All posts by admin

Ujian Para Pemimpin Negeri

Oleh : Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Syahdan, suatu saat akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Kapan? “Ketika para pendusta dipercaya, sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanat, sementara orang yang amanat dianggap khianat.” Demikian sabda Nabi dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah.

Nabi juga mengindikasikan pada situasi kehidupan yang anomali itu, akan tampil sosok-sosok yang disebut Ruwaibidhah. Sahabat bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu”? Baginda Rasul menjawab, yakni “Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR. Ahmad).

Ketika para elite suatu negeri memiliki perangai Ruwaibidhah, maka sejak itulah kekisruhan berbangsa datang silih berganti. Maka, betapa penting isi hati dan kepala para pemimpin yang berongga luas dan kaya. Luas dan kaya ruhani, wawasan, serta pola tindak yang mengandung serba kebajikan layaknya para pemimpin sejati berbingkai kerisalahan. Bukan para petinggi negeri yang kerdil visi dan ruhani.

Para pendiri bangsa di Republik ini dikenal sebagai sosok-sosok negarawan yang cerdas dan menjunjung tinggi kebajikan. Bung Karno, Hatta, Natsir, Kasimo, Ki Bagus Hadikusumo meski sering berbeda pandangan, mereka saling menaruh percaya. Bahkan, tatkala Soekarno tengah berbenturan keras dengan kalangan Islam di tengah badai politik nasional yang kian memanas, tokoh sentral Indonesia itu masih kukuh menetapkan Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Para pemimpin sejati dan negarawan memang memiliki karakter utama, ucapannya dapat dipegang lahir dan batin. Mereka pecinta nilai-nilai kebajikan utama. Sekali mereka berjanji dan mengikrarkan satu hal, mereka menepatinya. Sikapnya kesatria, berani berkorban demi penyelamatan bangsa. Bung Hatta di puncak pengabdiannya lebih memilih uzlah dari kekuasaan yang mulai pongah demi keutuhan negeri.

Nilai kebajikan

Para pemimpin negeri selalu diuji Tuhan atas jabatan dan kekuasaannya. Bahwa jabatan itu mandat, bukan pulung atau anugerah gratis kekuasaan. Mandat itu amanat yang mesti ditunaikan dengan keterpercayaan tinggi. Dalam menunaikan amanat itu para pemimpin bukan sekadar menunaikan tugas-tugas fungsional, lebih-lebih yang bersifat praktis; tetapi tidak kalah pentingnya menegakkan nilai-nilai ideal kehidupan. Bagimana mengurus negeri dengan prinsip-prinsip bernegara yang benar.

Menjadi para pemimpin partai politik pun tak perlu angkuh diri seakan kekuasaannya milik sendiri dan lepas dari pertanggungjawaban publik. Kedudukan politik tersebut merupakan mandat rakyat, bukan warisan dinasti atau pusaka yang berkeramat. Bukan pula sebagai kendaraan kekuasaan belaka, yang boleh dioperasikan dengan semaunya sendiri. Jadikan partai politik dan kekuasaan sebagai wahana sebesar-besarnya untuk mengurus hajat hidup dan kebajikan publik.

Negara dan kekuasaan itu menurut Plato harus melandaskan diri pada kebajikan, sedangkan kebajikan ditopang pengetahuan. Artinya, dalam mengurus negara tidak boleh lepas dari dasar-dasar kebajikan yang kaya ruhani dan persepektif. Mengurus negara bukan sekadar membangun jagad fisik, tetapi juga ruhani bangsa. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”, demikian frasa dalam lagu Indonesia Raya. Maka para pemimpin dan pejabat negara harus memiliki idealisasi kebajikan di dalam dirinya dan dalam mengurus negerinya.

