All posts by admin

Pemugaran Tugu 100 Tahun dan Makam Founding Father

Alhamdulillah di semester ini dapat dimulai upaya pemugaran tugu 100 tahun Syekh Abbas Abdullah oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pionir yang mengembangkan pendidikan surau (agama) dengan pendidikan umum, pemugaran ini juga meliputi memperbaiki makam yang sudah lama rusak.

Upaya ini dilakukan setelah beberapa kali tertunda karena prioritas membangun fasilitas pendidikan perguruan dan juga desakan dari berbagai pihak dan lembaga.

Semoga upaya ini mendapat keberkahan oleh Allah SWT sebagai salah satu upaya menjaga marwah dan semangat yang sejak awal dibangun oleh pendahulu sebagai salah satu keseriusan (jihad) dalam upaya membangun masyarakat madani.



Hejaz Railway Museum, Saksi Sejarah Kereta Api Pertama di Madinah

Kota Madinah dan Damaskus pernah terhubung oleh jaringan rel kereta api. Jejak transportasi itu kini bisa dilihat di Hejaz Railway Museum, Madinah. Di sela kesibukan meliput penyelenggaraan musim haji kali ini, tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja Madinah sempat bertandang kesana. Seperti apa museum kereta api yang kini berubah menjadi restoran itu? Berikut laporannya.

Dilihat sekilas, Hejaz Railway Museum lebih mirip taman. MCH Daker Madinah, Kamis (13/09) sore berkunjung ke museum yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Masjid Nabawi tersebut. Tiket masuk hanya 5 riyal atau sekitar Rp 20 ribu per orang. Saat peak season, tiket dijual dengan harga dua kali lipat atau 10 riyal. Tapi, jangan harap mendapat bukti tiket. Begitu uang diserahkan, petugas loket langsung mempersilakan masuk tanpa memberi kertas tiket.

Pengunjung saat itu sedang sepi. Hanya ada beberapa keluarga Arab yang terlihat duduk-duduk di kursi taman. Ada juga beberapa perempuan yang mengenakan abaya dan cadar berwarna hitam. “Kalau sore memang sepi, soalnya menjelang Magrib. Setelah salat Isya biasanya ramai,” kata Mohammed Hamim, sang penjaga loket yang lumayan mampu berbahasa Inggris.

Arab Saudi memang menerapkan aturan ketat pada semua pelaku usaha. Setiap terdengar suara azan, semua aktifitas usaha harus berhenti. Tidak boleh tidak. Selesai salat baru boleh buka lagi.

Di dekat pintu masuk museum terdapat satu gerbong berwarna cokelat. Gerbong itu pernah berjaya pada masanya. Agak masuk ke dalam, terdapat amphitheater mini untuk tempat pertunjukan atau sekadar nongkrong. Di antara pepohonan terdapat jalan setapak. Sisi kiri dan kanannya dilengkapi bangku panjang untuk tempat duduk pengunjung. Ada pula taman rumput yang dihiasi pepohonan kurma. Saat malam, lampu biru dan kuning yang melilit pohon kurma itu menyala. Pemandangan terasa makin warna-warni.

Di pinggir taman terdapat kios-kios yang menyajikan aneka cemilan dan minuman. Agak aneh rasanya melihat pemandangan serbahijau di Arab Saudi yang panas dan tandus. ’’Kota Madinah memang beda dengan Makkah. Tata kota Madinah lebih baik. Banyak taman. Lebih tentram,’’ jelas M. Rofi’i, warga Indonesia yang menjadi penerjemah bagi petugas haji.

Di ujung museum ada dua lokomotif yang pernah beroperasi pada tahun 1900-an. Namun, dua lokomotif itu telah dirombak menjadi restoran unik. Lokomotif dicat warna hitam dan tersambung dengan 12 gerbong. Tapi, bukan gerbong asli. Gerbong-gerbong itu telah disulap menjadi ruang makan. Saat malam, restoran lokomotif itu terlihat lebih hidup karena dihiasi lampu sorot.

Restorasi museum rupanya belum selesai. Sebab, di beberapa lokasi terlihat material proyek masih berserakan. Rencananya, museum itu dilengkapi dengan kids zone untuk area permainan anak. Ada juga rencana pembangunan taman baru yang sedang dikerjakan. Kerajaan Arab Saudi kini memang getol-getolnya membenahi berbagai obyek wisata.

Mereka telah mencanangkan gerakan Saudi Vision 2030. Inti dari gerakan itu adalah melepaskan Arab Saudi dari ketergantungan pada minyak. Sektor pariwisata diharapkan mampu mengganti pendapatan negara dari penjualan minyak. Nah, Hejaz Railway Museum termasuk salah satu destinasi wisata andalan Arab Saudi yang kini sedang direstorasi.

Museum ini masuk wilayah distrik Al-Anbariya. Pada masa lalu, kawasan tersebut merupakan stasiun kereta api aktif. Sisa-sisa rel kereta masih tampak di area museum terbuka itu. Beberapa referensi menyebutkan, jaringan rel kereta api itu dibangun pada tahun 1900 dan selesai pada 1908. Kedatangan perdana kereta di Madinah pada 1 September 1908.

Rel tersebut pernah menghubungkan kawasan Damaskus (Syria) dengan Madinah (Arab Saudi). Jaraknya sekitar 1.320 kilometer. Pada masa itu, kereta api tersebut menjadi satu-satunya alat transportasi umum yang dimanfaatkan oleh jamaah haji dari Syria, Jordania, Pakistan, Iraq, dan Turki. Sebelum kereta api tersebut beroperasi, perjalanan menuju Arab Saudi butuh waktu sekitar 40 hari menggunakan unta. Melintasi gunung dan gurun pasir. Setelah kereta api beroperasi, perjalanan makin singkat. Hanya lima hari.

