum tentu memberikan manfaat buat ibubapa terutama di akhirat. Sebab itu Rasulullah tegaskan peranan anak yang soleh. Sabda Nabi:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ مِنْ بَعْدِهِ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ

“Apabila meninggalnya seorang manusia itu terputuslah segala amalannya melainkan tiga perkara: Anak yang soleh yang mendoakannya, sedeqah jariah serta ilmu yang bermanfaat.”

3. Sedarkah kita bahawa istighfar seorang anak buat bapanya akan mengangkat kedudukan bapanya? Perkara ini diceritakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadith:

إِنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ في الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat kedudukan seorang hamba soleh di dalam syurga. Lalu hamba itu bertanya: Wahai Tuhanku, bagaimana aku boleh mendapat kedudukan tinggi seperti ini? Lalu dijawab kepadanya: Melalui istighfar yang anakmu lakukan buatmu.” (HR Ahmad, Ibn Majah)

Lihatlah betapa pentingnya peranan anak yang soleh. Sehingga istighfar yang dia lakukan boleh memberikan kesan kepada ayahnya.

4. Atas dasar itu Nabi Ibrahim berdoa di dalam al-Quran agar dikurniakan anak yang soleh. Lihatlah betapa pentingnya peranan anak yang soleh sehingga seorang Nabi sendiri berdoa agar dikurniakan anak yang soleh. Doa ini direkodkan di dalam al-Quran. Kata Nabi Ibrahim:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai Tuhanku, kurniakanlah daku anak-anak yang soleh (al-Saffat: 100)

Marilah bersama kita amalkan doa yang dibaca oleh Nabi Ibrahim ini. Mudah-mudahan kita dikurniakan anak yang soleh.

Dr. Ahmad Sanusi Azmi
https://www.facebook.com/DrAhmadSanusi/



Berita Duka – Adityawarman Thaha

Assalamualaikum wr wb.

انا لله وانا اليه راجعون

اللهم اغفرلها وارحمها وعافها واعف عنها واكرم نزلها ووسع مدخلها واغسلها بالماء والثلج والبرد ونقها من الخطايا كما ينقي الثوب الايبض من الدنس وابدلها دارا خيرا من دارها واهلا خير من اهلها وزوجا خبر زوجها  وادخلها الجنة واعذها من عذاب القبر وعذاب النار

Keluarga besar Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah dan keluarga besar Syekh Abdullah menyampaikan telah meninggal dunia anggota keluarga kami Bapak Adityawarman Thaha, almarhum berkontribusi besar dalam perjuangan, dakwah pendidikan Islam dan juga pertahanan bela negara; baik dalam lingkungam Darul Funun, PII dan aktivitasnya sebagai anggota TNI Republik Indonesia.

Beliau adalah anak tokoh ulama Limapuluhkota dan Payakumbuh Buya Nasharuddin Thaha, perintis kitab Hukum Perkawinan Republik Indonesia yang sampai sekarang masih menjadi referensi di Nusantara. Ibu beliau adalah Sofiah Abbas, anak dari Syaikh Abbas Abdullah, yang menjadi saksi dibukanya kelas belajar untuk kaum perempuan pertama kali di dunia pendidikan Islam oleh Syaikh Abbas Abdullah bersamaan dengan dibukanya Diniyah Putri oleh murid Syaikh Abbas Abdullah, yakni Buya Zainuddin Labay El-Yunusiah bersama adiknya.

Masa pensiun beliau dimulai dengan berpartisipasi aktif membangun Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah di Sumatera Barat, mengagas pembangunan kembali sekolah-sekolah Islam bersejarah di Sumatera Barat walaupun beliau harus sering pulang pergi dari tempat domisilinya di Jakarta.

Perjalanan hidup beliau penuh warna, hingga akhir hidupnya beliau masih konsisten berjuang menjadi penghubung masyarakat Islam dengan Republik, hingga beliau sempat ditahan karena perbedaan pandangan politik. Dalam kesempatan yang sama beliau dituduhkan dengan tuduhan yang berat, makar terhadap negara, yang kemudian tidak dapat dibuktikan secara hukum karena tudahan tersebut tidak memiliki bukti yang kuat dan mendasar.