Persoalan bangsa biasanya dimulai ketika para pemimpin negeri kehilangan nilai kebajikan yang mesti ditepatinya dalam kata dan laku. Berikrar tidak akan membela yang salah, malah mengerahkan segala daya dan kekuatan untuk menjadikannya bertahta. Suara lirih hingga nyaring tentang pentingnya nilai-nilai utama dalam mengurus kehidupan orang banyak malah tak mengusik hati karena kuatnya rasa digdaya. Mata air kebenaran tak mampu menggugah kesadaran yang membatu.

Karena prinsip kebajikan, maka para pemimpin negeri memiliki sifat futuwah yang memancarkan jiwa kesatriaan atau kenegarawanan. Dia bunuh ego dan kepentingan sempit dirinya demi kemaslahatan yang lebih luas. Dia legawa menerima apapun yang positif jika hal itu untuk kepentingan bangsa dan negara. Sebaliknya, dia lepas apapun yang dapat menjadi benih kerusakan di tubuh bangsa, meski menyangkut orang terdekat. Belajar adil meskipun pahit.

Pemimpin agama pun harus menunjukkan teladan dalam menegakkan nilai-nilai kebaikan. Para tokoh agama dengan ilmu agamanya yang kental jangan larut dalam pesona kebenaran semu karena tingginya hasrat kuasa, kepentingan, dan pesona inderawi. Melarang orang lain mempermainkan dan mempolitisasi Tuhan, Nabi, dan kitab suci malah diri sendiri melakukan hal sama demi kepentingan sesaat. Sama-sama menjual agama dengan harga termurah, samanan qalila.

Mati kesadaran

Para pemimpin bajik biasanya bertumpu pada kebenaran nurani, selain rasionalitas yang jernih dan cerdas. Nabi mengajarkan agar bertanya pada nurani ketika diri bimbang antara benar dan salah. Hati itu biasanya bening, tak bisa dibohongi. Meski lidah berkata benar dan baik, tetapi hati tak pernah dusta manakala yang terjadi sesungguhnya salah dan buruk. Allah menciptakan hati autentik atau qalbu salim senapas dengan pikiran jernih, yang sama-sama jujur menyuarakan kebenaran dan kebaikan sejati dari Dzat Ilahi.

Namun, biasanya suara hati dan pikiran hati yang jernih sering dikalahkan oleh hawa nafsu yang membara. Nafsu duniawai atau inderawi yang haus akan kedigdayaan ego diri, harta atau materi, dan tahta yang membara melebihi takaran. Pesona duniawi yang satu ini tak kenal agama, suku, ras, dan golongan. Kalangan agama pun bisa terjangkiti, bahkan dengan sumir maupun terbuka dengan menggunakan dalil kitab suci, nabi, dan Tuhan yang boleh jadi jauh lebih “khusyuk” ketimbang orang sekuler karena mengalami “sakralisasi”.

Ulah ugal-ugalan orang “sekuler” maupun “beriman” yang mematikan suara hati yang jernih sama hasilnya, melahirkan kegaduhan hidup bersama. Mereka biasanya muka badak di jalan salah dengan keyakinan tinggi merasa berada paling benar. Bedanya yang satu memakai nalar verbal yang tampak cerdas di permukaan tetapi sesungguhnya mengecoh kebenaran. Satunya lagi berbingkai dalil agama yang kental ditunjang retorika indah dalam alfabeta “kesucian” yang semu dan memetikan kebenaran hakiki. Menjadi pemimpin kaum beriman malah kasar hati dan mengecoh umat.

Dibalut hawa nafsu sesaat, tidak jarang pikiran verbal menyesatkan pikiran dan tindakan jernih yang bersarang di hati. Meras berada dalam bungkai jiwa berpikir merdeka, yang mencuat malahan pilihan kerdil. Bertahan dalam kebenaran absurd, yang mewujud justru keangkuhan diri. Merasa menjadi insan cendekia atau ulama yang jumawa, tetapi ujaran dan hasil tindakannya kerdil menyalahi kebenaran dan kebajikan yang sublim. Mereka gampang berpandangan ekstrem, padahal Tuhan mengingatkan bahwa ciri ulil-albab dan orang yang memperoleh hidayah ialah “yang mendengar setiap pendapat lalu mengikuti mana yang terbaik di antaranya” (QS Az-Zumar: 18).