Sempat muncul rencana untuk memperpanjang jaringan rel hingga menjangkau Makkah. Namun, perang dunia pertama membatalkan rencana prestisius tersebut. Beberapa stasiun dan jaringan rel hancur akibat perang. Kereta api tersebut akhirnya benar-benar berhenti beroperasi pada 1921.

Pada 1983, pengelolaan Hejaz Railway Station diserahkan pada lembaga bernama Antiquities and Museum Agency. Lalu, pada 1998, Gubernur Madinah Prince Abdul Majeed bin Abdulaziz meresmikan dimulainya proyek restorasi stasiun tersebut. Proyek tersebut dikendalikan oleh Saudi Commission for Tourism and Antiquities (SCTA). Saat itulah stasiun itu diubah menjadi museum.

Kini, museum kereta api itu menjadi satu dengan kantor Al Madina Al-Munawara Antiquities. MCH Daker Madinah juga mengunjungi kantor dua lantai tersebut. Kantor itu juga memamerkan foto-foto Madinah masa lalu. Ada pula aneka batu-batuan asli Madinah yang dikumpulkan dari berbagai masa. Misalnya, translucent quartz yang mirip berlian, harrie stone, pink quartz, dan flint stone.

”Madinah punya banyak batu unik karena dikelilingi perbukitan,’’ kata seorang penjaga museum. Selain menjadi saksi sejarah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, Madinah memang memang menyimpan potensi arkeologis bernilai seni tinggi.

Sumber: https://kemenag.go.id/berita/read/508738/hejaz-railway-museum–saksi-sejarah-kereta-api-pertama-di-madinah



Arkeolog Temukan Situs Masjid Berusia 1.000 Tahun

Arkeolog dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi (DCT Abu Dhabi) membuat penemuan spektakuler yang memberi petunjuk baru tentang sejarah Uni Emirat Arab (UEA) pada awal masa Islam. Berlokasi dekat dengan bangunan Masjid Sheikh Khalifa di Al Ain, para arkeologi menemukan beberapa falaj (saluran air irigasi), tiga bangunan, dan sebuah masjid berasal dari kekhalifahan Abbasiyah yakni 1.000 tahun lalu.

Masjid ini diperkirakan yang paling tua ditemukan di UEA. Dilansir Gulf Today, masa kekhalifahan Abbasiyah merupakan periode waktu yang membawa perubahan di UEA. Sebuah kepercayaan atau agama baru masuk dengan nilai-nilainya dan ini mengubah sejarah negara.

Ahli DCT pun terus melakukan penelitian di Al Ain dan tempat lain di Abu Dhabi dalam upaya menjelaskan lebih lanjut tentang abad-abad awal Islam. Arkeolog DCT sebelumnya sudah meneliti sebuah gereja di Pulau Sir Bani Yas.

Bangunan ini menyoroti fitur penting lain dari periode awal Islam. Salah satunya toleransi dan penerimaan agama lain yang masih menjadi ciri kehidupan di UEA saat ini.

“Temuan baru situs arkeolog di Al Ain membuktikan kekayaan sejarah di kawasan ini. Ini memungkinkan kami untuk memperluas pengetahuan tentang masa lalu,” ujar Ketua DCT Abu Dhabi Mohamed Khalifa Al Mubarak dilansir di Gulf Today, Ahad (9/9).

Penemuan masjid dari periode Abbasiyah di Al Ain menunjukkan pengaruh Islam yang sangat mengakar di daerah tersebut. Jaraknya diketahui jauh dari tempat Islam pertama kali muncul dan pada saat itu moda transportasi belum sebaik saat ini.

“Temuan ini menunjukkan pengaruh budaya dan negara tetangga melampaui batas dan mengatasi masalah transportasi. Pada gilirannya akan menunjukkan analisis lebih lanjut untuk membentuk pemahaman holistik tentang masa lalu,” lanjutnya.

Para ahli menyebut bangunan di situs tersebut terbuat dari mudbrick, yaitu sisa-sisa benteng kecil dan bangunan lainnya. Orang-orang yang tinggal di gedung-gedung ini akan memperoleh air bersih dari beberapa falaj yang dibangun di sekitar pemukiman.

Sumber: https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/09/09/persa7409-arkeolog-temukan-situs-masjid-berusia-1000-tahun



Kegiatan Ibadah Kurban 2018 / 1439 H di Darul Funun

Alhamdulillah mulai tahun 2018 ini Darul Funun memulai rangkaian kegiatan ibadah kurban di kampus Perguruan Darul Funun El-Abbasiyah, Padang Japang.

Dalam rangkaian kegiatan ini diadakan pembimbingan kepada siswa mengenai mempersiapkan rangkaian ibadah kurban dimulai dari shalat, iftar jama’i/makan bajamba dan pemotongan hewan kurban.

Kegiatan ini menjadi perhatian penting bagi Yayasan dikarenakan menjadi satu momen penting mengaitkan kegiatan belajar di kelas dengan aplikasi pada momen sebenarnya, khususnya ketika siswa berada di masyarakat nantinya.

Diharapkan siswa Darul Funun bukan hanya menjadi insan yang berilmu juga menjadi insan yang tidak canggung dan fakih dalam penerapan kefahamannya di kegiatan beragama sehari-hari.



Warisan Islam di Kota Tua Bhopal, India

Kehidupan masih berputar di Bhopal, India dengan tingkat energi yang sama seperti yang terjadi berabad-abad lalu. Jalan-jalan yang padat di Kota Tua Bhopal memancarkan udara Islam pada abad pertengahan dengan gerbang kuno yang berhadapan dengan kumpulan bangunan antik dan monumen.