Beliau meninggal pada tanggal 12 Juni 2019 pukul 23.40 di RSAD Gatot Subroto karena infeksi paru-paru, dan dimakamkan esok harinya dekat dengan saudara beliau Budiman Thaha di TPU Tanah Kusir.

Semoga Allah mengampuni kesalahan almarhum dan semoga almarhum husnul khatimah dan amal usahanya dapat diteruskan dan diberkahi Allah menjadi amal jariyah, biidznillah.

an. Yayasan Wakaf Darul Funun
Abdullah A Afifi



Polisi Jujur yang Lain

Para pejabat seharusnya belajar dari Mantan Gubernur Sumatera Barat, Brigjen Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa. Jangankan mengkorupsi duit haji, dibiayai Kapolri naik haji pun jenderal jujur ini tak mau.

Cerita ini terjadi tahun 1967. Setelah pensiun, Kaharoeddin didatangi oleh Brigjen Polisi Amir Machmud. Amir Machmud adalah keluarga sekaligus sahabat Kaharoeddin. Hubungan mereka sangat dekat sejak awal kemerdekaan. Amir yang merupakan junior Kaharoeddin ini menjadi jenderal polisi yang paling bersinar saat itu.

Brigjen Amir ditugasi Kapolri Jenderal Sutjipto Judodihardjo untuk menjemput Kaharoeddin ke Jakarta. Selanjutnya Kaharoeddin akan naik haji diongkosi Kapolri. Mungkin Kapolri saat itu sengaja menyuruh Amir yang menjemput karena tahu kedekatan mereka. Amir diharapkan mampu membujuk Kaharoeddin yang terkenal keras menolak semua gratifikasi, termasuk dari atasannya sendiri.

Maka tanggal 16 Agustus 1967, Amir datang ke kediaman Kaharoeddin di Jl Tan Malaka no 8, Kota Padang. Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Namun Kaharoeddin menolak pemberian Kapolri untuk naik haji.

“Malu kalau naik haji diuruskan Kapolri,” kata Kaharoeddin seperti dikutip dalam buku Brigadir Jenderal Polisi Kaharoeddin Datuk Rangkayo Basa, Gubernur di Tengah Pergolakan, terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1998.

“Dia saklek kalau urusan seperti ini. Tak mau menerima pemberian apa pun,” kata cucu Kaharoeddin, Aswil Nasir, membenarkan kisah ini saat berbincang dengan merdeka.com.

Cerita tak berakhir di sana. Pada Lebaran tahun 1970, Bupati Tanah Datar Mahjoeddin Algamar dan Wali Kota Padang Achirul Jahja datang ke rumah Kaharoeddin. Bagi keduanya dan Bupati Pariaman M Noer, Kaharoeddin memang sudah dianggap ayah sendiri.

Saat berbincang, mereka merayu dengan halus agar Kaharoeddin mau naik haji. Maklum, Kaharoeddin dianggap ahli agama, taat beribadah dan jujur. Sayang kalau Rukun Islamnya belum lengkap jika tak ke Tanah Suci.

Begitu dirayu, Kaharoeddin langsung memotong pembicaraan itu.

“Jadi maksud kalian mau menggunakan uang negara untuk ongkos naik haji saya?” tanyanya tegas.

Buru-buru dua bupati itu menggeleng. “Bukan begitu Bapak. Bapak jangan berpikiran seperti itu. Kami kan anak-anak bapak. Kami akan iuran agar bapak bisa naik haji,” kata mereka.

Keduanya berkali-kali menjelaskan ini sama sekali bukan uang negara, melainkan uang pribadi mereka. Sengaja ditabung sebagai pemberian agar Kaharoeddin bisa berhaji.