Nalar verbal berbalut nafsu sesaat seringkali mengicuh. Asal kontroversial dan menyempal dari arus umum disebut maju dan melintasi. Tidak pernah dipersoalkan substansi dan hakikat ujarannya. Sudah tahu salah tetap dijalani dan didukung karena yang ada di pikiran adalah kalkulasi-kalkulasi kegunaan yang sarat kepentingan. Kebenaran hanya dilihat dari luar secara verbal, tak pernah diselami hingga ke lubuk terdalam yang hakiki.

Dunia hanya dicanda dengan nalar syariat yang kering, tanpa masuk ke lubuk hakikat dan makrifat untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi! Karena matahati tertutup hawa nafsu dan nalar verbal yang mengecoh, maka yang tampil adalah sosok-sosok bebal diri yang mati kesadaran ruhaninya. Mereka merasa digdaya atas nama apapun, lalu tebal muka dan tak mau diberi peringatan berbuah kebenaran dan kebaikan yang utama.

Mereka tumpul akal dan ruhaninya dalam membaca tanda-tanda zaman yang diisyaratkan Tuhan. Semua baru tersentak setelah apa yang terjadi sungguh mengejutkan dan di luar perkiraan, bahwa takdir Allah menentukan jalannya sendiri (QS Al-Hadid: 22): bahwa tidak ada suatu kejadian apapun yang menimpamu kecuali atas ketentuan-Nya, dan bagi Allah semuanya mudah!

Red: Agus Yulianto
REPUBLIKA.CO.ID, Ahad, 23 April 2017 | 12:55 WIB



Rapat Sinergi 2019

Alhamdulillah rapat sinergi 2019 Darul Funun El-Abbasiyah di Perguruan Darul Funun yang diwakili seluruh entitas dan wakil elemen Darul Funun: Yayasan, Perguruan, Aamil dan Institute.

Bismillah, mari kita sambut 2019/2020 dengan amal aktifitas yang bersinergi, semoga Allah berikan keberkahan.



Pengukuhan Buya: Drs Adiaputra dan Dr Afifi Fauzi Abbas

Pemberian penghargaan dan pengukuhan gelar kehormatan BUYA Darul Funun El-Abbasiyah kepada dua tokoh figur yang telah lama mengabdi dan membangun Darul Funun El-Abbasiyah.

1. BUYA Dr H Afifi Fauzi Abbas, MA ( Pimpinan Institut dan Ketua Dewan Pembina Yayasan)

2. BUYA Drs H Adiaputra (Pimpinan Perguruan dan Dewan Pembina Yayasan)

Semoga Allah memudahkan tanggung jawab lebih yang diberikan dan memberikan penghargaan atas keikhlasan dan dedikasinya selama ini.



Penutupan Program Wakaf 1000 Al Quran tahun 2018

(Laporan penutup program Waqaf 1000 Al-Quran 2018)

Alhamdulillah, kita patut bersyukur Allah masih memberikan kita kesempatan dan upaya untuk menyelesaikan amanah penggalangan dan distribusi Wakaf 1000 Al-Quran untuk tahun 2018.

Kita dapat berusaha, dan hasil kita serahkan kepada Allah SWT.

Sejak dimulai pada tahun 2016 dengan bendera KIBAR-UK (Keluarga Islam Indonesia Britania Raya), kemudian bekerjasama dengan C4I (Coins for Indonesia) yang meluaskan jangkauan distribusi dari Sabang hingga Merauke, bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Darul Funun El-Abbasiyah dan pengajian Muhammadiyah Limapuluhkota untuk daerah-daerah pelosok yang sulit terjangkau.