Dilansir The New Indian Express, wilayah ini adalah pusat dinasti Muslim yang dipimpin oleh jenderal Afghanistan, Dost Mohammed Khan. Permata dari pemerintahannya yang berumur 200 tahun itu adalah empat penguasa wanita di tanah itu. Mereka dikenal sebagai Begums of Bhopal.

Selama mereka menjabat, yaitu dari 1817 hingga 1926, mereka membentuk Bhopal menjadi salah satu kota terindah di India. Kota ini pun mengundang pujian dari kaisar Mughal di Delhi.

Para ratu tidak hanya membentuk lanskap danau kota dengan istana, rumah bangsawan, masjid, pasar, dan monumen yang menarik perhatian. Tetapi juga memberikan penyelesaian fasilitas umum yang penting seperti pengairan, kereta api, sistem pos dan kotamadya. Sebagian besar arsitektur tersebut masih ada untuk menunjukkan sentuhan agung dan campuran gaya arsitektur yang luar biasa. Bangunan-bangunannya bertahan dari panas dan debu di Central India.

Chowk adalah jantung dari Kota Tua Bhopal. Bangunannya dengan puncak yang menjulang, siluet cembung dari kubahnya dan dinding pertahanan yang besar. Jalan raya dipenuhi dengan toko-toko dan rumah-rumah tua, dipenuhi oleh orang-orang yang berkendara. Seorang muazin mengumandangkan adzan dari masjid terdekat di kota itu.

Masjid adalah permata Bhopal. Taj-ul-Masajid — dikatakan sebagai tempat ibadah Islam terbesar di India — menempati urutan teratas. Pengaturan kolosal dengan dinding merah muda yang mewah, kubah putih dan menara-menara yang menjulang tinggi memesona. Penguasa perempuan ketiga Bhopal Shah Jehan Begum menugaskan pembangunan masjid tersebut pada akhir abad ke-19. Tetapi konstruksinya dihentikan setelah kematiannya. Pekerjaan itu pun dilanjutkan pada akhir abad ke-20.

Dua masjid lain yang menarik perhatian adalah Masjid Jama, yang terkenal karena kubahnya yang berlapis emas. Juga Masjid Moti, yang secara arsitektur menyerupai Masjid Jama di Delhi. Begums telah meninggalkan jejak arsitektur yang indah di belakangnya.

Terdapat pula masjid yang dianggap sebagai masjid terkecil di dunia. Masjid itu berdiri di atas menara batu yang telah hancur. Duly, masjid itu merupakan bagian dari benteng tua, yang sekarang menjadi rumah sakit modern.

Legenda mengatakan masjid dibangun oleh penguasa awal rezim Khan untuk penjaga benteng. Di situ dia beribadah di saat jam kerja. Untuk masuk ke dalam masjid membutuhkan dua langkah besar dan satu langkah yang relatif lebih kecil. Itulah sebabnya masjid ini secara lokal dikenal sebagai ‘Masjid Dua dan Setengah Langkah’. Warisan Islam di sini memiliki tempat baik untuk kesalehan dan kesenangan.



Ketika Dunia Terlupa Pembantaian Muslim Bosnia

‘’Mereka itu Nazi. Dia datang menembaki semua orang.’’ Fatma, perempuan setengah baya yang menjaga gerai di sebuah hotel di Sarajevo terlihat tercekat ketika menceritakan soal perang saudara yang pernah berkecamuk di negerinya. Dia berbicara lirih dan dingin seperti suara gesekan udara di akhir musim semi di ibu koa Bosnia.

’Are you Muslim,’ tanyanya. Saya pun menangguk. Perempuan dengan dua orang cucu  tersenyum manis. Dia bertanya lagi dari mana asal saya: Are you Malaysia? tukasnya. Begitu saya menyebut Indonesia, dia segera menyahut. “Ya, di sini ada Masjid Indonesia. Masjid Soeharto. Di pusat kota,’’ tukas Fatma lagi.Seperti warga Muslim Bosnia lainnya, memang masjid Indonesia yang dibangun Presiden Soeharto melekat di mata dan hati orang mereka.

Benar, tempat ibadah umat Islam yang di dalamnya terdapat  mimbar berukir sumbangan BJ Habibie, di pusat kota Sarajevo masjid karya aritek asal Bandung, Ahmad Nuqman, itu tampak  berdiri megah. Di sebelahnya ada lapangan sepakbola. Tak jauh dari masjid ada jalur trem yang membelah kota yang di dekatnya ada trotoar yang sangat enak untuk berjalan kaki. Masjid itu berada dicekungan bukit. Letaknya sebenarnya yak begitu jauh dari lapangan terbang Sarajevo. Para jejaka dan gadis berdandan modis lalu lalang di situ.

Kata warga setempat, dahulu semasa perang perbukitan di sekeliling masjid itu sangat berbahaya. Di sana bertebaran sniper dan senjata berat dari Serbia. Siapa pun yang berani masuk ke arah lapangan terbang yang searah dengan lokasi masjid tak ada yang bisa selamat. Sisa-sisa bekas perang di beberapa gedung pun masih terlihat. Meski begitu Sarajevo tetap kota yang cantik. Ciri sebuah kota megah yang pernah menjadi pusat Olimpida Musim dingin pada tahun 1982, masih terasa adanya.