Setelah lama dibujuk dan yakin uang ini merupakan uang halal, Kaharoeddin mau juga berangkat. Tapi masalah baru muncul, keluarga ingin agar Kaharoeddin naik haji bersama istrinya. Pasangan ini memang sama-sama berusia lanjut.

Tapi Kaharoeddin enggan meminta pada siapa pun. Demi ongkos naik haji istrinya, keluarga Kaharoeddin akhirnya menjual tanah milik mereka. Dengan itu Kaharoeddin mampu berhaji tahun 1971. Padahal dia menjadi Komandan Polisi Sumatera Tengah bertahun-tahun. Dia juga menjadi Gubernur Sumatera Barat selama tujuh tahun. Dia gubernur pertama Sumatera Barat.

Jika mau, enteng saja Kaharoeddin naik haji bersama keluarganya dengan biaya dinas. Atau malah mengkorupsi uang negara untuk naik haji atau umroh. Sudah rahasia umum, banyak sekali pejabat yang melakukan hal itu. Tapi Kaharoeddin tak mau. Dia tidak ingin jadi koruptor.

Seandainya semangat Brigjen Kaharoeddin masih diteladani sampai saat ini, tentu rakyat Indonesia tak akan sengsara.

sumber: merdeka.com



Ujian Para Pemimpin Negeri

Oleh : Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Syahdan, suatu saat akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Kapan? “Ketika para pendusta dipercaya, sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanat, sementara orang yang amanat dianggap khianat.” Demikian sabda Nabi dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah.

Nabi juga mengindikasikan pada situasi kehidupan yang anomali itu, akan tampil sosok-sosok yang disebut Ruwaibidhah. Sahabat bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu”? Baginda Rasul menjawab, yakni “Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR. Ahmad).

Ketika para elite suatu negeri memiliki perangai Ruwaibidhah, maka sejak itulah kekisruhan berbangsa datang silih berganti. Maka, betapa penting isi hati dan kepala para pemimpin yang berongga luas dan kaya. Luas dan kaya ruhani, wawasan, serta pola tindak yang mengandung serba kebajikan layaknya para pemimpin sejati berbingkai kerisalahan. Bukan para petinggi negeri yang kerdil visi dan ruhani.

Para pendiri bangsa di Republik ini dikenal sebagai sosok-sosok negarawan yang cerdas dan menjunjung tinggi kebajikan. Bung Karno, Hatta, Natsir, Kasimo, Ki Bagus Hadikusumo meski sering berbeda pandangan, mereka saling menaruh percaya. Bahkan, tatkala Soekarno tengah berbenturan keras dengan kalangan Islam di tengah badai politik nasional yang kian memanas, tokoh sentral Indonesia itu masih kukuh menetapkan Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Para pemimpin sejati dan negarawan memang memiliki karakter utama, ucapannya dapat dipegang lahir dan batin. Mereka pecinta nilai-nilai kebajikan utama. Sekali mereka berjanji dan mengikrarkan satu hal, mereka menepatinya. Sikapnya kesatria, berani berkorban demi penyelamatan bangsa. Bung Hatta di puncak pengabdiannya lebih memilih uzlah dari kekuasaan yang mulai pongah demi keutuhan negeri.

Nilai kebajikan

Para pemimpin negeri selalu diuji Tuhan atas jabatan dan kekuasaannya. Bahwa jabatan itu mandat, bukan pulung atau anugerah gratis kekuasaan. Mandat itu amanat yang mesti ditunaikan dengan keterpercayaan tinggi. Dalam menunaikan amanat itu para pemimpin bukan sekadar menunaikan tugas-tugas fungsional, lebih-lebih yang bersifat praktis; tetapi tidak kalah pentingnya menegakkan nilai-nilai ideal kehidupan. Bagimana mengurus negeri dengan prinsip-prinsip bernegara yang benar.