Dengan ini, inisiasi Wakaf 1000 Al-Quran akan memasuki tahun keempat, dan ditahun ini pula kami selaku inisiator Individu merasakan berat dan sulitnya bergerak dengan keterbatasan diri, maka di tahun keempat ini kami akan menitipkan inisiasi Wakaf 1000 Al-Quran akan dilanjutkan bersama-sama oleh Aamil Darulfunun.

Di tahun 2018 ini selain kepada pelajar, santri dan siswa TPA, kami juga mencoba mendistribusikan Wakaf Al-Quran ke Musholla-Musholla yang sedang dibangun sebagai tambahan semangat dan motivasi.

Sebagaimana highlight yang kami berikan di awal inisiasi program ini adalah pertama, keterbatasan masyarakat umum terhadap makna dan terjemah Al-Quran menjadikan urgensinya upaya memberikan akses Al-Quran terjemah untuk dapat dimaknai dengan praktis oleh masyarakat umum. Kedua, kurang dan terbatasnya prioritas memiliki Al-Quran pribadi di saat remaja, menjadikan program ini diprioritaskan didistribusikan ke kalangan remaja di Sekolah, Madrasah, TPA, Masjid dan Musholla, dan ukuran Al-Quran saku menjadi kepraktisan bagi pelajar tsb.

Kami berharap amal jariyah ini dapat ditingkatkan lagi, dan distribusi wakaf dapat menyentuh pelosok-pelosok negeri, dan semoga dapat memberi keberkahan kepada penerima dan muwakif, insyaallah. Dan kami juga memohon dukungan dan bantuan untuk mensukseskan program ini di dalam koordinasi Aamil Darulfunun.

Untuk penggalangan di tahun 2019 ini akan diinformasikan dikemudian hari.

Akhir kata, jazakallah khayran kepada para shalihin yang telah mempercayakan wakafnya selama ini, dan semoga Allah memberkahi baik yang menjadi mawakif maupun yang membantu terwujudnya upaya ini.

—–

Arif Abdullah A
Inisiator Wakaf 1000 Al-Quran



Pendaftaran Santri Baru 2019/2020

Pendaftaran Santri Baru untuk tahun ajaran 2019-2020 sudah dibuka, kepada orang tua dan calon santri dipersilakan mendaftar dengan datang ke Perguruan.

Pendaftaran dibuka untuk jenjang:
1. Madrasah Tsanawiyah
2. Madrasah Aliyah

Tersedia asrama untuk:
1. Darulfunun Putra
2. Darulfunun Putri
*jarak yang sangat dekat ke sekolah dan masjid

Alamat: Jl. Tanjuang Rongik, Padang Japang, 
VII Koto Talago, Guguak, Lima Puluh Kota, 
Sumatera Barat 26253

Informasi: 0752-97738

Gelombang I
Pendaftaran 2 Februari – 17 Maret 2019
Tes 17 Maret 2019
Pengumuman 19 Maret 2019
Daftar Ulang 19 Maret – 30 Maret 2019

Gelombang II
Pendaftaran 1 April – 8 Juni 2019
Tes 9 Juni 2019
Pengumuman 11 Juni 2019
Daftar Ulang 11 Juni – 30 Juni 2019

Syarat Pendaftaran:

  1. Biaya Pendaftaran
  2. Fotokopi Raport
  3. 2x pas foto 3×4
  4. 2x pas foto 2×3

Pendaftaran Ulang:

  1. Bukti Pendaftaran
  2. Fc Kartu NIS
  3. Fc Akte Kelahiran
  4. Fc Kartu Keluarga
  5. Fc Piagam/Sertifikat (jika ada)
  6. Fc KPS, PKH, KKS, dan KIP (jika ada)
  7. Biaya SPP, Asrama dan Seragam
  8. Kesanggupan Wakaf Orang Tua


Kunjungan Bpk Kivlan Zein ke Situs Bersejarah Perjuangan Islam

Kunjungan Bpk Purn Mayjen TNI Kivlan Zein ke Situs Bersejarah Perjuangan Islam Kompleks Darul Funun El-Abbasiyah, dan menyempatkan diri memberikan tausiah di Masjid Raya Padang Japang.