Ya memang kota ini memang sekarang tentram. Tapi nun 23 tahun silam, tempat ini malah menjadi ajang konflik akibat runtuhnya Yugoslavia menjadi tujuh negara. Bekas kekuasan diktator Joseph Broz Tito hancur berkeping-keping. Celakanya tak hanya konflik, tapi perpecahan ini malah kemudian memantik perang dan pembantaian massal. Sisa konflik itu berbekas pada bekas taman di tengah kota yang menjadi tempat pekuburan masal. Taman bunga melati dan mawar sesuai perang berubah menjadi pemakaman massal. Lokasi memanjang serta meninggi ke arah sebuah bukit.

‘’Saudara saya banyak yang mati menjadi korban. Entah apa tiba-tiba Serbia datang menyerbu dan membantai seperti Nazi,’’ Fatma berulangkai mengulang kata ‘Nazi’. Tampak ada kepilaun yang mendalam di wajahnya ketika menyebut kata itu. Dan memang dari sejarahnya wilayah Bosnia atau Balkan banyak bersinggungan dengan ekspansi Hitler semasa perang dunia II.

‘’Mereka bantai kami karena Muslim,’’ ujarnya lagi. Bukan hanya itu, lanjut Fatma, tak cukup membunuh mereka juga memperkosa. Dan hasilnya setelah itu banyak perempuan Bosnia yang pikirannya terganggu dan mendapat anak hasil tindakan perkosaan.’’Mereka ingin menghilangkan darah dan keturunan asli orang Bosnia,’’ ujarnya lagi. Setelah berkata seperti itu dengan terbata Fatma membaca Alfatihah yang ternyata masih bisa diingatnya. Sesaat dia kemudian berhasil menguasai emosinya yang sempat bergejolak hebat.

Memang bekas pembantaian kini tak begitu terlihat di Sarajevo. Namun ketika pergi menuju sebuah kota kecil yang berada di sebelah timur, Srebenica, nuansa horor pembantaian dapat segera terlihat. Begitu masuk kota Srebrenica, sebuah pekuburan masal segera terlihat. Letaknya persis di pinggir jalan besar. Dalam pemakaman masal tercantum nama para korban. Semua Muslim dan ini bisa terlihat dari namanya yang memakai nama Islam meski dalam ejaan Bosnia yang agak mirip dengan bahasa Turki.

‘’Sampai kini sisa konflik masih tersisa. Orang Serbia yang melintas di dekat pemakaman masal itu kerap memancing keributan dengan membunyikan klakson mobil keras-keras. Akibatnya, warga Srebrenica banyak yang kesal dan membalas dengan melempari mobil itu,’’ kata seorang warga Bosnia yang menjadi mengelola sebuah restoran ala Turki di sebuah pinggir jalan sebelum masuk ke Srebrecina.

Tak hanya itu, dendam kesumat antara warga Serbia dan Bosnia bahkan sempat terjadi langsung di sebuah plaza. Entah mengapa tiba-tiba ada dua kelompok orang ribut sambil memakai. Tak jelas apa yang mereka pertengkarkan karena memakai bahasa lokal. Namun dari cerita orang-orang ada disekitarnya yang ikut menjaga toko, menyebutnya sebagai perterungan ‘Derbi’ (pertarungan orang sekota). Kedua kelompok itu bertengkar kata saling mengejek dan menantang. Yang satu menuduh orang Bosnia pengecut, yang satu menyebut orang Serbia penjajah dan pembantai. Perang kata-kata berlangsung cukup lama, meski tidak sampai kemudian terjadi keributan fisik.

‘’Orang Bosnia dan Serbia masih saling bertengkar ketika bertemu,’’ kata Nadeem pemandu wisata asal Belanda yang keturunan Turki. Kebetulan dia adalah saksi mata langsung tragedi pembantaian itu. Tak hanya itu Nadeem hadir sebagai relawan yang pertama pada hari-hari sesuai terjadi pembantaian dan pengungsian besar-besar Muslim Srebrenica.

’’Mengenang pembantaian itu saya pun masih emosi. Setiap datang ke sini saya sedih luar biasa,’’ ujarnya.

Pada 11 Juli 1995 atau 23 tahun silam atau sesudah tiga tahun Bosnia memasuki masa perang saudar,militer Serbia  menyerbu zona aman yang didirikan PBB di kota timur Sarajevo, yakni Srebrenica. Mereka memisahkan sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dari para wanita yang mencari perlindungan di daerah tersebut.

Setelah mengumpulkan para lelaki Musllim Bosnia, mereka membawanya ke ladang dan gudang di desa-desa sekitarnya. Di situlah tragedi terjadi. Para lelaki Serbia bersenjata ini membantai mereka selama tiga hari. Sebagian pengungsi ada yang berhasil lari, namun sebagian besar terbunuh.

Kekejaman itu terlihat jelas adanya usaha nyata yang berusaha melikuidasi penduduk Muslim Bosnia. Skenario ini sebagai bagian dari upaya untuk mengukir kebesaran Serbia setelah keluar dari reruntuhan Yugoslavia. Bosnia memilki memiliki populasi Muslim yang besar. Kroasia, dan Serbia pun begitu sebenarnya, namun dahulu tak menjadi masasalah ketika mereka masih bersatu dalam republik sosialias komunis Yugoslavia yang memang nyaris tanpa tanpa adanya mayoritas etnis. (lihat peta).

Militer Serbia di bawah komando Milosevic, Karadzic, dan para militan yang di bawah kepemimpinan Ratko Mladic, mereka  melakukan pembersihan etnis untuk membasmi sebanyak mungkin Bosnia dari bekas Yugoslavia itu. Tujuannya jelas, menguasai Bosnia dan mendirikan Serbia Raya.

Maka peristiwa pembantaian Srebrenica adalah hasil yang tak terelakkan. Tindakan pembunuhan massal ini menyampaikan pesan brutal bahwa umat Islam tidak aman di mana pun di dalam negeri itu. Bukan hanya itu saja, semenjak awal PBB dan masyarakat internasional sepertinya tidak dapat  dan tidak mau melindungi mereka.