Menjadi para pemimpin partai politik pun tak perlu angkuh diri seakan kekuasaannya milik sendiri dan lepas dari pertanggungjawaban publik. Kedudukan politik tersebut merupakan mandat rakyat, bukan warisan dinasti atau pusaka yang berkeramat. Bukan pula sebagai kendaraan kekuasaan belaka, yang boleh dioperasikan dengan semaunya sendiri. Jadikan partai politik dan kekuasaan sebagai wahana sebesar-besarnya untuk mengurus hajat hidup dan kebajikan publik.

Negara dan kekuasaan itu menurut Plato harus melandaskan diri pada kebajikan, sedangkan kebajikan ditopang pengetahuan. Artinya, dalam mengurus negara tidak boleh lepas dari dasar-dasar kebajikan yang kaya ruhani dan persepektif. Mengurus negara bukan sekadar membangun jagad fisik, tetapi juga ruhani bangsa. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”, demikian frasa dalam lagu Indonesia Raya. Maka para pemimpin dan pejabat negara harus memiliki idealisasi kebajikan di dalam dirinya dan dalam mengurus negerinya.

Persoalan bangsa biasanya dimulai ketika para pemimpin negeri kehilangan nilai kebajikan yang mesti ditepatinya dalam kata dan laku. Berikrar tidak akan membela yang salah, malah mengerahkan segala daya dan kekuatan untuk menjadikannya bertahta. Suara lirih hingga nyaring tentang pentingnya nilai-nilai utama dalam mengurus kehidupan orang banyak malah tak mengusik hati karena kuatnya rasa digdaya. Mata air kebenaran tak mampu menggugah kesadaran yang membatu.

Karena prinsip kebajikan, maka para pemimpin negeri memiliki sifat futuwah yang memancarkan jiwa kesatriaan atau kenegarawanan. Dia bunuh ego dan kepentingan sempit dirinya demi kemaslahatan yang lebih luas. Dia legawa menerima apapun yang positif jika hal itu untuk kepentingan bangsa dan negara. Sebaliknya, dia lepas apapun yang dapat menjadi benih kerusakan di tubuh bangsa, meski menyangkut orang terdekat. Belajar adil meskipun pahit.

Pemimpin agama pun harus menunjukkan teladan dalam menegakkan nilai-nilai kebaikan. Para tokoh agama dengan ilmu agamanya yang kental jangan larut dalam pesona kebenaran semu karena tingginya hasrat kuasa, kepentingan, dan pesona inderawi. Melarang orang lain mempermainkan dan mempolitisasi Tuhan, Nabi, dan kitab suci malah diri sendiri melakukan hal sama demi kepentingan sesaat. Sama-sama menjual agama dengan harga termurah, samanan qalila.

Mati kesadaran

Para pemimpin bajik biasanya bertumpu pada kebenaran nurani, selain rasionalitas yang jernih dan cerdas. Nabi mengajarkan agar bertanya pada nurani ketika diri bimbang antara benar dan salah. Hati itu biasanya bening, tak bisa dibohongi. Meski lidah berkata benar dan baik, tetapi hati tak pernah dusta manakala yang terjadi sesungguhnya salah dan buruk. Allah menciptakan hati autentik atau qalbu salim senapas dengan pikiran jernih, yang sama-sama jujur menyuarakan kebenaran dan kebaikan sejati dari Dzat Ilahi.

Namun, biasanya suara hati dan pikiran hati yang jernih sering dikalahkan oleh hawa nafsu yang membara. Nafsu duniawai atau inderawi yang haus akan kedigdayaan ego diri, harta atau materi, dan tahta yang membara melebihi takaran. Pesona duniawi yang satu ini tak kenal agama, suku, ras, dan golongan. Kalangan agama pun bisa terjangkiti, bahkan dengan sumir maupun terbuka dengan menggunakan dalil kitab suci, nabi, dan Tuhan yang boleh jadi jauh lebih “khusyuk” ketimbang orang sekuler karena mengalami “sakralisasi”.