Kunjungan beliau ini disambut antusias oleh siswa dan masyarakat. Dalam kunjungan ini disempat juga takziah ke pemakaman beliau-beliau Tuanku Darul Funun.



Distribusi Waqaf Al-Quran di Situjuh Bandar Dalam

Distribusi waqaf al-quran di Masjid Situjuh Bandar Dalam sebanyak 20 buah, Musholla Gurun sebanyak 10 buah, Musholla Subarang Tabek sebanyak 10 buah, dan Musholla Puncak Subarang Tabek sebanyak 10 buah.

Semoga bermanfaat bagi jamaah, dan menjadi wasilah bagi yang membaca dan para muwakif yang memberikan.

Jazakallah khairan katsiran.



Pemilahan Sampah Plastik di Area Asrama

Mengawali tahun 2019 dengan percobaan aktivitas pemilahan sampah plastik di area Asrama Putra.

Saat ini disediakan dua buah tong sampah sebagai tempat pembakaran sampah plastik, dan akan ditambah perlahan-lahan sambil membiasakan dalam pengalokasian sampah ini.

Harapannya dengan ini, area pembuangan sampah dapat di lokalisir dan tidak menjadi polutan dengan lingkungan sekitar.



Penjaga Al-Aqsho Terakhir

The Last Ottoman Stand

By Saief Alemdar

Katanya, ada seorang Kopral Ottoman yang menolak untuk meninggalkan tugasnya di Kudus ketika ditarik untuk kembali ke negara Turki, sampai akhirnya sang Kopral dengan suka rela meninggalkan tempat tugasnya itu ketika Rabb nya memanggilnya pada tahun 1982. Ketika ditanya kenapa tidak mau meninggalkan pos penjagaan itu? ia menjawab, “Saya takut Rasulullah akan sedih kalau tau tidak ada lagi yang menjaga masjid ini, Kiblat pertama dan masjid suci ketiga umat Islam”.

Ya, namanya Kopral Hasan Igdirli (93 yo), the Last Ottoman Stand, prajurit Ottoman terakhir yang meninggalkan tugasnya menjaga masjid Aqsha pada tahun 1982, bukan kembali ke negaranya Turki, tetapi kembali ke Rabb nya. Kisah ini ditulis oleh seorang jurnalis Turki, Elhan Bardagi, yang sedang berkunjung ke Qudus bersama para delegasi jurnalis Turki pada tahun 1972 dan tanpa sengaja bertemu dengan Kopral Hasan selepas sholat Jumat.

Ketika itu, Bardagi sedang berjalan-jalan di sekitar masjid Aqsha, dan berjalan menuju ke halaman atas yang disebut dengan halaman “12 ribu lilin”. Dinamakan halaman “12 ribu lilin” karena dulu, ketika Sultan Selim l memasuki Qudus untuk pertama kali pada tahun 1516 menyalakan 12 ribu lilin di halaman itu, dan disanalah tentara Ottoman melaksanakan sholat Isya yang diterangi oleh cahaya 12 ribu lilin.

Tidak jauh dari situ, Bardagi melihat seorang lelaki berumur 80-an memakai pakaian tentara Ottoman yang sudah lusuh dan banyak bekas jahitan. Melihat laki-laki itu, Bardagi menanyakan kepada guide, kata guide, “Sejak aku kecil, aku sudha melihat laki-laki itu berdiri disitu seperti patung menghadap ke masjid dari pagi sampai sore. Dia tidak pernah berbicara kepada siapapun. Sepertinya sih orang gila”.