Padahal kala itu, yakni semenjak tahun 1993 PBB sebenarnya ya telah membentuk zona demiliterisasi di Srebrenica. Organisasi dunia ini berusaha menciptakan sebuah wilayah di mana Muslim yang dipaksa keluar dari rumah mereka di tempat lain di Bosnia dapat menemukan keamanan dari serangan Serbia bila tinggal di tempat itu.

Namun, orang-orang Serbia berniat mengambil wilayah ini yang juga menjadi kantong perlawanan para Muslim Bosnia.  Bagi Serbia, mengutip sebuah memo CIA yang tidak diklasifikasikan, kala itu menggambarkan Srebrenica sebagai sebuah zona yang menyedak lehernya. Zona aman di timur Bosnia ini dipandang layaknya ‘tulang ikan di tenggorokan orang Serbia.’ Maka Serbia akhirnya nekad melakukan penyerbuan ke Srebrenica.  Mereka juga sebenarnya tahu bila penyerangan itu berisiko terjadinya pembantaian terhadap kaum Muslim Bosnia.

Nah, pada hari pekan pertama di awal Juni 1995 itulah kekejaman terjadi. Pasukan Serbia menyisir desa-desa sekitar, memaksa sekitar 20.000 Muslim Bosnia mengungsi dan keluar dari zona aman yang ada di dalam wilayah aman PBB tersebut.

Tak hanya menculik warga Bosnia, pasukan Serbia juga telah menculik 30 pasukan pemelihara perdamaian asal Belanda. Apalagi, kala itu pasukan perdamaian asal Belanda tak punya kekuatan senjata yang cukup. Selain kalah jumlah, mereka hanya dilengkai senjata seadanya sehingga tak mampu menjaga Serbenica yang dijadikan zona aman oleh PBB tersebut. Tak ayal lagi, tepat pada 6 Juli 1995 penyerbuan Srebrenica dimulai. Serbia dengan sangat jelas  tidak menghormati area aman PBB tersebut.

Pada jam-jam menjelang pembunuhan, Jendral Serbia Ratzko Mladic –yang menghadapi kini tuduhan kejahatan perang– dalam sebuah video tertawa-tawa dan membagi-bagikan permen kepada pasukannya. Seorang wartawan veteran CNN, Christiane Amanpour, sempat merekam momen itu. Hasilnya, salah satu potongan video yang dibuatnya menjadi momentum hidup Amanpour yang  paling tidak bisa dihilangkan dari ingatannya,”Gambar itu menjadi sebuah tanyangan yang paling mengerikan yang pernah saya lihat dalam hidup saya.”

Ironinya, petualangan dan kekejaman pasukan Serbia tak mendapat soroton yang layak. Komunitas internasional seakan tidak peduli. Pasukan PBB hanya sedikit sekali di Serbenica. Tempat itu yang seharusnya dijaga oleh 6.000 pasukan perdamaian, kala penyerbuan Serbia datang hanya dijaga sekitar 600 orang saja. Mereka tak berarti apa-apa karena hanya dilengkapi senjata ringan. Sedangkan pasukan Serbia menyerbu dengan senjata lengkap dan dilengkapi dengan tank serta senjata berat lainnya.

Memang ketika pasukan Mladic dan tentara Serbia Bosnia (kemudian ditulis Serbia saja, red) memasuki Srebrenica, pasukan penjaga perdamaian memasang melakukan sedikit perlawanan dan bahkan membatalkan serangan udara ketika orang-orang Serbia mengancam akan membunuh sandera Belanda mereka. Tapi mereka tak berdaya banyak. Bahkan, di kemudian hari, penjaga perdamaian ini dituduh merusak bukti video yang menandai aksi kelambanan mereka untuk menyelematkan warga Muslim Bosnia di Srebrenica.

Sebuah catatan seorang warga Bosnia, Armin Rosen, menceritakan kekejaman itu.  Katanya, “Mereka culik warga dari pengungsian serta di tembaki di sekitar wilayah Srebrenica yang berbukit-bukit. Pasukan Serbia menahan hampir semua pria Muslim yang ada di daerah itu untuk ‘interogasi’. Lebih dari 8.000 orang mereka bunuh pada hari-hari berikutnya,’’ kata Armin dalam tulisannya.

Akhirnya, dunia internasional pun tak tahan terhadap aksi kejam itu. Pembantaian itu menggugah opini internasional dan menyebabkan intervensi Amerika Serikat. NATO terpaksa masuk ke dalam perang sipil Bosnia. Alhasil, tak lama setelah penyerbuan dan pembantaian itu, bom NATO mulai dijatuhkan pada posisi Serbia.

Alhasil, fajar perdamaian mulai muncul. Pada November 1995, Milosevic dan Presiden Bosnia Alija Izetbegovic menandatangani Kesepakatan Dayton yang ditengahi AS. Kesepakatan inilah yang menjadikan Bosnia sebagai satu negara sekaligus menciptakan sebuah ‘republik’ di belakang garis depan Serbia.

Menurut The New York Times, 6.930 mayat telah diidentifikasi dari 17.000 bagian tubuh yang ditemukan di lusinan kuburan massal Srebrenica. Seorang direktur jenderal Komisi Internasional untuk Orang Hilang, menulis dalam editorial di The Guardian sempat mengatakan: “Mereka yang tewas di Srebrenica pada Juli 1995 percaya mereka bisa lolos dari pembunuhan. Mereka pikir mereka bisa menghapus identitas korban mereka secara permanen. Sayangnya anggapan mereka salah!”