Ulah ugal-ugalan orang “sekuler” maupun “beriman” yang mematikan suara hati yang jernih sama hasilnya, melahirkan kegaduhan hidup bersama. Mereka biasanya muka badak di jalan salah dengan keyakinan tinggi merasa berada paling benar. Bedanya yang satu memakai nalar verbal yang tampak cerdas di permukaan tetapi sesungguhnya mengecoh kebenaran. Satunya lagi berbingkai dalil agama yang kental ditunjang retorika indah dalam alfabeta “kesucian” yang semu dan memetikan kebenaran hakiki. Menjadi pemimpin kaum beriman malah kasar hati dan mengecoh umat.

Dibalut hawa nafsu sesaat, tidak jarang pikiran verbal menyesatkan pikiran dan tindakan jernih yang bersarang di hati. Meras berada dalam bungkai jiwa berpikir merdeka, yang mencuat malahan pilihan kerdil. Bertahan dalam kebenaran absurd, yang mewujud justru keangkuhan diri. Merasa menjadi insan cendekia atau ulama yang jumawa, tetapi ujaran dan hasil tindakannya kerdil menyalahi kebenaran dan kebajikan yang sublim. Mereka gampang berpandangan ekstrem, padahal Tuhan mengingatkan bahwa ciri ulil-albab dan orang yang memperoleh hidayah ialah “yang mendengar setiap pendapat lalu mengikuti mana yang terbaik di antaranya” (QS Az-Zumar: 18).

Nalar verbal berbalut nafsu sesaat seringkali mengicuh. Asal kontroversial dan menyempal dari arus umum disebut maju dan melintasi. Tidak pernah dipersoalkan substansi dan hakikat ujarannya. Sudah tahu salah tetap dijalani dan didukung karena yang ada di pikiran adalah kalkulasi-kalkulasi kegunaan yang sarat kepentingan. Kebenaran hanya dilihat dari luar secara verbal, tak pernah diselami hingga ke lubuk terdalam yang hakiki.

Dunia hanya dicanda dengan nalar syariat yang kering, tanpa masuk ke lubuk hakikat dan makrifat untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi! Karena matahati tertutup hawa nafsu dan nalar verbal yang mengecoh, maka yang tampil adalah sosok-sosok bebal diri yang mati kesadaran ruhaninya. Mereka merasa digdaya atas nama apapun, lalu tebal muka dan tak mau diberi peringatan berbuah kebenaran dan kebaikan yang utama.

Mereka tumpul akal dan ruhaninya dalam membaca tanda-tanda zaman yang diisyaratkan Tuhan. Semua baru tersentak setelah apa yang terjadi sungguh mengejutkan dan di luar perkiraan, bahwa takdir Allah menentukan jalannya sendiri (QS Al-Hadid: 22): bahwa tidak ada suatu kejadian apapun yang menimpamu kecuali atas ketentuan-Nya, dan bagi Allah semuanya mudah!

Red: Agus Yulianto
REPUBLIKA.CO.ID, Ahad, 23 April 2017 | 12:55 WIB



Rapat Sinergi 2019

Alhamdulillah rapat sinergi 2019 Darul Funun El-Abbasiyah di Perguruan Darul Funun yang diwakili seluruh entitas dan wakil elemen Darul Funun: Yayasan, Perguruan, Aamil dan Institute.

Bismillah, mari kita sambut 2019/2020 dengan amal aktifitas yang bersinergi, semoga Allah berikan keberkahan.



Pengukuhan Buya: Drs Adiaputra dan Dr Afifi Fauzi Abbas

Pemberian penghargaan dan pengukuhan gelar kehormatan BUYA Darul Funun El-Abbasiyah kepada dua tokoh figur yang telah lama mengabdi dan membangun Darul Funun El-Abbasiyah.

1. BUYA Dr H Afifi Fauzi Abbas, MA ( Pimpinan Institut dan Ketua Dewan Pembina Yayasan)

2. BUYA Drs H Adiaputra (Pimpinan Perguruan dan Dewan Pembina Yayasan)

Semoga Allah memudahkan tanggung jawab lebih yang diberikan dan memberikan penghargaan atas keikhlasan dan dedikasinya selama ini.