Bardagi mendekati laki-laki itu dan menyapanya dengan bahasa Turki, laki-laki itu menjawab dengan bahasa Turki dengan logat Anatolia yang masih sangat kental. Bardagi terkejut, berbagai pertanyaan muncul di benaknya, apa benar ini orang Turki? apa yang dia lakukan disini? kemudian Bardagi bertanya lebih jauh tentang laki-laki itu.

Laki-laki tua itu mengatakan, “Ketika negara kita kalah dalam perang pada tahun 1917, agar tidak terjadi penjarahan di kota Qudus, pemerintah Ottoman meninggalkan 1 peleton pasukan di Qudus sampai masuknya pasukan Inggris ke Qudus. Aku memohon kepada Komandan untuk dimasukkan dalam peleton tersebut dan menolak kembali ke Turki. Namaku Kopral Hasan Igdirli, dari Korps 20, Brigade 36, Batalyon 8, Peleton Infanteri 11”

“Kami yang berjumlah 53 orang memutuskan untuk menetap di Qudus agar nanti saudara-saudara kita orang Palestina tidak mengatakan bahwa Ottoman telah meninggalkan Palestina. Kami tidak ingin Sultan para Nabi, Nabi kita menangis dan sedih”.

“Waktupun berlalu dengan cepat, para sahabatku pun telah meninggal satu per satu, kami tidak ditaklukkan oleh tentara musuh, tetapi kami dikalahkan oleh maut dan takdir Ilahi”.

Kata Bardagi, Hasan Affandi meminta satu permintaan kepaku dan memohon agar aku melaksanakan permintaan itu, “ Anakku, kalau kamu kembali ke Turki, pergilah ke desa Sanjak Tukat, temui disana Kapten Musthafa, dialah yang menugaskanku sebagai pengawal masjid Aqsha, dialah yang meletakkan amanah besar ini di pundakku. Ketika bertemu dengannya, ciumlah tangannya untukku, dan sampaikan padanya bahwa Kopral Hasan Igdirli, Komandan peleton 11 yang ditugaskan menjaga masjid Aqsha masih menjalankan tugasnya sebagaimana yang anda perintahkan dulu, dan tidak pernah meninggalkan posnya, dan Kopral Hasan memohon doa dari anda”.

Kata Bardagi, karena dia tahu aku datang dari Istanbul, dia menanyakan “Apa kabar negara kita?”. Aku bingung mau menjawab apa, aku tidak tega mengatakan bahwa negara Ottoman itu telah dihancurkan oleh Inggris, Perancis, dan Armenia. Kukatakan, “Negara kita baik-baik saja”.

“Kalau baik-baik saja kenapa mereka tidak datang kesini dan membebaskan Qudus dari para kafir Yahudi?”, kata Hasan Afandi dengan suara tegas.

“Inshallah suatu hari mereka akan kembali…”

Akupun pamitan kepada Kopral Hasan, kucium tangannya dan kupeluk erat badannya yang sudah renta itu sambil menangis. “Sampaikan salamku kepada Istanbul”, kata Kopral Hasan.

Sebelum kembali, ku ceritakan kepada guide ku siapa laki-laki yang dikira gila itu, dank u berikan alamatku kepada guide itu dan memintanya agar memberitahuku kabar Kopral Hasan. Dalam perjalanan kembali ke Istanbul aku masih belum bisa percaya kalau seorang prajurit Ottoman masih bertugas di Qudus menjaga masjid sejak tahun 1917!.

Ketika sampai di Turki, aku pergi ke desa Sanjak Tukat di Antolia, aku berhasil mendapatkan alamat Kapten Musthafa setelah menghubungi berbagai pihak. Aku pun tiba di desa itu, tetapi sayangnya aku tidak dapat memenuhi janjiku kepada Kopral Hasan, karena Kapten Musthafa telah meninggal belasna tahun yang lalu.