Dan ini terbukti lima belas tahun kemudian, yakni pada 26 Mei 2011, Jendral Ratko Mladic ditangkap dan ditahan di Serbia sebagai tersangka dalam pembantaian di Srebrenica itu. Kemudian pada Maret lalu 2017, delapan tentara Serbia lainnya ditangkap karena dicurigai ikut serta dalam pembunuhan.

Ya itulah tragedi pembantaian baru atau genosida di abad moderen ini. Apakah orang masih peduli dan ingat? Apakah mereka dibiarkan saja karena mereka Muslim? Kalau benar celaka sekaligus ironis memang!

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/07/12/pbppxj385-ketika-dunia-terlupa-pembantaian-muslim-bosnia



Bung Karno dan Sejarah Tren Kopiah Hitam Indonesia

“Ciri khas saya…simbol nasionalisme kami.” begitulah ucap Sukarno dalam buku biografinya yang berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, yang ditulis Cindy Adams.

Saat berusia 20 tahun, Bung Karno kecil sedang duduk di belakang tukang sate. Bung Karno tegang. Perutnya mulas. Sambil menahan sakit, Sukarno mengamati banyak kawan-kawannya. Dalam pengamatannya, Bung Karno menilai bahwa kawannya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat.

Hasil itu ia temukan usai perdebatan sengit terjadi di dalam nuraninya. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” tanyanya dalam batin. “Aku seorang pemimpin.” timpalnya lagi. “Kalau begitu, buktikanlah,” balasnya. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”.

Tingkah ‘Putra Sang Fajar’ ini membuar orang-orang ternganga melihatnya. Mereka, kaum intelegensia yang membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Kemudian Bung Karno memecah sunyi.

“Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia. Merdeka,” katanya.

Namun, Bung Karno bukanlah intelektual pertama kali yang menggunakan peci. Salah satu guru Bung Karno, dr Tjipto sudah lebih dulu mengenakkan topi serupa. Pada 1913, dalam rapat Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP), di Den Haag, Belanda, Tjipto sudah mengenakkan kopiah dari beludru hitam.

Pengaruh Bung Karno ternyata begitu luas. Pada pertengahan 1932, dalam Partindo Sukarno melancarkan kampanye memakai barang-barang bikinan Indonesia, termasuk peci lurik. Hingga akhirnya peci atau kopiah hitam kemudian begitu populer.

Kecintaannya kepada peci juga bisa dilihat usai mengunjungi Pondok Pesantren Darul Funun El Abbasiyah (DFA). Sebelum kemerdekaan Inonesia, ia mengunjungi Syekh Abbas Abdullah, pemimpin ponpes tersebut. Kedatangannya untuk bertanya soal Indonesia ke depannya.

Sepulangnya dari sana Bung Karno terlihat sumringah. Ternyata ia mendapat buah tangan favorit dari Syekh Abbas. Sukarno terlihat memakai peci baru yang agak lebih tinggi. (*)



Tukar Peci Bung Karno, Titip Sila Ketuhanan

Ziarah ke Makam Syekh Abbas Abdullah, Imam Jihad Sumatera Tengah

Jika ada pertanyaan, siapa ulama asal Minangkabau yang dihormati Bung Karno? Barangkali, Syekh Abbas Abdullah adalah salah satu jawabannya. Imam Jihad Sumatera Tengah, pentolan Madrasyah Sumatera Thawalib dan pemimpin Darul Funun El-Abbasiyah ini, tidak sekadar memberi peci tinggi untuk Bung Karno. Tapi, juga menitip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Indonesia. Seperti apa sosok Syekh Abbas?

Matahari sudah condong ke barat saat Padang Ekspres bersama sastrawan peraih penghargaan SEA Write Award dari Raja Thailand, Gus tf Sakai, serta sastrawan pemegang rekor penulisan puisi dan pantun terpanjang di Indonesia, Adri Sandra, berziarah ke makam Syekh Abbas Abdullah. Makam ulama besar ini terletak di kawasan Puncakbakuang, Jorong Padangjapang, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Limapuluh Kota.

Makam Syekh Abbas berada di dekat makam ayah kandungnya, Syekh Abdullah, lebih awal tercatat sebagai ulama besar di Ranah Minang. Selain makam sang ayah, di samping makam Syekh Abbas terdapat makam dua kakaknya, yakni Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Muhammad Shalih. Kemudian, juga ada makam putra kandung Syekh Abbas, yakni H Fauzi Abbas.

”Totalnya, ada lima makam di sini. Yang paling kanan, makam Syekh Abbas,” kata Faisal El-Abbasy, cicit Syekh Abbas yang menyambut hangat kedatangan kami. Sayangnya, Faisal yang saat itu didampingi seorang mualaf asal Timor Leste tidak mau banyak bercerita soal sejarah hidup kakek buyutnya.

”Saya takut salah-salah memberi keterangan. Apalagi untuk tulisan sejarah. Mungkin lebih baik menghubungi paman saya, Dr Afifi Fauzi Abbas, dosen IAIN Bukittinggi. Beliau, selain cucu Syekh Abbas, juga dipercaya sebagai ketua Yayasan Darul Funun El-Abbasiyah, lembaga pendidikan Islam yang didirikan Syekh Abbas,” saran Faisal.

Saran serupa disampaikan sastrawan Adri Sandra yang asli putra Padangjapang. ”Kalau mau menulis soal Syekh Abbas, mungkin Dr Afifi bisa menjelaskan. Atau bisa juga menghubungi pimpinan Darul Funul El-Abbasiyah saat ini, yakni Drs Adia Putra. Kebetulan, saya masih punya hubungan keluarga dengan beliau. Nanti, kita mampir ke rumahnya,” kata Adri Sandra seraya mengajak Padang Ekspres mampir ke rumah Ustad Adia Putra.

Meski sempat ngopi di rumah alumni IAIN Imam Bonjol Padang tersebut, tapi kami tidak sempat bercerita panjang soal Syekh Abbas karena Maghrib sudah datang menjelang. Walau begitu, bukan berarti riwayat hidup Syekh Abbas tidak bisa digali. Karena berjarak beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Sabtu lalu (2/6), Padang Ekspres bertemu dengan Dr Afifi Fauzi Abbas di kawasan Tarok, Koto Nan Gadang, Payakumbuh.

Ulama Pembaharu

Dr Afifi yang saat ini menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Limapuluh Kota, lumayan luas mengetahui sejarah hidup Syekh Abbas. Kakeknya itu, menurut Afifi, lahir pada 1883 Masehi dan wafat pada 1957, dalam usia 74 tahun. ”Tentang riwayat hidup Syekh Abbas, sudah banyak yang menulisnya. Yang paling komplit itu, tulisan Fachrul Rasyid HF dan Adi Bermasa,” kata Dr Afifi, sambil menyebut nama dua wartawan senior Sumbar.

Bagi Dr Afifi, Syekh Abbas adalah sosok ulama pembaharu di Ranah Minang. Meski lahir dari lingkungan Islam tradisional, karena ayahnya Syekh Abdullah, serta saudara lelakinya Syekh Mustafa dan Syekh Muhammad Shalih, merupakan ulama tariqat. Namun, Syekh Abbas yang pernah berguru kepada Syekh Khatib Kumango dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, memiliki pandangan lebih moderat.

”Syekh Abbas dengan pengalamannya menimba ilmu agama di Mekkah dan Mesir, serta melihat pola pendidikan Islam di Timor Tengah, termasuk pernah ke Iran, berhasil mengubah pola pendidikan Islam di Minangkabau. Dari sistem pendidikan halaqah (guru duduk mengelilingi murid) menjadi sistem klasikal atau madrasah seperti kita temui sekarang ini,” kata Dr Afifi Abbas.

Hal ini juga dibenarkan Profesor Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang. Dalam diskusi terbatas dengan Padang Ekspres, Mestika menyebut, kepeloporan generasi pembaharuan Islam di Minangkabau, ditandai dalam dua gelombang. Ada gelombang pembaharuan awal abad 19. Kemudian, ada pula gelombang pembaharuan awal abad 20.

”Generasi pertama dalam gelombang pembaharuan Islam awal abad 19, dipelopori tiga haji dalam Perang Paderi. Yakni, Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang. Mereka disebut berasal dari kelompok Wahabi. Tapi, saya lebih suka menyebut mereka dari kelompok puritan,” kata Mestika.

Sedangkan bibit akhir dari generasi pembaharuan Islam awal abad 19 di Minangkabau itu, menurut Mestika Zed, sentranya berada di Padangjapang Limapuluh Kota. Yakni, di Perguruan Darul Funul El-Abbasiyah yang dipimpin Syekh Abbas sebagai kelanjutan dari surau yang didirikan ayahnya. ”Jadi Padangjapang dan Syekh Abbas itu memiliki peran penting dalam pembaharuan Islam di Minangkabau,” tukas Mestika.

Disegani Bung Karno

Peran Syekh Abbas Abdullah sebagai ulama pembaharu di Minangkabau diketahui oleh Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Buktinya, jauh sebelum memproklamirkan kemerdekaan bersama Drs Mohammad Hatta yang merupakan cucu dari Syekh Abdurrahman (ulama ini juga berasal dari Limapuluh Kota, red), Bung Karno pernah secara khusus menemui Syekh Abbas Abdullah di kampus Darul Funun El-Abbasiyah di Padangjapang.

Pertemuan Bung Karno dan Syekh Abbas berlangsung pada 1942. Tepatnya setelah Bung Karno dibebaskan Belanda dari tempat pembuanganya di Bengkulu. Pertemuan empat mata antara “singa podium” dengan ulama pembaharu itu, dicatat wartawan senior Fachrul Rasyid HF dalam sejumlah tulisannya.

Menurut Fachrul, Syekh Abbas yang bertubuh tinggi kekar dan bercambang, sempat kurang sedap menyambut kedatangan Bung Karno. Soalnya, Bung Karno yang ditemani istrinya Inggit Ganarsih, datang terlambat. Padahal, warga dan siswa sudah capek menanti. ”Kalau begini nanti kau memimpin negara ini, rakyat akan kecewa. Negara akan binasa,” kata Syekh Abbas.

Bung Karno, yang paham watak keras Syekh Abbas, menurut cerita yang didengar Fachrul dari masyarakat dan keluarga syekh, cuma tersenyum dan menunduk. Mereka berdua kemudian masuk ke kamar kerja Syekh Abbas. Hampir tiga jam berbicara empat mata. Sementara itu, Ibu Inggit (istri Soekarno) dan anak angkatnya ditemani Nurjani dan Zuraida, keponakan syekh, berbincang di ruang tamu,” tulis Fachrul Rasyid dalam laporan jurnalistik di Majalah Gatra.

Saat menemui Syekh Abbas di Padangjapang, Bung Karno mendapat hadiah berupa peci dengan ukuran lebih tinggi. Sebelumnya, peci Bung Karno berukuran pendek. Menariknya, saat memberikan peci kepada Bung Karno, Syekh Abbas sempat berpesan. ”Kamu harus berhati-hati terhadap kaum komunis dan sekuler yang akan menghancurkan bangsa ini. Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa Indonesia ini mayoritas umat Islam,” pesan Syekh Abbas.