Pad atahun 1982, ketika aku bertugas di Kantor Berita Turki, aku menerima sepucut surat dari Qudus, ternyata dari guide yang 10 tahun lalu menemaniku, dalam surat itu tertulis, “Telah meninggal dunia prajurit terkahir penjaga masjid Aqsha” 🙁



Para Penggembala Kambing

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang di riwayatkan oleh Al-Imam Bukhori dan lain-lain dengan sanadnya dari Abu Hurairoh menerangkan bahwasanya hampir setiap Nabi pernah mengalami menggembala kambing. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ”. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: “وَأَنْتَ؟”. فَقَالَ: “نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ”.

— (00:48) ma ba’asallahu nabiyan, illa ra’al ghonam. faqoola ashaabuhu,  “wa anta?”. faqoola, kuntu ar’aha ‘ala qorooritho li ahli makkah.

“Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang Nabipun kecuali pasti dia pernah menggembala kambing”. Maka para sahabat bertanya: “Engkaupun begitu wahai Rasulullah?” Rasul bersabda: “Ya, aku dulu menggembala kambing untuk para penduduk Makkah di tempat-tempat menggembalanya”. (HR. Bukhari)  [1]

Tahukah kita apa hikmah dari menggembala kambing tersebut yang di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala khususkan para Nabi, bahkan setiap Nabi untuk mengalaminya?

Ternyata ulama mentafsirkan bahwasanya kambing dapat difahami dari hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain. Bahwasanya kambing sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori, Muslim, dari Abu Hurairoh, Abi Mas’ud dan lain-lain. Di mana Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ عِنْدَ أهلِ الخيلِ والإبلِ
— (1:51) al fahr wa huyala ‘inda alhlil khoimi wal khuyala ‘inda ahlil khoimi wa ibil

“Kesombongan dan kekerasan hati itu ada pada para penggembala unta dan kuda. [2]

وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَصْحَابِ الشَّاءِ

— (2:05) wa sakinah wal waqr fil ashabil  syaai.

Adapun ketenangan hati, kerendahan hati terdapat pada para penggembala kambing”. [3]

Mengapa demikian?

Dikatakan oleh para ulama bahwasanya kekerasan yang ada pada unta dan kuda ini, berefek kepada para penggembalanya. Di mana terlihat jelas kebanggan pada hewan-hewan tersebut, unta dan kuda yang membusungkan dadanya terlihat begitu menyombongkan dirinya. Begitu luar biasa menyombongkan dirinya. Kemudian kekuatannya yang luar biasa yang dengan itu Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan banyak manfaat pada manusia. Namun karena banyak atau sering bergaul dengan hewan demikian maka berefeklah kepada jiwa-jiwa orang yang menggembalakannya, sering kali.

Adapun pada orang-orang yang biasa menggembala kambing dengan sifat-sifatnya. Kambing adalah satu sisi bukanlah hewan yang sangat kuat sebagaimana kuda dan unta. Namun kambing memiliki sifat tidak bisa dia di persatukan dengan mudah. Tidak sebagaimana  seseorang menggembala bebek atau ayam, ketika kita mengambil pemimpinnya maka yang lain akan mengikutinya. Begitu pun kuda dan unta, ketika kita menguasai pemimpinnya maka yang lain akan mengikutinya.

Adapun kambing tidak demikian, setiap ekor kambing memiliki otak masing-masing yang tidak bisa satu menjadi pemimpin sehingga di ikuti yang lain, tidak, sehingga membutuhkan kesabaran lebih dalam mengaturnya, kesabaran lebih, kekuatan lebih dalam mengaturnya.

Orang yang terbiasa terlatih dalam mengasuh dan menggembala kambing demikian. Maka dengan itu di harapkan darinya akan datang pada dirinya sifat sabar yang dengan itu dia dapat mengasuh, mendidik ummatnya sebagaimana para Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber: https://catatankajian.com/1601-para-penggembala-kambing-ustadz-riyadh-bin-badr-bajrey.html