Selain meminta hati-hati terhadap bahaya komunis dan sekuler, Syekh Abbas yang diminta pendapat oleh Bung Karno tentang konsep dasar-dasar dan penyelenggaraan negara, juga menitip pesan bahwa negara Indonesia yang akan didirikan haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pesan Syekh Abbas ini yang diyakini banyak pihak, dituangkan Bung Karno dalam sila pertama Pancasila yang dipidatokan pada 1 Juni 1945. (*)

Sumber: https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/105618/Tukar_Peci_Bung_Karno,_Titip_Sila_Ketuhanan

Editor : Elsy Maisany
Sumber Berita : Fajarillah Vesky – Padang Ekspres



Beasiswa Baznas untuk Siswa DFA yang mendapat PMDK

Alhamdulillah Darulfunun dan warganya senantiasa diberi keberkahan oleh Allah.

Tidak lama setelah acara perpisahan kelas XII, BAZNAS Kabupaten Limapuluhkota memberikan beasiswa untuk para siswa yang mendapat kesempatan PMDK di berbagai PTN.

Beasiswa ini diharapkan mampu membantu para siswa untuk menyelesaikan rencana perkuliahannya.

Serah terima beasiswa ini diwakili oleh Bapak Ketua Yayasan Darulfunun El-Abbasiyah.



Tarhib Ramadhan 2018

Marhaban Ramadhan

Warga Indonesia di Selangor, Malaysia pada hari minggu tanggal 6 Mei 2018 berkumpul di Surau Al-Kautsar Seksyen 4 Bandar Baru Bangi.

Acara Tarhib Ramadhan 2018 yang dihadiri oleh 100 warga dari berbagai profesi ini mengangkat tema “Ramadhan di Timur Tengah, Eropa dan Nusantara”, dengan pembicara Ust Muklis Bakri, Ust Arif Abdullah dan dimoderator oleh Ust Satria Abadi. Tema ini diangkat sebagai penyegar dan penyemangat bagi kita untuk merencanakan kegiatan Ramadhan dalam rangka berlomba-lomba melakukan kebaikan, fastabiqul khairat.

Dalam acara ini juga diinfokan kegiatan-kegiatan Tarhib Ramadhan sepanjang bulan Ramadhan, yang diantaranya adalah buka puasa bersama, penggalangan zakat dan infaq, hingga perayaan dan silaturahmi Iedul Fitri.

Berdasarkan informasi dari panitia Tarhib Ramadhan, Forkommi (Forum Komunikasi Muslim Indonesia) dan Fokma (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia), acara ini diadakan agar para masyarakat Indonesia di perantauan dapat memaksimalkan bulan ramadhan dan juga mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahmi antar warga Indonesia di perantauan.



Musyawarah Ulama Pesantren

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak mengadakan Musyawarah Ulama Pesantren dengn tem Mendialogkan Praktek Sunat Perempuan di Indonesia.

Acara yang berlangsung di Hotel Novotel Bogor pada tanggal 2-3 Mei 2018 ini juga bersamaan dengan acara pertemuan Ulama se-dunia yang diadakan oleh Kementerian Agama.

Acara yang mengundang ulama-ulama fiqh pesantren se-Indonesia ini mendatangkan narasumber Prof A Raghab MD PhD yang menyertai rombongan Al-Azhar, Kairo dengan memaparkan Sunat Perempuan dalam perspektif Agama dan Medis, pengalaman dari Mesir.

Dalam musyawarah ini Pesantren Darul Funun El-Abbasiyah diwakili oleh Ketua Yayasan Dr Afifi Fauzi Abbas, MA yang merupakan ulama fiqih dan pengajar ushul fiqih di UIN Syarif Hidayatullah dan kini di IAIN Bukittinggi.

Musyawarah ini memberikan perspektif bahwa sunat perempuan tidak dihukumi wajib tapi boleh (mubah). Tidak boleh memotong secara keseluruhan, tetapi cukup hanya menggores sedikit dan yang melakukannya harus petugas medis terlatih dengan memperhatikan kebersihan dan kesehatannya.

Sunat perempuan adalah menggores klitoris perempuan setelah kelahirannya tanpa melukai dalam rangka kebersihan. Hukumnya sunat bagi anak perempuan mubah boleh dilakukan dan boleh juga ditinggalkan. Kalau menimbulkan mudarat baik fisik maupun psikhis hukumnya jadi haram. Sunat perempuan tidak sama dengan FGM (Female Genital Mutilation), pemotongan secara keseluruhan yang dikecam di negara barat, karena FGM dengan tipe apapun adalah melukai atau memotong atau membuang, yang dapat memberikan kemudharatan.

Dalam acara ini juga disaksikan oleh Imam Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar.



Pengajian dan Penyerahan Waqaf Quran di Masjid Djami’ Sholihin, Mungka

Penyerahan Waqaf Al-Quran pada kegiatan pengajian di Masjid Djami’ Sholihin, Padang Bajang Kec. Mungka Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat. Penyerahan ini dilakukan oleh sukarelawan Aamil di Kab. Limapuluhkota Buya Afifi.

Program waqaf Al-Quran ini adalah program yang sudah berjalan sejak tahun 2017, program ini diharapkan menjadi bekal semangat dan modal untuk para dai, lembaga dakwah dan surau di kabupaten limapuluhkota. Sampai saat ini sudah 1300 Al-Quran sudah didistribusikan melalui program ini.

Semoga waqaf ini bermanfaat bagi yang menerimanya dan para muwaqif mendapat pahala amal jariyah.

Informasi penggalangan dana waqaf: www.kitabisa.com/waqafquran